Dia berjalan mengelilingi mall tanpa arah, sedikit-sedikit air matanya masih menetes keluar. Pikirannya masih teringat dengan kejadian yang baru saja terjadi, kedua matanya yang cokelat terlihat kosong. Ditabraknya laki-laki tinggi dan kurus yang sedang bermain ponsel dan membuat ponsel laki-laki itu terbanting. "Hei, lain kali kalau jalan pakai mata." Diambilnya ponsel mahalnya itu yang terlihat lecet.
Linda hanya terdiam, laki-laki itu masih berada disana. "Linda?" Ucap laki-laki itu kaget. "Kau disini? Dengan siapa?" Adik dari Marc Marquez itu, Alex Marquez yang baru saja ditabrak Linda. Melihat Linda dengan keadaan seperti itu, membuat Alex sedikit khawatir. Pasalnya, Alex mengetahui hubungan antara Linda dengan kakak satu-satunya.
"I'm sorry, Linda. Ada apa denganmu? Kau tampak berbeda, ingin aku antar pulang? Aku khawatir denganmu." Linda hanya tersenyum dan mengiyakan ajak dari Alex. Mereka berdua berjalan menuju mobil BMW hitam milik Alex, yang didapatkan dari hadiah ulangtahun pemberian Marc.
Hanya suara mesin mobil dan kendaraan luar yang terdengar disepanjang perjalanan. Sedikit Alex melirik kearah Linda yang termenung, perasaan khawatir Alex menyelimutinya. Ada apa dengan Linda? "Bagaimana hubunganmu dengan kakakku?" Tanya Alex yang ingin mencairkan suasana. Linda menengok sembari tersenyum, "Oh, baik." Singkatnya. Membuat Alex tak ingin bertanya lagi.
Lima belas menit perjalanan, mereka telah sampai tepat didepan rumah Linda. "Kau ingin mampir?" Sembari melepaskan sabuk pengamannya. "Oh tidak, terimakasih. Aku langsung pulang, masih banyak urusan yang penting." Linda turun dari mobil tersebut, menutupnya kembali dan langsung berjalan ke dalam rumahnya.
***
"Aduh, mana cincinku." Keluh Marc yang sedang mengobrak-abrik habis isi kamarnya. Buku-buku, miniatur idolanya, dan berbagai macam benda berserakan dimana-mana. Ia lupa menaruh cincin itu, itu sangat berharga untuknya. Alex yang memang sengaja lewat di depan kamar kakaknya terkejut melihat kamar Marc sangat berantakan. Maklum, Alex adalah tipe laki-laki yang bersih, ia tak menyukai kotor. Terlihat dari kamarnya yang bersih, semua tertata dengan rapih dan wangi.
"Ya ampun. Berantakan sekali, kau ini mencari apa sebenarnya?" Keluhnya sembari langsung ikut ambil alih untuk membersihkan kamar Marc. "Aku mencari cincin yang pernah aku kasih untuk Linda. Apa kau melihatnya?" Ia menaruh kedua tangannya dipinggang, keringatnya bercucuran kebawah. "Mana ku tahu. Lain kali taruh yang benar, apalagi itu barang berharga. Cobalah untuk rapih sedikit." Alex gemas dengan tingkah laku kakaknya yang sangat berantakan dan semberonoh menaruh sesuatu.
Alex ikut mencari cincin itu. Setelah dua puluh menit mencari, "Cincinnya ketemu." Teriak Alex kegirangan. Marc dengan cepat meraih cincin itu, dan membukanya. "Kau apakan lagi cincin itu? Kau jual?" Alex merebahkan tubuhnya diatas kasur, nafasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran. Lelah. "Sudahlah, ini urusan anak dewasa." Canda Marc.
Alex bangkit dan berdiri sejajar dengan Marc,
"Tadi aku bertemu dengan Linda. Wajahnya seperti habis menangis. Aku tak tega melihatnya, makanya aku antar dia sampai kerumah." Alex keluar dari kamar Marc dan berjalan menuju dapur. Mencari minuman kesukaannya, mineral water. "Apa kau bilang? Kau tak bercanda kan?" Marc sedikit berlari untuk menyamai Alex. "Apa wajahku seperti penipu? Ketusnya. "Kalau kau sayang cari tau mengapa dia seperti itu. Aku tak tahu apa-apa, dia tak sengaja menabrakku dengan keadaan seperti itu dan aku antarkan pulang, itu saja."
***
Dia kembali dengan mantannya? Baru saja satu minggu aku mengakhiri hubungan, dia sudah bersama dengan perempuan lain. Memang benar kata Marc, ia sudah tak menyayangiku. Untuk apa aku masih mempunyai rasa dengannya? Untuk apa aku menangisinya? Tak berguna!
Sadarlah, Linda. Kau ini cantik, banyak yang ingin denganku. Marc? Ia tampan, ia baik, ia tulus denganku. Ia sangat sempurna. Lalu, mengapa aku menyia-nyiakannya. Aku ini wanita yang beruntung, beruntung dicintai seorang laki-laki seperti Marc Marquez.
Marc adalah tipe yang sulit untuk mencintai lawan jenisnya. Dan dia adalah orang yang sangat pemilih. Wajar saja, ia bertahan untuk Linda. Dimatanya, Linda adalah sosok perempuan yang sangat sempurna. Cantik, pintar, baik, sangat menyukai anak kecil. Sama seperti dirinya.
To be continued...

No comments:
Post a Comment