Sunday, 7 June 2015

Because I'm Jealous 10 #End



Not sure sih, tapi happy reading ya :)

Seketika Vale langsung membalikkan badannya, mencari seorang yang memanggil namanya. Tepat di hadapannya sudah ada laki-laki bertubuh tegap nan perkasa sudah siap dengan segalanya.

Sial, mengapa aku harus bertemu dengan laki-laki bajingan ini

Vale menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari memutarkan kedua bola matanya. Apa maksud dan tujuan Marc kemari dan menyapanya?

"Apa kabarmu?" tanya Marc bersahabat. Ia menepuk bahu Vale yang lebih tinggi darinya.

Marc menghitung detik demi detik di dalam hatinya. Ia menunggu dan Vale tak kunjung merespon pertanyaan yang di lontarkan dari mulutnya. Ia hanya diam dan terus sibuk memperhatikan Marc, seperti terhipnotis dengan apa yang di lakukannya. 

"Hei, aku ini berbicara padamu." sedikit bentak-an dari Marc. Vale malah menempatkan tangan di pinggangnya dan tetap bersikukuh tak ingin menggubris ucapan Marc. 

Lagi pula, apa untungnya Vale menjawab pertanyaan basa-basi dari Marc? Hanya akan membuat tenggorokkannya kering. Apa mau Marc mengajaknya ke restoran dan mentraktir demi sebuah minuman? Sepertinya tidak.

Marc menghela nafas dan membuangnya dengan sangat kasar. Bermaksud agar Vale segera tahu jika ia tak senang di perilakukan seperti itu. Padahal, awalnya Marc berniat untuk bersilaturahmi dan meminta maaf dengan apa yang di lakukan olehnya. Tapi, niatan itu berubah seketika setelah melihat perilakuan Vale yang kurang menyenangkan.


Apa aku buat Vale agar marah kepadaku? Ah, iya betul. Lagi pula untuk apa aku meminta maaf, tak berguna.

"Okelah. Sebenarnya aku ingin bertanya padamu." ucap Marc perlahan.

"Bagaimana kondisi Linda saat ini?" lanjutnya. Marc memincingkan sebelah matanya, menatap Vale tajam dan sepertinya Vale langsung akan menjawabnya.

"Aku tak tahu." jawab Vale. 

Dugaanku tepat!

"Apakah kau tahu, jika Linda sudah pernah tidur dengan seorang lelaki yang disayanginya?" tanya Marc tak banyak menunda-nunda. Langsung saja ia bertanya seperti itu, pasti Vale lagi-lagi langsung akan menjawab. Ya, hitung-hitung motif balas dendam Marc.

Dengan cepat Vale menggelengkan kepalanya dan memincingkan sebelah matanya. Bau-bau arah pembicaraannya, Marc akan berbicara mengenai hal yang sensitif. Dan ia tak bisa membayangkan, jika seorang Valentino Rossi akan marah dengan pengakuan yang sebenarnya tak pernah terjadi.

"Selama ini, kau tak pernah menidurinya?" Marc berbicara pelan dan membesarkan kedua kelopak matanya.

Mendengar pertanyaan seperti itu, Vale langsung merespon dengan cepat. "Tidak! Aku tak pernah menidurinya. Lagipula siapa yang berani meniduri Linda?" 

Marc bersorak gembira di dalam hatinya. Pancingannya seakan di terima dengan baik oleh Vale. Bodoh, bodoh dan bodoh. Itulah kata yang menggambarkan Vale saat ini. Sedangkan Marc benar-benar cerdik menempatkan situasi seperti ini.

"Kau sudah bertahun-tahun berpacaran dan kau tak pernah berniat untuk menidurinya? Kau bodoh! Menyia-nyiakan tubuh indahnya." 

Seketika Vale mengepal kerah bajunya dengan keras. Membuat Marc sulit untuk menghirup udara. Nafasnya terengah-engah setelah Vale melepaskan kepalan-nya karena orang-orang di sekitar memperhatikannya dengan sinis.

Ia membenarkan kerah bajunya yang kusut dan perlahan mengatur nafasnya. Trik ini benar-benar berhasil, wajah Vale langsung memerah dan kelopak matanya pun ikut memerah.

"Jika kau bertanya siapa yang berani meniduri Linda. Akulah orangnya."

PLAK!

Baku hantam seketika terjadi disana. Vale langsung memukul wajah Marc dengan sangat keras, sehingga keluar darah dari lubang hidungnya dengan deras. Teriakkan pengunjung meramaikan acara pameran yang awalnya berlangsung dengan tenang. Orang-orang berlarian untuk melihat kejadian yang di lakukan Vale dengan Marc. 

"Kau memang benar laki-laki bajingan!" teriak Vale yang berusaha melepaskan genggaman kuat yang ditahan oleh orang-orang di sekitarnya.

"Jika aku bajingan, apa ruginya untukmu?" kembali Marc menjawabnya dengan teriakkan juga.

Petugas keamanan yang bertugas segera menyelesaikan permasalahan ini. Mereka di suruh keluar dari tempat ini dan di usir secara paksa dan kasar.

"Jika kalian ingin ribut, bukan disini tempatnya." ucap petugas keamanan sembari mendorong kedua tubuh mereka dan langsung menutup pintunya.

Marc berusaha menghentikan darah yang mengalir deras dari kedua lubang hidungnya. Ia mengelapkan darah dari hidungnya menggunakan pakaiannya.

Vale menghampiri Marc dan kembali mengepal kerah baju milik Marc,

"Jika kau laki-laki, temui aku di gedung Pallazo jam 10 malam. Jika kau tak datang, dengan tanganku sendiri, aku akan membunuhmu." Vale langsung melepaskan kerah baju Marc kemudian berjalan menuju mobilnya.

Vale menyetir mobilnya dengan asal dan tak mematuhi peraturan lalu lintas. Ia terus memukul-mukul setirnya seakan masih kesal dengan pernyataan Marc, yang sebenarnya hal itu tak pernah terjadi. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah depannya, masuk ke dalam kamar tidurnya dan membanting pintu kamarnya.

Dengan cepat ia mengambil ponsel di saku kantungnya dan perlahan duduk di ranjangnya. Vale menekan icon message dan di ketiknya contact bertuliskan My Honey, ia mengetik pesan yang isinya;

Hai Linda, sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana jika malam ini kita bertemu? Jam 10 malam di gedung Pallazo. See you, Linda.

Ia juga mengirim pesan kepada Stella;

Hai sayang. Aku akan mengajakmu ke gedung Pallazo jam 10 malam nanti, bersiaplah dan aku akan menjemputmu. Love ya.

Apa rencana Vale mengundang mereka ke gedung Pallazo? Kebetulan, pemilik Pallazo ini adalah salah satu teman akrab Vale. Ia meminta izin untuk menggunakannya nanti malam dan meminta lift yang berada di gedung sana jangan di matikan. Lagi pula, sepertinya masih ada beberapa orang yang berada di gedung itu. 

***

Linda yang tengah memeluk guling dan sangat lelah, harus mendengar bunyi nada dering dan getaran yang lumayan kuat. Ia memaksakan bangun untuk melihat notifikasi yang ada di ponselnya. Tepat di layar ponselnya bertuliskan, Message from My Hero.

Sontak Linda terkaget dan menutup mulutnya yang terbuka lebar. Tampar aku! Ia masih terus memandangi layar ponselnya dan belum membuka isi pesannya. Perlahan, ia mengetik kode ponselnya dan membaca isi pesannya dengan pelan.
Nanti malam? Bertemu?

Linda mengambil boneka teddy bear kesayangannya yang dulu di berikan oleh Vale. Ia memeluk boneka itu dengan erat seakan tak percaya dengan semua ini. 

Di balasnya pesan dari Vale;

Oke, Vale. Sampai bertemu nanti :)

Ia bangkit dari ranjangnya, dan membongkar habis isi lemari milik Linda. Ia mengambil satu persatu baju miliknya dan mencoba sekilas di depan kaca, cocok-kah atau tidak. Sekitar satu jam ia mencari baju yang sesuai dengan pertemuannya. Linda memilih dress merah marun tak berlengan, ia pikir pasti Vale akan mengajaknya makan malam. Hanya saja mereka bertemu di gedung Pallazo. Oke, pemikiran yang masuk akal.

07.30 pm, Linda terus memandangi jarum jam yang berputar di dinding kamarnya. Segalanya sudah di persiapkan, accessories yang akan di pakai, sepatu maupun hal yang lainnya. Semuanya harus sempurna! Apalagi, ini pertemuan pertamanya setelah sekian lama. Pertemuan pertama kalinya mereka berdua tanpa ada orang ketiga yang mengganggunya. 

Linda ingin membuat Vale menyesali mengakhiri hubungan dengannya. Ia ingin membuat Vale jatuh cinta lagi kepadanya dan ingin membuatnya tak bisa berpaling darinya. Mungkin, semua wanita di luar sana yang masih mencintai seseorang ingin membuat orang itu seperti apa yang di inginkan Linda. Dan itu cukup masuk akal.

Bagaimana dengan Marc?

Linda tak peduli dengan Marc, bahkan ia tak mengingat kekasihnya karena sedang gembira sebentar lagi ia bertemu dengan Vale. 

Ia bersiap-siap dan beranjak pergi ke kamar mandi. Sekitar setengah jam selesai, Linda memakai baju dan berhias diri didepan kaca rias. Linda sangat pandai bersolek dan memperindah penampilannya. Dan sangat wajar, laki-laki yang melihatnya merasa seperti melihat malaikat. 

09.30 pm, Linda bersiap-siap berangkat dengan penampilan yang sangat cantik dan harum baunya. Perjalanan yang lumayan jauh dari rumahnya ke gedung Pallazo. Sama seperti Linda, Vale bersiap-siap untuk menjemput Stella yang akan menemaninya. Jalanan yang sepi karena hari sudah mulai larut malam tak membuat Vale mengingkari janjinya.

"Hai Vale." sapa Stella masuk ke dalam mobilnya.

Mereka menuju gedung Pallazo dan belum ada satupun di antara mereka yang datang. Vale dan Stella keluar dari mobil dan menunggunya di parkiran.

"Ngapain kita disini?" tanya Stella.

Vale tak menjawabnya. Ia sibuk menghentak-hentakkan kakinya dan terus melihat jam arloji yang di lilitkannya di tangan kirinya. Setelah beberapa menit menunggu, secara bersamaan Linda dan Marc datang menggunakan mobil yang berbeda.

Dengan wajah yang sangat bergairah, Linda keluar dari mobil dan menoleh ke arah Marc yang bersamaan sedang keluar. 

"Marc, ngapain kamu disini?" tanya Linda yang berpenampilan seperti ingin berpesta.

"Justru aku yang nanya, ngapain kamu disini. Ini sudah malam, sayang." jawab Marc menyentuh lengan tangan Linda.

Mereka. Stella, Marc dan Linda bingung. Mengapa mereka di perkumpulkan secara bersamaan? Sang pacar mencium gelagat tak enak dari Vale. Mereka di suruh mengikutinya dari belakang menaiki lift sampai ke paling atas.

Suasana menegang, begitupun dengan Linda yang awalnya sudah memikirkan jika ia bertemu dengan Vale apa yang ingin ia lakukan dan ia katakan. Tapi semua itu tak terjadi.

Mereka akhirnya sampai ke gedung paling atas, Marc, Linda dan Stella terus membuntuti Vale di belakangnya. 

"Stella.." ucap Vale di tengah-tengah hembusan angin di gedung paling atas dan ditemani dengan kelipan bintang-bintang dan terangnya bulan.

"Maafkan aku selama ini. Sebenarnya..." Vale menarik nafas panjang.

"Sebenarnya saat kita kembali, aku hanya melampiaskan perasaan ku padamu. Aku tahu aku jahat, aku begini karena aku berusaha melupakan Linda. Marc adalah penyebab semua ini. Jika Marc tak mengganggu hubunganku dengan Linda, mungkin aku, kamu dan Linda tak ada yang tersakiti." lanjut Vale sembari memegang kedua punggung tangan Stella.

Stella tertegun mendengar perkataan yang pastinya membuat perasaannya sakit. Memang benar apa yang orang lain bilang, jika kita kembali ke masa lalu, sama saja membuat kesalahan yang sama. Stella kira, perasaan Vale benar-benar tulus setelah pengakuannya itu. Ternyata omongannya omong kosong!

"Sudah cukup tadi aku memukulmu. Sekarang, aku tak mau memukulmu atau menyakitimu. Aku hanya butuh penjelasanmu." ucap Vale kepada Marc.

Vale terus memandangi Stella dengan wajah yang bersalah. Ia memeluknya dengan erat sembari mencium kening Stella.

Linda yang melihat laki-laki yang di sayanginya itu memeluk dan mencium kening wanita lain, ia langsung memisahkan mereka dengan secara paksa.

"Cukup sudah!" Linda melayangkan tangannya dan di daratkannya dengan keras. 

"Cukup semua sandiwaraku!" teriaknya.

Marc berusaha menenangkan Linda sembari memeluknya. Tapi pelukannya dengan kasar di tolaknya dan di dorongnya tubuh tegap Marc.

"Kau pikir enak sandiwara seperti ini dan membohongi perasaan sendiri? Dan kau pikir aku cinta dengan Marc? Tidak, aku tidak mencintainya!" 

"Aku berusaha untuk melupakan Vale dan aku tahu di depanku ada laki-laki yang mencintaiku sedari dulu dan rela melakukan apa saja demi mendapatkanku. Dan aku juga sudah berusaha untuk mencintaimu, Marc. Tapi maaf, usahaku tak berhasil. Aku masih cinta dengan Vale." lanjutnya sembari berusaha menahan air matanya yang sebentar lagi akan tumpah.

Tangan Marc bergemetar, lagi-lagi ia di sakiti oleh wanita yang di cintainya. Marc dengan cepat lari ke tepi gedung, jika kau salah injak saja, akan membuatmu kehilangan nyawa. Vale, Linda dan Stella langsung menghampiri Marc setelah melihat aksi nekat dan gilanya.

"Marc, turun! Apa kau gila?" Vale menarik baju Marc. Niatnya itu malah di sambut Marc dengan menarik baju Vale kembali. Sehingga mereka kini ada di tepi gedung berdua.

"Marc, kau benar-benar gila!" teriak Linda dan Stella histeris.

Marc menoleh ke belakang melihat ke arah Linda, "Sekarang, kau harus memutuskan. Pilih aku atau Vale? Jika kau memilihku dan berjanji akan mencintaiku dan kau tak boleh bertemu dengan Vale, aku dan dia akan selamat dan kita langsung akan pulang. Tapi, jika kau memilih Vale, aku akan menarik Vale dan kita akan mati bersama. Dan kau harus tahu, aku seperti ini karena aku tak rela melihatmu kembali bersama Vale."

Lutut Linda lemas dan spontan langsung terjatuh. Sudah tak peduli depan make up, pakaian, sepatu, rambut atau apapun itu. Kini, dua nyawa laki-laki itu ada di tangannya. Linda mengayunkan tangannya kepada Stella dan berbisik ke telinganya, seperti berencana melakukan sesuatu.

Mereka bangkit dengan posisi masing-masing yang sudah di rencanakan. Stella kini di belakang Vale dan Linda berada tepat di belakang Marc. Terlihat wajah ketakutan dari wajah Vale, ia hanya bisa berdoa kepada tuhan apapun yang terjadi hari ini, malam ini dan di gedung ini. 

"Cepat, apa jawabanmu, Linda!" perintah Marc.

Linda memberi kode kepada Stella dengan mengacungkan jari tangannya,

"Aku sayang padamu, Marc. Tapi maaf, aku pilih Vale." ucap Linda dan Stella langsung menarik Vale ke belakang. Dan Marc, perlahan menjatuhkan badannya, istilahnya adalah bunuh diri.

"Tidak!!!" Linda menahan tubuh Marc sampai ia rela menjatuhkan badannya ke tanah. Ia masih menahan satu tangan Marc yang ia raih.

"Tidak Linda, tolong lepaskan aku. Aku rela mati daripada harus melihatmu dengan laki-laki yang lain. Aku sudah lelah memperjuangkanmu yang hasilnya nihil. Dan percuma aku hidup jika kau bersamaku hanya sandiwara saja." Marc berusaha melepaskan raihan tangan Linda.

"Aku sayang padamu, Marc." tetesan air mata Linda terjatuh mengenai wajah Marc yang sudah pasrah.

"Lepaskan aku!" Marc memberontak dan raihan tangannya terlepas begitu saja.

"Tidak..!!!!" teriak Linda melihat Marc yang jatuh melayang.

Vale setelah di tarik oleh Stella langsun tak sadarkan diri karena ketakutan yang ia rasakan. Linda dan Stella membawa Vale perlahan ke bawah dengan keadaan mata yang lembab. Vale di bawah ke dalam mobilnya dan mereka melihat Marc walaupun mereka tahu ia hanya tinggal melihat mayat dan darah berserakan dimana-mana.

Sudah banyak orang yang membantu Marc. Matinya sangat memprihatinkan dan tak mulia. Mayat Marc di bawah ke Rumah Sakit dan mereka menghubungi keluarga Marquez.

***

Semua berjalan dengan cepat. Kini, Marc sudah tiada. Kenangan buruk dan manis tak akan pernah dilupakan. Vale dan Marc yang sudah bersahabat sejak lama walaupun berakhir seperti ini, Linda yang di perilakukan seperti ratu oleh Marc. Begitupun dengan keluarganya yang pasti kenangannya akan membekas di hati mereka.

"Aku turut berduka cita." ucap Linda kepada Roser selaku mama dari Marc, Julia selaku ayah dari Marc dan Alex selaku adik dari Marc. 

Linda di temani oleh Vale turut berduka atas kejadian mati bunuh diri yang di lakukan Marc. 

"Linda?" ucap Roser yang terus berusaha tangisannya menggunakan tisu.

"Marc menitipkan surat ini untukmu. Seperti sudah tahu jika ia tak lama lagi hidup di dunia." lanjutnya memberikan amplop bewarna pink bermotif love kepada Linda.

Linda menerimanya dan langsung membacanya, isinya;

Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada tuhan. Tepat hari ini, aku mencintai Linda dua tahun yang lalu. Ia adalah segalanya untukku, ia telah mengisi hari-hariku dan kini aku tlah mendapatkannya setelah berjuang dan memendam perasaan yang lama. Aku sangat mencintaimu, Linda. Melebihi apapun itu. Jika kau tahu perjuanganku mendapatkanmu, mungkin saat itu juga kau menerimaku. Dan kau tahu, rasa sakitku saat aku melihatmu berdua dengan Vale sangatlah sakit, seperti di tusuk dengan pisau lalu ditusuk kembali. Kau dipeluknya, dicium bibirnya dan aku tak tahu apa yang kau lakukan selain itu. Kau mungkin bisa membayangkan perasaanku saat itu. Bukannya aku tak mencoba untuk tak mencintaimu, tapi nyatanya perasaan ini makin berkembang. 

Entah mengapa aku menuliskan surat ini untukmu, Linda. Seakan hidupku tak lama lagi, tapi semoga hanya perasaanku saja. Dan di amplop ini, aku memberimu kalung berliontin burung. Mungkin, kau mengerti apa maksud dari liontin ini. Aku mencintaimu, Linda. Mungkin suatu saat nanti, di alam lain, kita akan bertemu kembali.

Marc Marquez Alenta.

Tetesan air mata membasahi kertas yang dibacanya. Ia memeluk kertas itu dengan erat dan langsung memasang kalung pemberian dari Marc.

Semoga kau tenang di alam sana. 

Salam Linda, wanita kesayangamu.

The end...

No comments:

Post a Comment