Thursday, 26 February 2015

Because I'm Jealous #7


Setelah sekian lama, akhirnya saya menulis ff ini lagi. Agak buntung ide sama ff ini, tapi berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa melanjutkan ff ini #abaikan ini lebay. Terimakasih para reader yang telah membaca ff ku ini dari awal sampai akhir. Maafkan penulis jika ceritanya bikin bete atau enggak seru atau apalah karena penulis hanya manusia biasa.

Saya ingin meminta pendapat, saran atau kritik dari para pembaca. Karena pendapat kalian berarti untuk penulis. Anda bisa coment di bawah kolom komen dihalaman ini atau bisa juga di twitter: @vidiyaannisa_ terimakasih 😊 selamat membaca 😊


Vale tengah membuka tas gitarnya dan sudah mempersiapkan lagunya. Tapi setelah ia berfikir kembali ia mengurungkan niatnya. Di masukannya kembali gitar itu.

"Lho, gak jadi?" Stella terheran.

"Sorry, mungkin jika aku menyanyikan lagu untukmu itu terlihat basi. Aku hanya mau terus terang saja padamu."

Terus terang untuk apa? - pikir Stella.


"Kita udah kenal lama. Aku dan kamu sudah pernah menjalin hubungan dan kandas karena pembicaraan orang yang tidak-tidak. Tapi kamu percaya, sejujurnya aku tidak pernah berbuat seperti orang lain katakan. Saat itu kamu mengakhiri semua hubungan dengan ku, aku ingin menjelaskan semuanya tapi aku tahu kamu tidak akan percaya dengan ucapanku. Aku pikir ini tidak adil kamu mengakhiri hubungan sebelah pihak karena saat itu aku tidak mau berpisah denganmu. Sampai akhirnya kita bertemu lagi di perpusatan perbelanjaan, dan kamu sudah tahu bagaimana hubungan ku dengan Linda sekarang. Aku fikir, kamu telah membuatku nyaman. Aku sayang kamu."


"Apakah masih bisa?" Lanjutnya.

Wajah Stella tak bisa di gambarkan. Entah bagaimana perasaannya sekarang, hubungan percintaannya mirip sekali dengan Vale dengan Linda. Tapi yang ada dipikirannya sekarang apakah ia mau menerima Vale kembali atau tidak? Jujur, itu pilihan yang sangat sulit. Orang lain suka berkata, jika kamu kembali dengan masa lalumu, itu sama saja dengan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi apakah kesalahan Vale waktu itu? Aku yang mengakhiri dan ternyata selama ini aku telah salah sangka padanya

"Bagaimana? Katakan yang sejujurnya saja." Ucap Vale.

"Selama ini aku telah salah sangka padamu. Maafkan aku yang lebih mendengarkan orang lain daripada kamu. Aku fikir kita bisa melanjutkan kembali hubungan yang dulu."

Vale langsung memeluk Stella dengan erat. Rasanya tak ingin ia lepas.

"Sebenarnya aku sudah tahu kalau kamu akan menerimaku kembali. Apa kekuranganku? Banyak perempuan lain yang melirikku, tapi aku menghiraukannya." Canda dan tawa Vale kali ini terlihat lepas. Beban-beban yang selama ini ia pendam dan ia rasakan hilang seketika.

"Whatever." Stella memutar kedua bola matanya.

"Terima kasih telah menerimaku kembali. Aku akan menjagamu dengan nyawaku."

***

Hari ini, Linda akan kembali ke rumah setelah sebelumnya berada di Rumah Sakit karena penyakit lamanya yang kambuh. Tak lupa, disana sudah siap seorang pria 'tampan' yang sudah lama menunggu dirinya. Marc. Ia ikut membantu Linda berbenah barang-barang Linda yang masih tergeletak di Rumah Sakit.

"Sudah semua?" Tanya Marc. 

"Aku pikir sudah."

Marc, Linda berserta keluarganya keluar dari Rumah Sakit. Linda sangat bersyukur dapat kembali kerumah, ia tak betah berada lama-lama disana. Barang bawaan Linda tak lupa Marc bawa kedalam bagasi mobilnya. 

"Makasih ya nak, kamu sudah membantu kami. Kami sangat berterima kasih." Ucap pria separuh baya.

"Sama-sama pak. Tak usah khawatir, kita sesama teman harus saling membantu. Benar bukan?"

"Tentu." 

Mereka masuk kedalam mobil milik Marc yang ia beli sendiri hasil kerja kerasnya. 

"Oh ya, Vale tidak ikut mengantarkan kamu, Lin?" Tanya mama dari gadis itu.

Linda termenung, tak menjawab pertanyaan dari mamanya. "Sibuk mungkin bu." Marc menjawabnya.

Cit, suara rem yang dihasilkan dari mobil itu. Kini mereka sudah tepat berada di depan rumah Linda, home sweet home. Marc membuka bagasinya dan langsung membawa barang-barang milik Linda kedalam rumahnya. Tampak senyuman puas hadir di bibir Marc. Sedikit-sedikit ia mendekatkan diri dengan keluarga Linda, trik yang cukup bagus.

 "Ayo nak masuk dulu." Ucap wanita separuh baya.

"Tidak usah bu, saya mau langsung pulang. Masih ada urusan lagi." 

"Yaudah, hati-hati ya." 

Marc bersalaman dengan kedua orang tua Linda. Ia masuk ke dalam mobil dan langsung pergi.

Linda tengah asik memainkan jari-jari tangannya. Bisa dikatakan ia sudah pulih dari penyakitnya, besok Linda sudah berencana untuk pergi liburan walaupun hanya sekedar ke perpusatan perbelanjaan. Untuk menghibur dirinya sendiri.

***

Tring, terdengar seperti suara ponsel milik Stella. Ia mengambil benda pipih itu dibalik selimut tidurnya.

From: Valentino

Hai Stel, apakah kamu sudah bersiap-siap? Aku segera menuju ke rumahmu.

Tok-tok, suara ketukan dari balik pintu rumah Stella. Suaranya cukup kencang. Stella berjalan menuju ke sumber suara yang datang, tentu saja ke arah pintu rumahnya. 

"Good morning." Ucap Vale dengan wajah yang sungguh ceria.

"Cepat sekali, Kamu kesini menggunakan apa? Pesawat?" 

Vale menengok ke arah belakang, "Apakah kamu melihat pesawat parkir didepan rumahmu?"

"Hah, i don't care. Aku sudah siap, kapan kita mulai jalan?"

Vale memegang lengan tangan Stella. "Come on." Sambil menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya. Stella membuka pintu mobil yang kedua.

Vale melihatnya, "Kamu pikir aku supirmu? Ayo pindah kesamping ku."

Linda pergi dengan taksi menuju pusat perbelanjaan yang biasa ia kunjungi. Ia berkeliling mencari hiburan, mungkin hiburan bagi seoarang perempuan adalah shopping. Mencari pakaian yang cocok dengannya. Sampai di satu toko yang cukup besar dan pakaian-pakaian yang sengaja di gantungkan. Linda terhenti di toko itu, cukup bagus dan ia tertarik untuk masuk kedalamnya.

"Kamu mau beli apa? Aku akan membayar pakaian itu. Tapi ingat, jangan terlalu mahal. Uangku tidak cukup banyak membayar baju sebanyak itu." Di ciumnya bibir lembut gadis itu.

Siapakah mereka?

To be continued...

No comments:

Post a Comment