Thursday, 30 April 2015

Twoshot: Slut In Love 1

Disini aku duet sama kak zi. Dari twoshoot ini ambil hikmahnya aja ya. Happy reading guys;)



Dengan malas aku berjalan dijejeran paddock yang rapi. Teriknya
matahari tak sedikitpun menyurutkan niatku. Aku tengah menuju paddock
Nicky. Teman kecilku, teman yang mulai jarang ada disisiku beberapa tahun belakangan ini.


Oke, aku memang sadar kalau aku tak pantas berteman dengan orang sebaik
Nicky. Tapi apa aku tak punya kesempatan berteman dengan orang sepertinya? Kadang aku menghindari Nicky karena aku merasa aku tak akan
pernah bisa membalas semua perhatiannya. Aku berhutang banyak kepadanya.



Di depan paddocknya beberapa mekanik lalu lalang. Aku cuek saja dan
langsung menghambur ke arah Nicky. Tapi yang aku dapat bukannya
senyuman ramah Nicky melainkan sebuah pukulan yang tepat mengenai kepalaku.


Nicky menatapku dengan detail dari atas sampai bawah, ia mendengus dengan kasar. "Sudah berapa kali aku bilang, pakailah baju dengan lengkap. Apa kau tak bisa?" Ia melemparkan jaket kearah ku, bermaksud agar aku memakainya.

Aku menangkap jaket yang Nicky berikan, "Aku sudah memakai baju dengan lengkap." Aku merapihkan bajuku mencoba untuk meyakinkannya.

Lagi-lagi Nicky mendengus dan ia memegang baju ku dengan tampang jijik, "Bajumu sudah seperti bikini dan kau bilang sudah lengkap?" Nicky membulatkan kedua kelopak matanya. Ia heran dengan perbuatanku yang tak pernah berubah sejak dulu, ia selalu berusaha untuk membuatku menjadi wanita yang benar. Tapi selalu saja pada akhirnya ia tak bisa membuatku seperti apa yang diinginkan.

Aku menatap kearah dadaku, sedikit terlihat terbuka. Tapi aku tak peduli, aku nyaman seperti saat ini. Lagi pula, apa yang harus ditutupi? Semua orang disirkuit sudah tahu jika hampir semua pembalap dan para mechanic pernah meniduriku. Dan yang pasti, mereka pernah melihatku lebih dari ini.

"Mengapa kau berlebihan sekali, Nick?" Aku melemparkan jaket pemberiannya. Nicky menatapku dengan heran, aku memberitahumu supaya kau bisa menjadi orang yang benar, Nicky membatin. Aku kembali menatapnya dengan tatapan yang sama dengannya, aku heran dengan Nicky, mengapa ia ingin sekali aku menjadi wanita yang benar? Percuma saja aku menjadi wanita yang diinginkannya jika aku sendiri-pun terpaksa melakukannya. Lebih baik aku menjadi wanita seperti ini, dan aku senang melakukannya. Aku senang bisa berkencan dengan para pembalap atau para mechanic yang sedang tak mendapatkan jatah ataupun ingin memuaskan nafsunya. 

"Aku melakukan ini semua karena kau, Zi. Aku sayang padamu." Nicky memasang wajah yang buruk yang pernah aku lihat sebelumnya.

"Berhenti menyayangiku, Nick! Aku muak dengan kata sayangmu yang tiada artinya." Aku menghentakkan kakiku dan melangkah keluar dari paddocknya.

Hatiku getir, seburuk itukah aku sampai Nicky melakukan ini?

Aku tak peduli panas sinar matahari yang membakar kulitku, aku tetap berjalan tanpa menggunakan payung yang biasa aku pakai. Banyak siulan berbunyi dan gumam-an goda dari para pembalap yang melihatku sedang berjalan, aku hanya tersenyum. Aku tidak dalam keadaan mood yang baik, mungkin jika aku sedang dalam keadaan mood yang normal aku akan melangkah ke paddocknya dan membuat kesepakatan dengannya. Hal inilah yang paling Nicky benci.

Aku terus berjalan menuju hotel yang aku tempati sementara, "Zi... Zi." Aku mendengar seseorang berteriak dengan namaku. Aku menoleh sembari menyiptikan mataku yang terkena sinar matahari, Jorge menghampiriku dan mengajakku ketempat yang lebih sejuk. Ia berbincang denganku dan mengajakku dinner malam ini, Jorge akan menjemputku jam 7 malam di kamar hotelku. Tentu saja, aku mengiyakan ajakan Jorge. Aku pikir ia akan melakukan hal yang lebih dari makan malam.

***

Aku sangat antusias dengan malam ini. Aku membuka isi koper dan membongkar habis isinya, aku memilih baju yang menurutku cocok untuk malam ini. Baju coklat tua polos tanpa lengan dan rok jeans mini serta accessories yang senada, itulah ciri khasku dalam berpenampilan.

Aku melihat dari balik jendela jika langit sudah mulai gelap, itu menandakan jika malam akan segera tiba. Aku langsung mengunci pintu kamarku dan melangkah menuju kamar mandi. Aku membersihkan diri dengan manja, aku melihat lengan tanganku agak menghitam karena terbakar panasnya sinar matahari. Aku agak panik melihat lengan tanganku seperti ini, aku memakai handbody dan segala perlengkapan kecantikan yang aku punya. Tetap saja, tak bisa langsung kembali menjadi normal. Dengan terpaksa aku menggunakan cardigan yang untungnya aku bawa. Aku duduk di depan meja kaca rias dan aku merias diriku menggunakan makeup handalanku, segalanya harus perfect dengan partnerku yang juga perfect.

Aku mendengar ketok-an pintu kamarku, aku sangat antusias sekali menyambutnya. "Hai, Zi." sapa Jorge. Ia melihatku detail dari atas sampai kebawah tanpa berkedip satu kedipan-pun. Aku mengunci pintu kamarku dan kami bergegas menuju restoran yang hanya Jorge yang tahu. Aku tak sabar mendengar perkataannya.

Aku dan Jorge telah menyelesaikan makan malam kami dengan penuh perbincangan. Sedari tadi, aku tersadar jika Nicky mengamatiku dan Jorge dari seberang sana. Aku masih tak mengira, mengapa aku dan Nicky bisa berada dalam satu restoran? Apa ini hanya kebetulan saja, atau ia mengikutiku dan Jorge sejak tadi? Ah, tapi aku tak peduli. Justru aku menikmati pandangannya yang penuh dengan curiga.

"Zi, kau dan Nicky sebenarnya mempunyai hubungan lebih dari teman? Aku lihat, dia sangat perhatian padamu." Jorge ikut menatap Nicky.

"Dia penggemar rahasiaku." jawabku dengan tenang.

"Tapi sepertinya kau...."

"Sudahlah, kau tak perlu mengurusinya. Tak penting bagimu." dengan cepat aku memotong ucapan Jorge, sebelum percakapan menjalar lebih jauh.

Jorge tersenyum seperti senyuman licik kepadaku. Ia memainkan jari-jari tangannya di atas meja makan, ia terus memandangiku dengan senyuman licik, menurutku.

"Selesai makan malam kau free kan, Zi?" Tentu yang dimaksud Jorge dengan Free adalah jadwal tidurku. Tak ada yang tahu aku tidur dengan siapa dan bangun dengan siapa. 

"Kalau untukmu aku selalu free." kubisikkan kata-kata itu seseduktif
mungkin ditelinga Jorge.

Tak ada alasan aku menolak ajakan tidur dengan jorge, kau tahu karena apa? Karena yang akan kau dapatkan pasti berbeda dengan yang kau dapat dari pembalap lain. Jika aku memilih dari banyaknya pembalap yang menjadi partner sex ku, pasti aku memilih dengan Jorge. 

***

Sesudah aku menikmati makan malamku dengan Jorge, ia mengantarkanku pulang. Didepan pintu kamar ku sudah ada Aleix menungguku, ia melipatkan kedua tangannya dan tampaknya wajahnya sangat lesu. Aku pikir, ia sudah lama menungguku.

Aku baru ingat jika malam ini Aleix akan tidur bersamaku. Aku menyuruhnya masuk kedalam kamarku dan aku bersiap-siap terlebih dahulu. Aku selalu menikmati moment seperti ini.

Aku terbangun tepat jam 6 pagi dengan Aleix yang masih memelukku dengan erat. Kemarin malam adalah malam yang sangat luar biasa, dengan pelan aku membangunkannya. Sepertinya ia sangat kelelahan. Aleix keluar dari kamarku masih dalam keadaan berantakan tak keruan. Aku membuang nafasku dengan kasar, Nicky melihat Aleix keluar dari kamarku dengan keadaan berantakan. Pasti hari ini akan menjadi hari yang menyebalkan. Bagaimana tidak, aku sudah mendapatkan untaian kata mutiara dari Nicky. Hah, aku tak peduli.

"Apa yang kau lakukan dengan Aleix?" Ia melipatkan kedua tangannya didada.

"Apa yang orang dewasa lakukan." santai saja ku jawab.

"Tapi Zi, apa kau tak cukup tidur dengan para lajang hingga kau tega tidur dengan Aleix?" tanya Nicky membuatnya semakin kesal.

"Apa pedulimu? Lagipula, Aleix sedang tak mendapatkan jatah." 

"Terserah kau saja." Mungkin itu adalah jawaban yang tepat untuknya. Nicky juga tak tahu apa yang akan dilakukannya lagi untuk menyadarkan Zi. Ia benar-benar wanita yang keras kepala.

Tiba-tiba kurasakan perutku mual. Seperti semuanya teraduk jadi satu.
Apa karena ocehan Nicky aku mual?
Aku dengan terburu-buru lari ke kamar mandi. Nicky yang panik segera mengikutiku dari belakang.

"Zi, ada apa denganmu? Kau baik-baik sajakan?" Nicky mengetuk pintu kamar mandiku, ia mondar-mandir tak tenang.

"Nick, tolong ambilkan kotak obatku di meja dekat tv." suruhku teriak.

Nicky dengan cepat mencari kotak obat yang aku suruh, aku membuka pintu kamar mandi dan Nicky memberiku kotak obat yang aku perintahkan. Aku mengambil sebuah testpack, aku keluar dari kamar mandi dengan muka terkejut sembari memegang alat testpack. Nicky menatapku dengan heran, ia melihat alat testpack yang kubawa.

"Aku..." ucapku menunduk sembari masih memegang testpack

Nicky mengerutkan dahinya, matanya langsung tertuju kepada alat testpack yang sudah aku coba. "Kau hamil?" tanya Nicky melihat ada dua garis di alat testpack ku.

Aku menatap Nicky dengan lesu. "Anak siapa, Zi?" Nicky bertanya dengan nasa yang sangat berhati-hati. Ini adalah pertanyaan kuncinya, siapakah ayahnya?

Aku menggeleng dengan lemas. Tentu aku tak tahu siapa dari anak yang aku kandung, banyak yang sudah meniduriku. Aku tak bisa melampiaskan kekesalanku, hanya air mata jatuh di wajahku yang bisa menjelaskan semuanya. 

Nicky memelukku erat, "Izinkan aku menjadi ayah dari anak ini." bisiknya tenang ditelingaku.

Aku spontan melepaskan pelukannya, "Nick?" Aku tak percaya dengan perkataannya. Ia tersenyum hangat kepadaku.

***

Hari ini adalah hari yang penting bagiku dan calon suamiku, Nicky. Segalanya sudah dipersiapkan dengan matang, Nicky mengucapkan janji sehidup semati didepanku, didepan orangtuaku dan orangtanya, didepan saksi-saksi dan didepan orang banyak. 

"Kau sudah sah menjadi suami istri." 

Nicky mencium keningku dan memasangkan cincin pernikahan di jari tanganku. Aku dan Nicky berjalan menuju pelaminan, orang-orang berdatangan memberiku dan suamiku ucapan selamat dan doa. Ia memberikan jasnya kepadaku untuk menutupi punggung ku yang terekspose sempurna tanpa tedeng apapun, "Punggung ini sekarang
menjadi milikku." bisiknya jahil di telingaku. Aku tertawa sembari
melayani orang-orang yang sudah kita undang.


Tak lupa, aku mengundang semua pembalap. Termasuk Jorge dan Aleix, betapa terkejutnya mereka melihat aku dan Nicky telah menjadi pasangan suami istri. Tak berselang lama, Dani memunculkan wajahnya, ia adalah salah satu pembalap yang pernah meniduriku. Dani mengucapkan selamat kepada kami, ia membisikan ditelingaku, "Janin ini hasil perbuatanmu dengan siapa?" Ia tersenyum menyeringai kepadaku.

"Apa maksudmu?" ingin sekali aku memukul wajahnya, untung saja suamiku menahanku agar aku tak memukulnya. Dani dengan santainya berjalan turun dari pelaminan. Aku terus memandanginya sampai aku tak melihatnya lagi.

Seusai acara pernikahan berlangsung, Nicky tersenyum jahil padaku. "Zi." sapanya dengan hangat.

Aku hanya berdehem dan menengok kearahnya, "Kau tak perlu khawatir. Aku sudah ada disini bersamamu." ucap suamiku membuat hatiku hangat.

"Apakah kau sudah bisa mencintaiku!?" tanya Nicky.

To be continued...

No comments:

Post a Comment