Wednesday, 19 November 2014

Oneshot : The Very Last Thing I Could Do

Cast: 

- Marc Marquez Alenta


- Sydney


- Valentino Rossi


By: Tio Mutia Hafizah


“Sydney..” pria itu mengetuk pintu kamar bercat putih yang masih tertutup rapat. Terdengar sautan dari dalam, menyuruhnya masuk. Dengan cepat pria itu membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya.
           
“Sydney, aku sudah mencari informasi dari berbagai rumah sakit di Barcelona, tidak ada satupun yang memiliki donor mata untukmu. Aku minta maaf” ujar pria itu lesu. Pria itu menundukkan kepalanya sambil berjongkok di hadapan wanita tersebut, membuat tubuhnya sejajar dengan wanita yang sedang duduk di tepi kasurnya.

            Wanita itu hanya tersenyum.

            “Tidak apa-apa Marc, terimakasih banyak” wanita itu tertawa pelan, penuh keperihan. Ia memang terlahir berkecukupan, lebih dari berkecukupan mungkin. Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya raya di Spanyol dan ibunya adalah salah satu tokoh paling disegani di bidang pemerintahan. Namun, saat umurnya baru menginjak usia 12 tahun, seluruh kebahagiaannya direnggut oleh kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ayahnya dan... penglihatannya. Semenjak itu, ibunya mengalami gangguan jiwa dan ia tinggal bersama bibinya di Barcelona. Dan di hadapannya kini, adalah pria yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, pria yang sangat ia sayangi, pria yang hanya terpaut 2 tahun dari usianya, namun telah bisa menggantikan figur seorang ayah baginya. Marc Marquez Alenta. Anak laki-laki satu-satunya dari bibinya—yang telah ia anggap sebagai ibunya—Roser Alenta.

            Marc menggenggam tangannya. Mengunci pandangannya pada wajah cantik Sydney.
            “Aku akan berusaha mencari donor mata itu, untukmu. Kau boleh pegang janjiku Sydney” ucapnya penuh keyakinan, yang hanya membuat hati Sydney semakin perih. Sudah tujuh tahun ia hidup tanpa bisa melihat apa-apa karena tidak adanya donormata yang cocok untuknya.
            “Sudahlah Marc, tidak apa-apa. Aku ingin berjalan-jalan sebentar di taman kota” ujarnya sambil tersenyum.

            “Mau aku temani?” tanya Marc.
            “Tidak. Kau bisa mengantarku kesana, tapi aku ingin sendiri. Kau keberatan?”
            “Tidak, tidak..aku tidak keberatan” Marc tersenyum. “Baiklah Tuan Putri, kau sudah siap?” Sydney tertawa mendengar kata-kata Marc. Marc meraih tangan Sydney dan menuntunnya keluar kamar.

***

            Sydney duduk di kursi taman, kursi yang sama setiap kali ia datang ke taman ini. Ia menggigit bibir bawahnya, kepalanya menunduk. Ingin rasanya ia menumpahkan tangisannya sekarang. Ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya ingin menangis sejadi-jadinya, menangisi takdirnya, menangisi kedua orang tuanya dan... menangisi penglihatannya. Bahunya masih bergetar saat seseorang, seorang pria tepatnya, duduk di sampingnya dan menenangkannya.

            “Hey, tidak selamanya kehidupan ini berjalan indah. Ada kalanya kau dibawah, dan ada kalanya kau di atas. Bersyukurlah kau masih diberi kehidupan sampai saat ini” ujar pria tadi sambil menyodorkan sebuah sapu tangan. “Ambillah” ujarnya sambil tersenyum.
            Sydney mengambil sapu tangan tersebut. “Terimakasih”

            “Namaku Valentino, kau bisa memanggilku Vale, kau?” tanya si pria setelah ia melihat wanita di sampingnya mulai tenang.
            “Aku Sydney.. Sydney Alenta” ujarnya.
            “Jadi.. apa yang membuatmu menangis seperti ini?” tanya Vale berharap ia tidak menyinggung wanita di sampingnya karena bertanya terlalu jauh.
            “Aku...” wanita itu menelan ludahnya. “Aku sudah buta selama tujuh tahun. Aku telah banyak merepotkan keluarga bibiku. Aku telah banyak berhutang pada kakakku. Aku ingin kembali normal” ujar wanita itu. Ia sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa ia dengan mudahnya menceritakan masalahnya pada seseorang yang baru saja ia kenali.

            Vale tersenyum. “Suatu saat nanti, aku yakin, ada waktunya kau bisa melihat dunia ini kembali” ujarnya sambil menatap wanita itu. Sydney hanya memberi seulas senyum, berharap perkataan pria di hadapannya akan terwujud.

            “Kau tahu, ada saatnya kau berharap kau tidak bisa melihat.. melihat kejadian menyakitkan dalam hidupmu. Terkadang aku ingin mataku rusak atau apapun agar aku tidak perlu melihat bagaimana tragisnya kematian ayahku” Vale menarik napas panjang. “Sydney, hanya karena kau tidak bisa melihat dunia, bukan berarti kau orang paling tidak beruntung di dunia ini. Ini adalah bagaimana kau melihat kekuranganmu, sebagai sesuatu yang memacumu untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, atau sesuatu yang membuat hidupmu hancur” lanjutnya.

            Sydney terdiam. Pria ini benar, pikirnya.
            “Terimakasih..” Sydney mengumbar kembali seulas senyum tulus. “Mungkin kau benar, aku harus tetap berjuang” Vale tersenyum.
            “Omong-omong, kau sering kemari?” tanya Sydney.
            “Tentu. Setiap hari. Aku senang melukis, dan disini aku mendapat banyak inspirasi untuk melukis. Aku juga sering mengajarkan anak-anak disini untuk melukis. Kau sendiri?”
            “Tidak setiap hari tapi cukup sering” Vale mengangguk.
            “Mau ice cream?” ujar Vale. Sydney langsung mengiyakan dengan semangat. Vale tertawa melihat respon Sydney.
            “Tunggu disini, jangan kemana-mana, okay?” Sydney mengangguk.

***
            Semenjak hari itu, Sydney rutin datang ke taman kota hanya sekedar untuk berbincang dengan Vale. Vale, pria itu telah mengubah jalan pikirannya. Pria itu selalu menyemangatinya setiap ia ada dalam masalah dan, tentu, pria itu suka membelikannya ice cream. Sydney selalu merasa nyaman setiap ia ada disamping Vale. Rasa dilindungi, rasa diperhatikan dan rasa disayangi akhirnya ia dapatkan dari Vale.

            Bahkan ia telah mengenalkan Vale pada Marc, pria yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Marc tentu sangat senang mendengar cerita tentang Vale dari Sydney. Ia menaruh kepercayaannya pada Vale untuk selalu melindungi adiknya.

            Sore itu Sydney, seperti biasanya, duduk di bangku ‘kesayangannya’ menunggu Vale. Ia tersenyum saat mendengar suara Vale menyapanya dari belakang.
            “Selamat sore Tuan Putri” ujar Vale sambil tertawa di telinga Sydney.
            Sydney tertawa juga. “Kau.. kau tidak boleh memanggilku seperti itu. Yang boleh memanggilku dengan sebutan itu hanya Marc” ujarnya sambil tertawa.
            “O iya? Baiklah kalau begitu, ibu peri” terdengar tawa renyah dari keduanya.
            “Vale, aku punya kabar untukmu” ujar Sydney sambil tersenyum.
            “Aku tidak sabar mendengarnya”
            Sydney tertawa. Pria di sampingnya ini sangat tahu bagaimana cara untuk membuatnya tersenyum.

            “Well, get ready..” Sydney tersenyum. “Aku... aku dapat donor mata, Vale!! AKU DAPAT DONOR MATA!!” ujar Sydney bersemangat dan diikuti tawa bahagia dari Vale. Vale memeluk Sydney dan memberi ucapan selamat padanya.
            Aku bahagia untukmu, Sydney. Ia tersenyum dalam pelukannya. Setelah itu, semuanya terlihat gelap. Ia tak bisa mendengar apa-apa lagi selain teriakkan minta tolong dari Sydney...

***
            Sudah tiga hari Sydney datang ke taman kota dan tidak menjumpai Vale disana. Mungkin ia masih harus istirahat, pikirnya. Padahal niatnya datang kemari adalah untuk memberi tahu Vale jika esok adalah hari paling penting dalam hidupnya, hari dimana ia akhirnya bisa melihat dunia kembali.
            Ia menikmati ice cream yang biasa Vale belikan untuknya. Sangat ganjil rasanya menikmati ice cream itu tanpa hadirnya Vale di sampingnya.
            Aku hanya ingin memberitahumu, Vale, aku sayang padamu, dan aku ingin kau ada di sisiku di momen paling bersejarah dalam hidupku, besok.

***
            Sydney terbangun di dalam ruangan dengan bau yang sudah tidak asing baginya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ucapan Marc sesaat sebelum ia masuk ke meja operasi.
            “Setelah ini, kau bisa melihat kembali dunia ini, Sydney!”

            Ia merasa masih ada sesuatu yang menghalangi di matanya. Sesuatu yang seperti sengaja menghalanginya untuk kembali melihat dunia. Ingin rasanya ia mencabut sendiri perban yang menutupi matanya itu agar ia bisa dengan cepat melihat semuanya. Melihat Bibi Roser, Paman Julia, Marc dan... Vale.
            “Selamat pagi Ms. Sydney, sudah siap untuk melihat kembali?” tanya sebuah suara wanita di dekatnya. Ia yakin itu suara dokter bedah matanya. Ia mengangguk pasti. Ia mendengar suara tawa Marc di dekatnya, bersama Bibi Roser dan Paman Julia.

            Satu per satu perban di matanya dibuka. Awalnya ia tersentak oleh cahaya yang menyilaukan matanya. Namun, secara perlahan ia memberanikan diri untuk melawan silaunya cahaya itu.
            “Bagaimana Sydney?” tanya Marc sambil mengelus rambutnya.
            “Kau... buram sekali” ucap Sydney yang sedikit membuat Marc khawatir.
            “Tenang saja, itu wajar di hari-hari awal. Setelah beberapa hari, ia akan melihat dengan jelas” ujar Dr. Marie setelah melihat ekspresi khawatir Marc. Mereka mengangguk paham.
            “Kau akan melihat dunia, Sydney..” bisik Marc pada adiknya itu sambil mengelus rambutnya dan mengecup keningnya sekilas. Sydney tersenyum.

            Tiga hari berjalan sangat lambat bagi Sydney. Pagi ini ia terbangun dengan pandangan yang sudah tidak terlalu buram. Ia bisa melihat sekeliling kamarnya dan tersenyum.
            “Terakhir kali aku melihat rumah sakit, peralatannya tidak sebanyak ini” ujarnya. Ia melihat pintu terbuka.
            “Pagi Sydney!” seru pria itu dari bibir pintu kamar Sydney.
            Sydney mengernyitkan dahinya lalu menutup mulutnya. Marc?
            “Astaga Marc! Aku sekarang mengerti mengapa banyak wanita yang mengejarmu!” seru Sydney saat Marc berjalan mendekati kasurnya. Marc tertawa.
            “Kau sudah bisa melihat dengan jelas, hmm?”
            “Cukup jelas” ujar Sydney sambil tersenyum. “Astaga kau tampan sekali!”
            “Kau pun cantik sekai, Tuan Putri. Kau harus lihat wajahmu di cermin” balas Marc tertawa.
            “Baiklah..” ujar Sydney sambil tersenyum. “Omong-omong, jika aku telah diizinkan pulang, aku ingin bertemu Vale”
            Marc hanya mengulas senyum sambil mengelus rambut Sydney...

***
            Tiga hari kemudian Sydney sudah dinyatakan cukup fit untuk pulang. Ia dituntun oleh Marc sampai masuk ke kamarnya sendiri. Ia tersenyum. Cat dinding kamarnya berwarna ungu muda, warna kesukaannya dan disana terdapat banyak fotonya dan Marc dengan Bibi Roser dan Paman Julia.
            “Kau suka kamarmu?” tanya Marc. Sydney mengangguk.
            “Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu” ujar Marc sambil mengeluarkan sebuah kaset dari sakunya. Sydney mengernyitkan dahinya.
            “Apa itu?”

            Marc hanya tersenyum sambil menuntun Sydney ke sisi kasur yang dekat dengan TV di kamarnya.
            Kaset itu telah diputar. Sydney tersenyum. Ia melihat gambar Vale dan dirinya saat mereka saling berbincang di taman. Juga foto dirinya dan Vale bersama anak-anak yang sering bermain disana sambil belajar melukis pada Vale. Ia juga melihat foto lukisan dirinya yang dibuat oleh Vale bersama anak-anak yang usia rata-ratanya sekitar tujuh tahun. Lalu tak lama muncul sebuah video yang memperlihatkan Vale berbicara untuknya.

            “Hai Sydney, aku minta maaf aku tidak bisa hadir di hari yang mungkin paling bersejarah bagimu. Aku sangat bahagia kau akhirnya bisa melihat dunia kembali. Berjanjilah padaku kau tidak boleh menangis lagi di taman seperti waktu kita pertama kali bertemu, okay?” Sydney terkekeh saat membayangkan pertemuan pertama mereka. Saat Sydney sedang menangis dan Vale memberikannya sapu tangan dan sebuah ice cream. Bahkan sapu tangannya masih ia simpan sampai sekarang.

            “Aku harap kau menjaga matamu. Mungkin saat kau sudah bisa melihat dunia, aku sudah tidak ada. Maka dari itu aku membuat video ini agar kau bisa melihatku dan selalu merasa aku dekat denganmu” nafas Sydney tercekat saat mendengar kata-kata Vale. Lidahnya kelu untuk bertanya pada Marc apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya melirik Marc tapi Marc menyuruhnya untuk tetap menonton video itu.
            “Sydney ketahuilah, aku masih bisa melihat dunia melalui matamu...” Sydney menutup mulutnya. Nafasnya masih tercekat. Saat ini ia bahkan lupa cara untuk bernafas dengan benar. Ia meremas tangan Marc.

            “Sydney, kita mungkin sudah terpisah jauh, namun ketahuilah aku sangat dekat denganmu. Aku bisa melihat apa yang kau lihat. Aku bisa melihat kebahagiaanmu di masa depan nanti. Aku bisa melihat indahnya dunia dan setiap tempat yang kau jejaki walau aku tidak ada disana. Berjanjilah kalau kau tidak akan menangis untukku, karena kini, tangismu adalah tangisku.” Sydney sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia tahu, mungkin Vale akan marah padanya karena ia menangis. Ia menjerit sejadi-jadinya dan Marc tidak memaksanya untuk berhenti menangis.
            “Sydney, tolong jaga satu-satunya bagian dari tubuhku yang masih tersisa di dunia ini. Aku sayang padamu. Selamat tinggal. Aku harap kita bisa bertemu di tempat yang jauh lebih baik dari dunia ini suatu saat nanti” kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang ia dengar dari video yang diberikan Vale. Ia masih menangis sejadi-jadinya di pelukkan Marc. Ia menumpahkan semua air matanya. Nafasnya sesak, lidahnya kelu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Marc meraih wajahnya dan menghapus air mata dari pipinya.

            “Sydney, dermawan yang telah mendonorkan matanya untukmu adalah Vale. Dia meninggal sesaat setelah pertemuan terakhirmu dengannya” Sydney kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Vale, saat Vale pingsan dalam pelukannya.
            “A-apa yang membuatnya me-meninggal?” paru-parunya sesak saat ia menanyakan itu pada Marc.

            “Kanker otak stadium IV. Ia tidak bisa tertolong. Saat ia pingsan di taman, disana semua saraf di otaknya sudah diserang oleh sel-sel kanker tersebut. Dia sempat dinyatakan lumpuh sebelum ia dinyatakan meninggal secara medis” jelas Marc sambil menahan air matanya yang sudah nyaris tumpah.
            “Dan.. dan kau bahkan ti-tidak memberitahuku te-tentang i-ini?” ujar Sydney sambil masih terisak di pelukan Marc. Marc membelai rambutnya.
            “Aku bersama keluarganya saat pemakamannya, saat itu kau masih baru selesai operasi dan aku ingin kau mengetahuinya setelah kondisimu sudah tidak lemah lagi” Sydney kembali menangis. Dadanya sesak. Pikirannya penuh oleh kata-kata Vale. Ia merasa panca indranya lumpuh saat itu juga.
            Sydney menarik napas panjang. “Aku.. aku ingin kau membawaku ke makamnya”

***

            Sydney duduk di kursi kesayangannya. Ia masih ingat, dua bulan yang lalu, ada pria yang menenangkannya saat ia menangis dan memberikannya sapu tangan. Dan belum sampai satu jam mereka berkenalan, pria itu telah membelikannya ice cream yang sampai saat ini masih ia ingat betul manis rasanya.

            Ia masih ingat bagaimana ia rutin mengunjungi taman kota ini hanya untuk berbincang dengan pria itu. Pria yang ia anggap sebagai motivasinya untuk bertahan sampai saat ini. Pria yang terus menyemangatinya untuk tetap hidup dan berjuang. Pria yang telah mengubah jalan pikirnya. Dan.. pria yang telah memberinya kesempatan untuk melihat kembali dunia.

            Ia juga masih ingat betul detail saat Marc membawanya ke areal pemakaman dan bagaimana dirinya menangis histeris berharap tangisannya membawa pria yang namanya tertulis di batu nisan itu berdiri di belakangnya dan mengatakan ini hanya gurauan.
            Sydney mendesah pelan. Memori tentang Vale masih belum bisa ia lupakan. Suaranya, candanya, tawanya, dan video terakhirnya.

            Ia mengambil sesuatu dari tas kecilnya.
            “Kau bilang kau bisa melihat apa yang kulihat kan?” Sydney tersenyum. “Kau ingat ini? Sapu tangan yang kau berikan saat aku menangis tepat di kursi ini. Aku masih menyimpannya Vale”
            “Vale, kau tahu, aku kini bisa melihat dunia dengan jelas. Aku bisa melihat bagaimana indahnya taman ini, yang kini aku mengerti mengapa kau sangat senang kemari untuk mendapatkan inspirasi untuk melukis” Sydney terkekeh pelan.

            “Kau ingat anak-anak yang sering kau ajari melukis? Banyak orang yang meminati lukisan mereka, Vale. Mereka mendapat uang dari lukisan mereka pada umur tujuh tahun! Tujuh tahun, Vale!”
            “Kau memang sudah tidak ada, tapi kau tidak sepenuhnya meninggalkan kami. Jasamu pada anak-anak itu, dan... matamu” Sydney tersenyum. “Tanpa matamu, aku tidak bisa melihat dunia ini kembali dan tanpa matamu...” Sydney berhenti.
            “Tanpa matamu, aku tidak mungkin bisa diterima di Harvard Medical School” Sydney tersenyum bahagia mengingat dulu ia sangat sulit masuk universitas itu karena terhalang oleh kekurangannya, walau ia tahu otaknya mampu.
            “Kau sudah meninggalkan kami semua, tapi kau akan tetap hidup di hati kami, Valentino Rossi...”
-THE END-

No comments:

Post a Comment