
"Kerumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Vale cemas.
"Linda" jawab Marc. Vale langsung terdiam, lututnya lemas. Ia langsung duduk di samping Stella yang masih berkomunikasi dengan Marc.
"Hello, kamu masih disana?" ucap Marc tidak mendengar jawaban dari Vale. "Oke, rumah sakit Bambino Gesu. Sekarang juga kamu harus kesini" kata Marc.
"Linda" jawab Marc. Vale langsung terdiam, lututnya lemas. Ia langsung duduk di samping Stella yang masih berkomunikasi dengan Marc.
"Hello, kamu masih disana?" ucap Marc tidak mendengar jawaban dari Vale. "Oke, rumah sakit Bambino Gesu. Sekarang juga kamu harus kesini" kata Marc.
Vale langsung mematikan teleponnya.
Vale terduduk lesu, sedih mendengar Linda berada dirumah sakit. Entah apa yang harus dilakukannya, ia bingung. Vale memegang kepalanya dan memijitnya.
"Vale, tadi kenapa?" tanya Stella bingung melihat Vale seperti itu. Vale mencoba untuk bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke rumah sakit tempat Linda dirawat.
"Aku mau kerumah sakit. Kamu mau ikut atau mau pulang? Kalau mau pulang aku anterin kamu pulang" ucap Vale to the point.
"Kerumah sakit? Siapa yang sakit?" balas Stella.
"Linda" jawab singkat dengan muka sangat khawatir. "Linda? Sakit apa dia? Yaudah aku ikut kamu" ucap Stella.
"Kerumah sakit? Siapa yang sakit?" balas Stella.
"Linda" jawab singkat dengan muka sangat khawatir. "Linda? Sakit apa dia? Yaudah aku ikut kamu" ucap Stella.
Tanpa basi-basi mereka langsung berjalan ke mobil Vale dan menuju ke rumah sakit Bambino Gesu. Tak ada obrolan dan tak ada lagu yang menemani mereka selama diperjalanan. Mereka semua tegang, terutama Vale. Mantan pacar Linda. Stella pun canggung melihat Vale seperti itu.
"Stel, sms Marc. Tanya Linda ada diruangan mana" ucap Vale memberi ponselnya ke Stella dan masih menyetir.
Linda ada di ruang mana?
UGD
"Kata Marc Linda di UGD" kata Stella.
Vale makin cemas dengan keadaan Linda sekarang. Tangannya berkeringan dingin, ia pun ikut deg-degan. Vale menyetir mobilnya semakin kencang, rasanya ingin cepat sampai di rumah sakit itu.
UGD? Sakit apa sebenarnya dia? Separah itukah? Kenapa aku juga harus kesana?
Setelah 10 menit akhirnya mereka sampai. Vale memarkirkan mobilnya dekat dengan pintu utama rumah sakit tersebut. Mereka cepat-cepat turun dari mobil, ia memegang tangan Stella dan berjalan dengan cepat.
"Permisi, UGD ada dimana yah?" tanya Vale dengan pekerja rumah sakit tersebut.
"Lurus terus aja pak, mentok belok ke kiri" balasnya sambil menunjukan arahnya. "Terimakasih!"
"Lurus terus aja pak, mentok belok ke kiri" balasnya sambil menunjukan arahnya. "Terimakasih!"
Mereka langsung berjalan mengikuti petunjuk petugas tersebut. Mereka menemukannya!
Disana ada orang tua dari Linda dan ada Marc juga. Dari kejauhan Marc melihat Vale yang memegang tangan Stella berjalan dengan cepat.
"Apa aku ketinggalan kata-kata terakhirnya?" ucap Vale tak karuan.
"Tenang Vale, duduk dulu" kata mama Linda. Ia langsung duduk dengan nafas yang tidak teratur.
"Aku udah duduk bu. Sekarang Linda gimana? Dia kenapa?" kata Vale khawatir.
"Atur nafas dulu baru ngomong" balasnya.
"Tenang Vale, duduk dulu" kata mama Linda. Ia langsung duduk dengan nafas yang tidak teratur.
"Aku udah duduk bu. Sekarang Linda gimana? Dia kenapa?" kata Vale khawatir.
"Atur nafas dulu baru ngomong" balasnya.
Vale mengatur nafasnya.
Stella berada disamping Marc yang dari tadi sudah berada disana.
"Linda kenapa?" tanya Stella.
"Denger aja nanti orang tuanya ngejelasin ke Vale" jawaban sinis dari Marc.
"Denger aja nanti orang tuanya ngejelasin ke Vale" jawaban sinis dari Marc.
"Udah, udah tenang Vale?" tanya mama Linda. Vale mengangguk.
"Linda dari 3 hari yang lalu sakit. Badannya panas, pusing, asma dia juga kambuh. Setiap mama mau bawa kerumah sakit dia enggak mau. Terus dia juga enggak mau makan, kalau makan pun paling hanya satu sendok dua sendok. mama Linda menghela nafas.
"Pas mama ke kamarnya lagi, Linda kayak orang mau meninggal, nafasnya kayak habis lari-larian" mama Linda menjelaskan.
"Terus sekarang dia gimana?" tanya Vale serius menanggapinya.
"Untung kita cepet-cepet bawa dia kesini, kalau telat sedikit entahlah bagaimana nasib Linda sekarang. Dokternya masih ada di dalam, masih ngecek Linda lagi" jawabnya.
"Untung kita cepet-cepet bawa dia kesini, kalau telat sedikit entahlah bagaimana nasib Linda sekarang. Dokternya masih ada di dalam, masih ngecek Linda lagi" jawabnya.
Vale memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Melihat Vale seperti itu, Stella duduk disampingnya dan memegang pundaknya.
Sebelumnya....
Sebelum Linda masuk keruang UGD ia terus memanggil nama Vale. Marc ikut mengantarkan Linda ke ruangan.
"Marc, aku mau ketemu Vale. Aku kangen" ucap Linda dengan nafas terengah-engah yang dibawa oleh suster untuk dibawa ke ruangan UGD. Marc dan kedua orang tuanya mengikutinya.
"Iya Linda nanti aku telepon dia. Kamu jangan mikirin dia dulu ya. Kamu harus sembuh" balas Marc membelai rambutnya.
"Iya Linda nanti aku telepon dia. Kamu jangan mikirin dia dulu ya. Kamu harus sembuh" balas Marc membelai rambutnya.
Linda sudah masuk keruangan UGD.
"Maaf bu,pak" kata suster menutup pintunya.
Vale lagi? Vale lagi? Vale terus. Aku kapan Lin? - batin Marc
Dokter itu keluar dari ruang UGD.
"Dok gimana? Saya udah boleh liat Linda?" tanya Marc. "Silahkan, Linda sudah boleh di tengok. Saya permisi dulu" balasnya sambil meninggalkan tempat itu.
Marc, Stella dan Vale langsung masuk keruangan itu.
"Vale? Kamu kesini?" Linda kaget melihat Vale mau menjenguknya.
"Aku kangen kamu" lanjutnya sambil menangis. "Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Vale tak tega melihat Linda menangis.
"Aku kangen kamu" lanjutnya sambil menangis. "Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Vale tak tega melihat Linda menangis.
Dari belakang Vale, Stella muncul.
"Stella..?" ucap Linda terheran melihat Stella ada disana.
"Hai. Gimana keadaan kamu" tanyanya tersenyum. "Kamu kesini......"
"Iya aku sama Stella dateng kesini buat ngeliat kamu" cepat-cepat Vale memotong pembicaraan Linda.
"Hai. Gimana keadaan kamu" tanyanya tersenyum. "Kamu kesini......"
"Iya aku sama Stella dateng kesini buat ngeliat kamu" cepat-cepat Vale memotong pembicaraan Linda.
"Kamu enggak apa-apa kan?" ucap Marc membelai rambut Linda dan mencium keningnya.
"Kamu kok bisa kayak gini? Siapa yang buat kamu sakit?" tanya Vale di dalam hatinya masih penuh dengan kekhawatiran.
"Kamu kok bisa kayak gini? Siapa yang buat kamu sakit?" tanya Vale di dalam hatinya masih penuh dengan kekhawatiran.
"Habis kejadian yang kata itutuh kita pulang. Mobilnya mogok pas hujan, aku keluar ngeliat mesin tiba-tiba Linda nyamperin aku buat ngasih jaket padahal aku udah ngelarang dia. Katanya sih dia enggak mau aku sakit" ucap Marc dengan muka songong.
"Oh iya, waktu itu juga aku cium bibir mantan pacar kamu loh. Rasanya itu....... Strawberry" lanjutnya sambil memegang bibirnya.
PLAK!!!
Vale meninju Marc, tepat mengenai wajahnya.
"APA-APAAN KAMU! GARA-GARA KAMU SEMUANYA KAN LINDA JADI KAYAK GINI!" teriak Vale dan memukul wajah Marc.
"AKU TAU KAMU MARAH BUKAN KARENA LINDA SAKIT, TAPI KARENA AKU CIUM BIBIRNYA DIA YANG RASANYA KAYAK STRAWBERRY ITU. IYAKAN? TERIMA KENYATAAN SAJALAH!" balasnya meledek.
"Vale!Marc! cukup!" teriak Linda dengan suara yang tak terdengar oleh mereka.
"Vale! Sudah, hentikan!" Stella mencoba untuk meleraikan mereka berdua.
PLAK!!
Marc tepat mengenai wajah cantik Stella. Ia ingin membalas pukulan dari Vale, tetapi malah mengenai Stella yang sedang melerai mereka.
Stella langsung terjatuh ke lantai dengan memegangi pipinya yang terkena pukulan dari Marc. Melihat Marc memukul Stella dan ia terjatuh, Vale membantu Stella untuk bangun. Stella menangis sambil memegangi pipinya yang terkena pukulan. Saat membantu Stella, Vale melihat Linda yang sedang menangis karena ulahnya.
"APA-APAAN INI!" teriak ayah Linda yang tiba-tiba masuk keruangan tersebut.
"KEPARAT KAU!" ucap Vale menunjuk Marc.
"CUKUP YA KAMU UDAH NYAKITIN AKU. KAMU JANGAN NYAKITIN LINDA, DAN STELLA ORANG YANG AKU SAYANG" teriak Vale ingin membalas pukulannya lagi.
"CUKUP YA KAMU UDAH NYAKITIN AKU. KAMU JANGAN NYAKITIN LINDA, DAN STELLA ORANG YANG AKU SAYANG" teriak Vale ingin membalas pukulannya lagi.
"CUKUP ! SUDAH VALE SUDAH!" teriak ayah Linda dengan mata yang dibesarkan.
Vale dan Stella keluar dari ruangan tersebut dan meminta obat-obatan untuk mengobati muka Stella yang terkenal pukulan.
Stella duduk di depan ruangan UGD.
"Kamu disini dulu ya. Aku mau ambil obat-obatan dulu" kata Vale pergi meninggalkannya.
"Kamu disini dulu ya. Aku mau ambil obat-obatan dulu" kata Vale pergi meninggalkannya.
Vale berjalan untuk mencari suster yang sedang bertugas.
"Permisi sus, boleh minta kotak P3K nya? Temen saya lagi luka" ucap Vale.
"Oh iya. Tunggu sebentar ya pak" balas susternya. Vale tersenyum.
"Ini pak" ucap Suster itu sambil memberikan kotak P3K
"Terimakasih" jawab Vale tersenyum.
Vale menghampiri Stella yang sudah menunggunya.
"Maaf ya udah lama nunggu" ucap Vale langsung duduk di samping Stella dan membuka kotak P3K.
"Gakpapa kok. Maaf ya ngerepotin" balasnya. "Enggak sama sekali kok" kata Vale sambil mengobati Stella yang luka.
"Maaf ya udah lama nunggu" ucap Vale langsung duduk di samping Stella dan membuka kotak P3K.
"Gakpapa kok. Maaf ya ngerepotin" balasnya. "Enggak sama sekali kok" kata Vale sambil mengobati Stella yang luka.
"Auh.. Sakit" kata Stella. Vale mengobati Stella dibagian pipi yang terkena pukulan.
"Tahan ya" balasnya. Stella menahan sakitnya.
"Eumm... Vale?" ucap Stella. "Iya?"
"Kamu tadi bilang ke Marc, jangan sakitin aku orang yang kamu sayang? Maksudnya..?" tanya Stella.
"Iya, aku sayang sama kamu" balas Vale dengan santai.
"Tahan ya" balasnya. Stella menahan sakitnya.
"Eumm... Vale?" ucap Stella. "Iya?"
"Kamu tadi bilang ke Marc, jangan sakitin aku orang yang kamu sayang? Maksudnya..?" tanya Stella.
"Iya, aku sayang sama kamu" balas Vale dengan santai.
Vale sayang sama aku?
"Sayang? Sayang gimana maksud kamu?" tanya Stella bingung. "Iya aku sayang sama kamu lebih dari temen. Kenapa emangnya?" balas Vale menatap Stella.
"Eumm.. Enggak"
"Auhh.." keluh Stella menahan sakit yang sedang di obati oleh Vale.
"Eumm.. Enggak"
"Auhh.." keluh Stella menahan sakit yang sedang di obati oleh Vale.
Vale mengobati luka di bagian dekat dengan bibir Stella, tanpa di sadari Vale mengecup bibir Stella perlahan. Stella yang terkejut langsung membalas ciuman dari Vale.
Ruang UGD rumah sakit tersebut didesign dengan kaca yang terlihat samar, sehingga dari dalam ruangan tersebut bisa melihat orang dari luar ruangan walaupun tidak terlalu jelas. Ketika Vale dan Stella sedang berciuman, Linda dengan samar melihat tingkah laku mereka berdua, tetapi ia tidak yakin jika mereka berdua itu adalah Vale dan Stella.
Linda bangkit dari kasur yang di tempatinya sejak tadi dan mencoba untuk keluar dari ruangan itu.
"Kamu mau ngapain?" kata Marc di tengah-tengah Linda bangkit dari kasur.
"Mau keluar, aku bosen di kamar terus" balasnya.
"Kamu mau ngapain?" kata Marc di tengah-tengah Linda bangkit dari kasur.
"Mau keluar, aku bosen di kamar terus" balasnya.
Melihat Linda ingin keluar dari ruangan tersebut, Marc menghampirinya dan mencoba untuk membantu Linda. Linda berjalan perlahan di bantu oleh Marc.
Vale dan Stella melihat Marc dan Linda berada di dekatnya, mereka langsung menjauhkan mukanya dan berhenti berciuman.
"Linda? Kamu udah baikkan?" Stella tersenyum tidak enak. Linda hanya tersenyum palsu dan meneteskan air matanya perlahan.
"Masuk ke dalem ya" ucap Marc tak tega melihat Linda.
"Masuk ke dalem ya" ucap Marc tak tega melihat Linda.
Marc yang berada di sampingnya dan tahu jika Linda keluar hanya untuk melihat Stella dan Vale. Marc merangkul Linda dan mereka masuk ke dalam ruangan. Marc membantu Linda untuk naik ke atas kasur yang sejak tadi di tempatinya itu. Stella duduk di kasur itu dan menangis.
"Linda.. Udah ya jangan nangis. Kamu udah sakit, jangan bikin tambah sakit gara-gara begini doang" Marc menyentuh pipi Linda menggunakan kedua tangannya dan menghapus air matanya.
Linda menggelengkan kepalanya dan masih terus menangis.
"Kamu ngapain nangisin orang yang belum tentu nangisin kamu? Dia malah asik sama cewek lain kan? Dia asik sama mantannya" Marc memegang pundak Linda.
Linda menggelengkan kepalanya dan masih terus menangis.
"Kamu ngapain nangisin orang yang belum tentu nangisin kamu? Dia malah asik sama cewek lain kan? Dia asik sama mantannya" Marc memegang pundak Linda.
"Ada orang yang berusaha bikin kamu bahagia walaupun sulit, ada orang yang selalu ngedengerin keluh kesah kamu, ada orang yang selalu sabar nunggu kamu dan berusaha melupakan mantan kamu. Nyatanya aku lebih peduli sama kamu dari pada Vale,Lin" ucap Marc menatap Linda.
Tak banyak basa-basi, Linda langsung memeluk Marc dan masih menangis.
"Makasih Marc buat selama ini. Aku berusaha semampu aku, aku bakal lupain Vale" ucapan dari bibir Linda.
"Sama-sama Lin. Dengan senang hati aku bakalan nungguin kamu" balasnya, membalas pelukan Linda dan mengecup kening Linda.
"Makasih Marc buat selama ini. Aku berusaha semampu aku, aku bakal lupain Vale" ucapan dari bibir Linda.
"Sama-sama Lin. Dengan senang hati aku bakalan nungguin kamu" balasnya, membalas pelukan Linda dan mengecup kening Linda.
Setelah Linda melihat tingkah laku mereka berdua, ada niatan Stella masuk ke ruangan dan meminta maaf kepada Linda.
"Aku masuk ya, kamu mau ikut?" tanyanya dengan muka polos. "Kamu jangan masuk!" balas Vale.
"Kenapa aku enggak boleh masuk?" tanya Stella. "Enggak enak sama Linda,Stel. Lagi disana juga udah ada Marc yang nenangin Linda. Kita pulang aja, aku aja yang pamitan sama Linda" balas Vale langsung berdiri dan masuk ke dalam ruang yang ditempati Linda.
"Aku masuk ya, kamu mau ikut?" tanyanya dengan muka polos. "Kamu jangan masuk!" balas Vale.
"Kenapa aku enggak boleh masuk?" tanya Stella. "Enggak enak sama Linda,Stel. Lagi disana juga udah ada Marc yang nenangin Linda. Kita pulang aja, aku aja yang pamitan sama Linda" balas Vale langsung berdiri dan masuk ke dalam ruang yang ditempati Linda.
Krik....
Suara engsel pintu ruangan itu berbunyi. Spontan Marc dan Linda melihat ke arah suara pintu tersebut.
"Aku pulang dulu ya" ucap Vale melangkah menghampiri Linda. "Pulang tinggal pulang, ngapain pamitan ke kita?!" balasan sinis dari Marc. Vale langsung berhenti berjalan.
Linda menyentuh tangan Marc, spontan Marc menengok ke arah Linda.
Suara engsel pintu ruangan itu berbunyi. Spontan Marc dan Linda melihat ke arah suara pintu tersebut.
"Aku pulang dulu ya" ucap Vale melangkah menghampiri Linda. "Pulang tinggal pulang, ngapain pamitan ke kita?!" balasan sinis dari Marc. Vale langsung berhenti berjalan.
Linda menyentuh tangan Marc, spontan Marc menengok ke arah Linda.
Sudahlah Marc!
Marc mengerti maksud Linda dan berusaha manahan amarahnya.
"Lin,Marc aku pulang ya. Permisi" ucap Vale keluar dari ruangan tersebut.
"Lin,Marc aku pulang ya. Permisi" ucap Vale keluar dari ruangan tersebut.
"Kamu ngapain sih, orang kayak gitu di kasarin aja" ucap Marc. "Sudahlah Marc, aku yang disakitin aja enggak keberatan kok dia begitu" balas Linda tegar.
"Kamu tuh emang yah" ucap Marc menarik hidung mancungnya Linda.
"Aw... Sakit Marc" balas Linda memukul ringan dan tertawa.
"Kamu tuh emang yah" ucap Marc menarik hidung mancungnya Linda.
"Aw... Sakit Marc" balas Linda memukul ringan dan tertawa.
Seminggu setelah itu......
Tintin..
Suara klakson mobil Vale tepat berada di depan rumah Stella.
"Ma aku pergi dulu ya" ucap Stella membawa 1 buah koper dan tas. "Iya,hati-hati ya" balasnya.
Stella keluar dari rumahnya membawa koper, Vale keluar dari mobil dan membantu Stella.
"Hati-hati ya, jagain Stella" ucap mama Stella. "Siap bos" balas Vale tertawa.
Vale mengangkat koper Stella dan di masukkan ke bagasi mobilnya. Ia menutup bagasi mobilnya dan siap untuk berangkat.
"Ma, aku pergi dulu ya" ucap Stella berpamitan dengan mamanya.
"Hati-hati ya nak"
"Vale, jangan lupa pesen mama" ucap mama Stella. "Iya ma, tenang aku enggak lupa kok. Aku sama Stella berangkat dulu ya" balas Vale.
Mereka berdua masuk ke mobil dan langsung berangkat menuju bandara. Mereka berdua akan menuju ke Colombia untuk berlibur.
Setelah 10 menit, mereka tiba di bandara. Vale menitipkan mobilnya di bandara dan langsung check in. Setelah check in Vale dan Stella menuju ke ruang tunggu.
Setelah 10 menit, mereka tiba di bandara. Vale menitipkan mobilnya di bandara dan langsung check in. Setelah check in Vale dan Stella menuju ke ruang tunggu.
Setelah 1 jam menunggu pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tujuan, sudah datang.
Mereka masing-masing membawa barang yang dibawa dan berjalan menuju pesawat.
Sekitar 12jam perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara Colombia. Mereka mengambil barang bawaan yang di bawanya,mencari taksi lalu menuju ke hotel yang sudah di pesan Vale jauh-jauh hari.
Setelah sampai di hotel yang dituju, mereka check in dan beristirahat setelah menempuh 12jam perjalanan di pesawat.
Setelah sampai di hotel yang dituju, mereka check in dan beristirahat setelah menempuh 12jam perjalanan di pesawat.
Besoknya...
Vale dan Stella bangun dari tidurnya. Mereka bersiap-siap untuk sarapan dan pergi menuju taman The Butchart Gardens. Taman paling indah di Colombia. Taklupa Vale juga membawa gitarnya yang dibawa dari Italia.
"Bawa gitar? Mau ngapain emang?" tanya Stella. "Buat nyanyi-nyanyilah. Kan kita mau ke taman paling indah di Colombia" ucap Vale sambil memainkan gitarnya.
"Oh.. Oke" balasan singkat dari Stella.
"Oh.. Oke" balasan singkat dari Stella.
Mereka keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Setelah itu Vale balik ke kamarnya untuk membawa gitarnya sedangkan Stella menunggunya di pintu keluar hotel.
"Ayo.." ucap Vale memegang tangan Stella. Mereka mencari taksi agar bisa ke taman tersebut.
"Pak taksi.." ucap Vale menaik turunkan tangannya. Mereka masuk ke taksi tersebut. "Ke taman The Butchart Gardens" kata Vale.
"Pak taksi.." ucap Vale menaik turunkan tangannya. Mereka masuk ke taksi tersebut. "Ke taman The Butchart Gardens" kata Vale.
Mereka dibawa oleh taksi tersebut ke tempat yang dituju. Dari hotel sampai ke taman yang terkenal di Colombia itu memakan waktu yang cukup lama, sekitar 1 jam.
Hampir 1 jam setengah..
"Sudah sampai pak,bu" ucap supir taksi itu.
"Stella.. Bangun" ucap Vale membangunkan Stella yang tertidur. "Udah sampai"
Vale membayar taksinya.
"Hah udah sampai?" ucap Stella masih setengah sadar. "Come on Stella, mau liat taman yang indah kan?" ucap Vale mengecup pipi Stella.
"Oke, aku bangun.." balasnya berusaha sadar seratus persen.
Mereka berdua turun dari taksi dan berada di tepat di depan taman yang indah itu. Vale dan Stella hanya terbengong melihat keindahan taman itu.
"Ayo masuk jaman banyak bengong" ucap Vale mencubit pipi Stella yang chabi.
"Vale sakit tau" balasnya memukul ringan.
"Ayo masuk jaman banyak bengong" ucap Vale mencubit pipi Stella yang chabi.
"Vale sakit tau" balasnya memukul ringan.
Mereka masuk ke dalam taman itu.
"Luar biasa. Baru sekali ngeliat taman yang seindah ini" ucap Stella. "Ah lebay kamu mah. Makanya jalan-jalan dong" balasnya tertawa.
"Emang indah sih,kamu kira aku kuper?" kata Stella.
"Luar biasa. Baru sekali ngeliat taman yang seindah ini" ucap Stella. "Ah lebay kamu mah. Makanya jalan-jalan dong" balasnya tertawa.
"Emang indah sih,kamu kira aku kuper?" kata Stella.
Gotta be you...
Mereka berjalan-jalan mengelilingi taman dan sejenak berfoto-foto karena pemandangan yang luar biasa indah. Setelah mengelilingi taman tersebut mereka kelelahan dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Ah.. Capek"
"Tapi makasih ya Vale udah ajak aku kesini" ucap Stella kelelahan. ucap Stella dengan nafas yang berhembus dengan kasar.
"Yo, sama-sama" balas Vale tersenyum dan mengeluarkan gitar dari tasnya.
"Tapi makasih ya Vale udah ajak aku kesini" ucap Stella kelelahan. ucap Stella dengan nafas yang berhembus dengan kasar.
"Yo, sama-sama" balas Vale tersenyum dan mengeluarkan gitar dari tasnya.
Semoga berhasil
To be continued...

No comments:
Post a Comment