Cast:
- Marc Marquez Alenta
- Sydney
- Valentino Rossi
By: Tio Mutia Hafizah
“Sydney..” pria itu mengetuk pintu kamar bercat putih yang masih tertutup rapat. Terdengar sautan dari dalam, menyuruhnya masuk. Dengan cepat pria itu membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya.
“Sydney, aku sudah mencari informasi dari berbagai rumah sakit di Barcelona, tidak ada satupun yang memiliki donor mata untukmu. Aku minta maaf” ujar pria itu lesu. Pria itu menundukkan kepalanya sambil berjongkok di hadapan wanita tersebut, membuat tubuhnya sejajar dengan wanita yang sedang duduk di tepi kasurnya.
Wanita itu hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa Marc, terimakasih banyak” wanita itu
tertawa pelan, penuh keperihan. Ia memang terlahir berkecukupan, lebih dari
berkecukupan mungkin. Ayahnya adalah seorang pengusaha kaya raya di Spanyol dan
ibunya adalah salah satu tokoh paling disegani di bidang pemerintahan. Namun,
saat umurnya baru menginjak usia 12 tahun, seluruh kebahagiaannya direnggut
oleh kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ayahnya dan... penglihatannya.
Semenjak itu, ibunya mengalami gangguan jiwa dan ia tinggal bersama bibinya di
Barcelona. Dan di hadapannya kini, adalah pria yang telah ia anggap sebagai
kakaknya sendiri, pria yang sangat ia sayangi, pria yang hanya terpaut 2 tahun
dari usianya, namun telah bisa menggantikan figur seorang ayah baginya. Marc
Marquez Alenta. Anak laki-laki satu-satunya dari bibinya—yang telah ia anggap
sebagai ibunya—Roser Alenta.
Marc menggenggam tangannya. Mengunci pandangannya pada
wajah cantik Sydney.
“Aku akan berusaha mencari donor mata itu, untukmu. Kau
boleh pegang janjiku Sydney” ucapnya penuh keyakinan, yang hanya membuat hati
Sydney semakin perih. Sudah tujuh tahun ia hidup tanpa bisa melihat apa-apa
karena tidak adanya donormata yang cocok untuknya.
“Sudahlah Marc, tidak apa-apa. Aku ingin berjalan-jalan
sebentar di taman kota” ujarnya sambil tersenyum.
“Mau aku temani?” tanya Marc.
“Tidak. Kau bisa mengantarku kesana, tapi aku ingin
sendiri. Kau keberatan?”
“Tidak, tidak..aku tidak keberatan” Marc tersenyum.
“Baiklah Tuan Putri, kau sudah siap?” Sydney tertawa mendengar kata-kata Marc.
Marc meraih tangan Sydney dan menuntunnya keluar kamar.
***
Sydney duduk di kursi taman, kursi yang sama setiap kali
ia datang ke taman ini. Ia menggigit bibir bawahnya, kepalanya menunduk. Ingin
rasanya ia menumpahkan tangisannya sekarang. Ia tidak peduli dengan orang-orang
di sekitarnya. Ia hanya ingin menangis sejadi-jadinya, menangisi takdirnya,
menangisi kedua orang tuanya dan... menangisi penglihatannya. Bahunya masih
bergetar saat seseorang, seorang pria tepatnya, duduk di sampingnya dan
menenangkannya.
“Hey, tidak selamanya kehidupan ini berjalan indah. Ada
kalanya kau dibawah, dan ada kalanya kau di atas. Bersyukurlah kau masih diberi
kehidupan sampai saat ini” ujar pria tadi sambil menyodorkan sebuah sapu
tangan. “Ambillah” ujarnya sambil tersenyum.
Sydney mengambil sapu tangan tersebut. “Terimakasih”
“Namaku Valentino, kau bisa memanggilku Vale, kau?” tanya
si pria setelah ia melihat wanita di sampingnya mulai tenang.
“Aku Sydney.. Sydney Alenta” ujarnya.
“Jadi.. apa yang membuatmu menangis seperti ini?” tanya
Vale berharap ia tidak menyinggung wanita di sampingnya karena bertanya terlalu
jauh.
“Aku...” wanita itu menelan ludahnya. “Aku sudah buta
selama tujuh tahun. Aku telah banyak merepotkan keluarga bibiku. Aku telah
banyak berhutang pada kakakku. Aku ingin kembali normal” ujar wanita itu. Ia
sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa ia dengan mudahnya menceritakan
masalahnya pada seseorang yang baru saja ia kenali.
Vale tersenyum. “Suatu saat nanti, aku yakin, ada
waktunya kau bisa melihat dunia ini kembali” ujarnya sambil menatap wanita itu.
Sydney hanya memberi seulas senyum, berharap perkataan pria di hadapannya akan
terwujud.
“Kau tahu, ada saatnya kau berharap kau tidak bisa
melihat.. melihat kejadian menyakitkan dalam hidupmu. Terkadang aku ingin
mataku rusak atau apapun agar aku tidak perlu melihat bagaimana tragisnya
kematian ayahku” Vale menarik napas panjang. “Sydney, hanya karena kau tidak
bisa melihat dunia, bukan berarti kau orang paling tidak beruntung di dunia
ini. Ini adalah bagaimana kau melihat kekuranganmu, sebagai sesuatu yang
memacumu untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, atau sesuatu yang
membuat hidupmu hancur” lanjutnya.
Sydney terdiam. Pria ini benar, pikirnya.
“Terimakasih..” Sydney mengumbar kembali seulas senyum
tulus. “Mungkin kau benar, aku harus tetap berjuang” Vale tersenyum.
“Omong-omong, kau sering kemari?” tanya Sydney.
“Tentu. Setiap hari. Aku senang melukis, dan disini aku
mendapat banyak inspirasi untuk melukis. Aku juga sering mengajarkan anak-anak
disini untuk melukis. Kau sendiri?”
“Tidak setiap hari tapi cukup sering” Vale mengangguk.
“Mau ice cream?” ujar Vale. Sydney langsung mengiyakan
dengan semangat. Vale tertawa melihat respon Sydney.
“Tunggu disini, jangan kemana-mana, okay?” Sydney
mengangguk.
***
Semenjak hari itu, Sydney rutin datang ke taman kota
hanya sekedar untuk berbincang dengan Vale. Vale, pria itu telah mengubah jalan
pikirannya. Pria itu selalu menyemangatinya setiap ia ada dalam masalah dan,
tentu, pria itu suka membelikannya ice cream. Sydney selalu merasa nyaman
setiap ia ada disamping Vale. Rasa dilindungi, rasa diperhatikan dan rasa
disayangi akhirnya ia dapatkan dari Vale.
Bahkan ia telah mengenalkan Vale pada Marc, pria yang
sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri. Marc tentu sangat senang
mendengar cerita tentang Vale dari Sydney. Ia menaruh kepercayaannya pada Vale
untuk selalu melindungi adiknya.
Sore itu Sydney, seperti biasanya, duduk di bangku
‘kesayangannya’ menunggu Vale. Ia tersenyum saat mendengar suara Vale
menyapanya dari belakang.
“Selamat sore Tuan Putri” ujar Vale sambil tertawa di
telinga Sydney.
Sydney tertawa juga. “Kau.. kau tidak boleh memanggilku
seperti itu. Yang boleh memanggilku dengan sebutan itu hanya Marc” ujarnya
sambil tertawa.
“O iya? Baiklah kalau begitu, ibu peri” terdengar tawa
renyah dari keduanya.
“Vale, aku punya kabar untukmu” ujar Sydney sambil
tersenyum.
“Aku tidak sabar mendengarnya”
Sydney tertawa. Pria di sampingnya ini sangat tahu
bagaimana cara untuk membuatnya tersenyum.
“Well, get ready..” Sydney tersenyum. “Aku... aku dapat
donor mata, Vale!! AKU DAPAT DONOR MATA!!” ujar Sydney bersemangat dan diikuti
tawa bahagia dari Vale. Vale memeluk Sydney dan memberi ucapan selamat padanya.
Aku bahagia
untukmu, Sydney. Ia tersenyum dalam pelukannya. Setelah itu, semuanya
terlihat gelap. Ia tak bisa mendengar apa-apa lagi selain teriakkan minta
tolong dari Sydney...
***
Sudah tiga hari Sydney datang ke taman kota dan tidak
menjumpai Vale disana. Mungkin ia masih harus istirahat, pikirnya. Padahal
niatnya datang kemari adalah untuk memberi tahu Vale jika esok adalah hari
paling penting dalam hidupnya, hari dimana ia akhirnya bisa melihat dunia
kembali.
Ia menikmati ice cream yang biasa Vale belikan untuknya.
Sangat ganjil rasanya menikmati ice cream itu tanpa hadirnya Vale di
sampingnya.
Aku hanya ingin
memberitahumu, Vale, aku sayang padamu, dan aku ingin kau ada di sisiku di
momen paling bersejarah dalam hidupku, besok.
***
Sydney terbangun di dalam ruangan dengan bau yang sudah
tidak asing baginya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ucapan Marc sesaat
sebelum ia masuk ke meja operasi.
“Setelah ini, kau bisa melihat kembali dunia ini,
Sydney!”
Ia merasa masih ada sesuatu yang menghalangi di matanya.
Sesuatu yang seperti sengaja menghalanginya untuk kembali melihat dunia. Ingin
rasanya ia mencabut sendiri perban yang menutupi matanya itu agar ia bisa dengan
cepat melihat semuanya. Melihat Bibi Roser, Paman Julia, Marc dan... Vale.
“Selamat pagi Ms. Sydney, sudah siap untuk melihat
kembali?” tanya sebuah suara wanita di dekatnya. Ia yakin itu suara dokter
bedah matanya. Ia mengangguk pasti. Ia mendengar suara tawa Marc di dekatnya,
bersama Bibi Roser dan Paman Julia.
Satu per satu perban di matanya dibuka. Awalnya ia
tersentak oleh cahaya yang menyilaukan matanya. Namun, secara perlahan ia
memberanikan diri untuk melawan silaunya cahaya itu.
“Bagaimana Sydney?” tanya Marc sambil mengelus rambutnya.
“Kau... buram sekali” ucap Sydney yang sedikit membuat
Marc khawatir.
“Tenang saja, itu wajar di hari-hari awal. Setelah
beberapa hari, ia akan melihat dengan jelas” ujar Dr. Marie setelah melihat
ekspresi khawatir Marc. Mereka mengangguk paham.
“Kau akan melihat dunia, Sydney..” bisik Marc pada
adiknya itu sambil mengelus rambutnya dan mengecup keningnya sekilas. Sydney
tersenyum.
Tiga hari berjalan sangat lambat bagi Sydney. Pagi ini ia
terbangun dengan pandangan yang sudah tidak terlalu buram. Ia bisa melihat
sekeliling kamarnya dan tersenyum.
“Terakhir kali aku melihat rumah sakit, peralatannya
tidak sebanyak ini” ujarnya. Ia melihat pintu terbuka.
“Pagi Sydney!” seru pria itu dari bibir pintu kamar Sydney.
Sydney mengernyitkan dahinya lalu menutup mulutnya. Marc?
“Astaga Marc! Aku sekarang mengerti mengapa banyak wanita
yang mengejarmu!” seru Sydney saat Marc berjalan mendekati kasurnya. Marc
tertawa.
“Kau sudah bisa melihat dengan jelas, hmm?”
“Cukup jelas” ujar Sydney sambil tersenyum. “Astaga kau
tampan sekali!”
“Kau pun cantik sekai, Tuan Putri. Kau harus lihat
wajahmu di cermin” balas Marc tertawa.
“Baiklah..” ujar Sydney sambil tersenyum. “Omong-omong, jika
aku telah diizinkan pulang, aku ingin bertemu Vale”
Marc hanya mengulas senyum sambil mengelus rambut
Sydney...
***
Tiga hari kemudian Sydney sudah dinyatakan cukup fit
untuk pulang. Ia dituntun oleh Marc sampai masuk ke kamarnya sendiri. Ia
tersenyum. Cat dinding kamarnya berwarna ungu muda, warna kesukaannya dan
disana terdapat banyak fotonya dan Marc dengan Bibi Roser dan Paman Julia.
“Kau suka kamarmu?” tanya Marc. Sydney mengangguk.
“Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu” ujar Marc sambil
mengeluarkan sebuah kaset dari sakunya. Sydney mengernyitkan dahinya.
“Apa itu?”
Marc hanya tersenyum sambil menuntun Sydney ke sisi kasur
yang dekat dengan TV di kamarnya.
Kaset itu telah diputar. Sydney tersenyum. Ia melihat
gambar Vale dan dirinya saat mereka saling berbincang di taman. Juga foto
dirinya dan Vale bersama anak-anak yang sering bermain disana sambil belajar
melukis pada Vale. Ia juga melihat foto lukisan dirinya yang dibuat oleh Vale
bersama anak-anak yang usia rata-ratanya sekitar tujuh tahun. Lalu tak lama
muncul sebuah video yang memperlihatkan Vale berbicara untuknya.
“Hai Sydney, aku minta maaf aku tidak bisa hadir di hari
yang mungkin paling bersejarah bagimu. Aku sangat bahagia kau akhirnya bisa
melihat dunia kembali. Berjanjilah padaku kau tidak boleh menangis lagi di
taman seperti waktu kita pertama kali bertemu, okay?” Sydney terkekeh saat
membayangkan pertemuan pertama mereka. Saat Sydney sedang menangis dan Vale memberikannya
sapu tangan dan sebuah ice cream. Bahkan sapu tangannya masih ia simpan sampai
sekarang.
“Aku harap kau menjaga matamu. Mungkin saat kau sudah
bisa melihat dunia, aku sudah tidak ada. Maka dari itu aku membuat video ini
agar kau bisa melihatku dan selalu merasa aku dekat denganmu” nafas Sydney
tercekat saat mendengar kata-kata Vale. Lidahnya kelu untuk bertanya pada Marc
apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya melirik Marc tapi Marc menyuruhnya untuk
tetap menonton video itu.
“Sydney ketahuilah, aku masih bisa melihat dunia melalui
matamu...” Sydney menutup mulutnya. Nafasnya masih tercekat. Saat ini ia bahkan
lupa cara untuk bernafas dengan benar. Ia meremas tangan Marc.
“Sydney, kita mungkin sudah terpisah jauh, namun
ketahuilah aku sangat dekat denganmu. Aku bisa melihat apa yang kau lihat. Aku
bisa melihat kebahagiaanmu di masa depan nanti. Aku bisa melihat indahnya dunia
dan setiap tempat yang kau jejaki walau aku tidak ada disana. Berjanjilah kalau
kau tidak akan menangis untukku, karena kini, tangismu adalah tangisku.” Sydney
sudah tidak bisa menahan tangisnya. Ia tahu, mungkin Vale akan marah padanya
karena ia menangis. Ia menjerit sejadi-jadinya dan Marc tidak memaksanya untuk
berhenti menangis.
“Sydney, tolong jaga satu-satunya bagian dari tubuhku
yang masih tersisa di dunia ini. Aku sayang padamu. Selamat tinggal. Aku harap
kita bisa bertemu di tempat yang jauh lebih baik dari dunia ini suatu saat
nanti” kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang ia dengar dari video yang
diberikan Vale. Ia masih menangis sejadi-jadinya di pelukkan Marc. Ia
menumpahkan semua air matanya. Nafasnya sesak, lidahnya kelu. Ia tidak tahu
harus mengatakan apa lagi. Marc meraih wajahnya dan menghapus air mata dari
pipinya.
“Sydney, dermawan yang telah mendonorkan matanya untukmu
adalah Vale. Dia meninggal sesaat setelah pertemuan terakhirmu dengannya”
Sydney kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Vale, saat Vale pingsan
dalam pelukannya.
“A-apa yang membuatnya me-meninggal?” paru-parunya sesak
saat ia menanyakan itu pada Marc.
“Kanker otak stadium IV. Ia tidak bisa tertolong. Saat ia
pingsan di taman, disana semua saraf di otaknya sudah diserang oleh sel-sel
kanker tersebut. Dia sempat dinyatakan lumpuh sebelum ia dinyatakan meninggal
secara medis” jelas Marc sambil menahan air matanya yang sudah nyaris tumpah.
“Dan.. dan kau bahkan ti-tidak memberitahuku te-tentang
i-ini?” ujar Sydney sambil masih terisak di pelukan Marc. Marc membelai
rambutnya.
“Aku bersama keluarganya saat pemakamannya, saat itu kau
masih baru selesai operasi dan aku ingin kau mengetahuinya setelah kondisimu
sudah tidak lemah lagi” Sydney kembali menangis. Dadanya sesak. Pikirannya
penuh oleh kata-kata Vale. Ia merasa panca indranya lumpuh saat itu juga.
Sydney menarik napas panjang. “Aku.. aku ingin kau
membawaku ke makamnya”
***
Sydney duduk di kursi kesayangannya. Ia masih ingat, dua
bulan yang lalu, ada pria yang menenangkannya saat ia menangis dan
memberikannya sapu tangan. Dan belum sampai satu jam mereka berkenalan, pria itu
telah membelikannya ice cream yang sampai saat ini masih ia ingat betul manis
rasanya.
Ia masih ingat bagaimana ia rutin mengunjungi taman kota
ini hanya untuk berbincang dengan pria itu. Pria yang ia anggap sebagai
motivasinya untuk bertahan sampai saat ini. Pria yang terus menyemangatinya
untuk tetap hidup dan berjuang. Pria yang telah mengubah jalan pikirnya. Dan..
pria yang telah memberinya kesempatan untuk melihat kembali dunia.
Ia juga masih ingat betul detail saat Marc membawanya ke
areal pemakaman dan bagaimana dirinya menangis histeris berharap tangisannya
membawa pria yang namanya tertulis di batu nisan itu berdiri di belakangnya dan
mengatakan ini hanya gurauan.
Sydney mendesah pelan. Memori tentang Vale masih belum
bisa ia lupakan. Suaranya, candanya, tawanya, dan video terakhirnya.
Ia mengambil sesuatu dari tas kecilnya.
“Kau bilang kau bisa melihat apa yang kulihat kan?”
Sydney tersenyum. “Kau ingat ini? Sapu tangan yang kau berikan saat aku
menangis tepat di kursi ini. Aku masih menyimpannya Vale”
“Vale, kau tahu, aku kini bisa melihat dunia dengan
jelas. Aku bisa melihat bagaimana indahnya taman ini, yang kini aku mengerti
mengapa kau sangat senang kemari untuk mendapatkan inspirasi untuk melukis”
Sydney terkekeh pelan.
“Kau ingat anak-anak yang sering kau ajari melukis?
Banyak orang yang meminati lukisan mereka, Vale. Mereka mendapat uang dari
lukisan mereka pada umur tujuh tahun! Tujuh tahun, Vale!”
“Kau memang sudah tidak ada, tapi kau tidak sepenuhnya
meninggalkan kami. Jasamu pada anak-anak itu, dan... matamu” Sydney tersenyum.
“Tanpa matamu, aku tidak bisa melihat dunia ini kembali dan tanpa matamu...”
Sydney berhenti.
“Tanpa matamu, aku tidak mungkin bisa diterima di Harvard
Medical School” Sydney tersenyum bahagia mengingat dulu ia sangat sulit masuk
universitas itu karena terhalang oleh kekurangannya, walau ia tahu otaknya
mampu.
“Kau sudah meninggalkan kami semua, tapi kau akan tetap
hidup di hati kami, Valentino Rossi...”
-THE
END-

No comments:
Post a Comment