
Vale menghampiri mereka.
"Good!Good! Jadi gini selama kamu enggak sama aku, malah main sama cowok lain" ucap Vale.
Linda maupun Marc kaget tiba-tiba Vale berada bersamanya, mereka tidak menyadari jika dari tadi Vale mengikutinya.
"V...Vale, kamu ngapain disini?" Linda gugup.
"Kok malah kamu yang nanya kenapa aku disini? Seharusnya aku yang nanya kenapa kamu disini bersama orang ini!" Vale menunjuk Marc.
"Dan kamu Marc, ngapain kamu ngasih cincin ke Linda?" mata Vale memerah.
"Kamu enggak berhak untuk ngelarang Linda jalan sama aku, kamu udah gak peduli kan sama dia? Kemana aja kamu selama ini pas dia hubungin? Aku terus yang ada di samping dia, bukan kamukan?! Jadi aku berhak untuk ngasih cincin ke dia dan kamu gak berhak untuk cemburu" kata Marc.
"Aku masih pacar dari Linda,Marc! Jangan seenaknya seperti ini"
"Oh ya,pacar? Mana ada seorang pacar saat ceweknya menghubungi cowoknya, si cowoknya enggak ada. Malah cowok lain yang ada disamping dia. Kamu enggak pantes buat Linda!" ucap Marc.
"Oh ya,pacar? Mana ada seorang pacar saat ceweknya menghubungi cowoknya, si cowoknya enggak ada. Malah cowok lain yang ada disamping dia. Kamu enggak pantes buat Linda!" ucap Marc.
"Oh, jadi maksudnya kamu yang pantes buat Linda daripada aku? Iya?!" sahut Vale.
"Ternyata kamu sadar" balas Marc.
"Ternyata kamu sadar" balas Marc.
Linda hanya terdiam melihat kedua orang itu bertengkar karenanya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.
"Sekarang mau kamu apa? Aku sudah muak dengan perilakumu!" tanya Vale.
"Sederhana saja. Kamu putusin Linda sekarang juga"
"Sederhana saja. Kamu putusin Linda sekarang juga"
Linda tercengang mendengar permintaan Marc.
"JANGAN GILA MARC!! AKU ENGGAK MAU PUTUS SAMA VALE" sahut Linda menangis.
"Ini buat kebaikan kamu Linda! Mau sampai kapan kamu disakitin, enggak di peduliin sama pacar kamu? SAMPAI KAPAN LINDA?!" balas Marc menatap Linda tajam.
"Ini buat kebaikan kamu Linda! Mau sampai kapan kamu disakitin, enggak di peduliin sama pacar kamu? SAMPAI KAPAN LINDA?!" balas Marc menatap Linda tajam.
"Aku enggak peduli mau dia nyakitin aku, mau dia enggak peduliin aku. Aku sayang sama Vale.Marc!" Linda menangis semakin kencang.
"Linda, liat aku!" Marc memegang bahu Linda. Linda masih menangis dan menutup matanya.
"LINDA! LIAT AKU!" suara keras Marc. Linda mencoba untuk membuka matanya, berhenti untuk menangis dan melihat Marc.
"Tepat di depan kamu ada orang yang sayang sama kamu Lin. Dan tepat orang di depan kamu juga enggak akan pernah nyakitin kamu" kata Marc melembut.
Marc berusaha menenangkannya yang menangis lagi. Marc memeluknya dan mencium keningnya.
"STOP!!!" teriak Vale kesal melihat tingkah laku mereka. Marc melepaskan pelukannya.
"Benar kata Marc, emang aku udah enggak peduli sama kamu" Vale menghela nafas.
"Marc emang laki-laki yang tepat buat kamu Lin, bukan aku. Oke, mulai hari ini kita putus" kata Vale menahan tangisnya.
"Benar kata Marc, emang aku udah enggak peduli sama kamu" Vale menghela nafas.
"Marc emang laki-laki yang tepat buat kamu Lin, bukan aku. Oke, mulai hari ini kita putus" kata Vale menahan tangisnya.
"Vale, enggak! Aku enggak mau putus sama kamu" Linda memeluk Vale.
Vale hanya diam melihat Linda memeluknya, hatinya ingin membalas pelukannya. Ia tidak tega melihat Linda seperti ini.
"Sudahlah..." ucap Marc memisahkan Linda yang sedang memeluk Vale.
"Buat kamu Marc. Persahabatan kita putus sampai sini. Lupakan!" kata Vale. Marc hanya tersenyum sinis sambil memeluk Linda.
"Aku pergi" ucap Vale meninggalkan mereka.
Mendengar Vale ingin pergi Linda melepas pelukan Marc dan ingin menghampirinya. Tetapi ia di tahan oleh Marc.
"Lin. No!" ucap Marc.
"Lin. No!" ucap Marc.
Sekilas Vale melihat ke belakang untuk melihat mereka. Hatinya tak kuat melihat orang yang disayangnya bersama dengan orang lain. Air matanya seketika keluar sedikit demi sedikit, ia langsung menghapusnya.
Semoga kalian bahagia -- batin Vale.
***
Di perjalanan pulang Vale hanya terdiam sambil memikirkan perkataan Marc tadi.
Kamu enggak berhak untuk ngelarang Linda jalan sama aku, kamu udah gak peduli kan sama dia? Kemana aja kamu selama ini pas dia hubungin? Aku terus yang ada di samping dia, bukan kamukan?
Mana ada seorang pacar saat ceweknya menghubungi cowoknya si cowoknya enggak ada. Malah cowok lain yang ada disamping dia. Kamu enggak pantes buat Linda
Memang aku enggak pantas buat Linda, maafin aku selama ini -- batin Vale.
Vale menuju ke salah satu Mall terbesar di Italy sebelum ia pulang ke rumahnya. Ia berusaha untuk menenangkan diri dan bersantai sejenak. Dari pagi ia belum sarapan karena mengikuti Marc dan Linda. Vale mencari restoran prancis disana. Ia masuk dan mencari tempat yang kosong.
"Permisi pak, anda mau pesan apa?" ucap pelayan restoran tersebut memberikan daftar makanan dan minuman restoran itu.
"Disini makanan yang paling banyak orang pesen apa ya?" balasnya melihat-lihat makanan daftar makanannya.
"Beef Bourguignon, pak" kata pelayan tersebut. "Oke itu aja" balas Vale.
"Untuk minumnya?" tanyanya. "Sparkling wine aja deh" kata Vale.
"Oke, tunggu sebentar ya pak" ucap pelayan tersebut,meninggalkan Vale.
"Untuk minumnya?" tanyanya. "Sparkling wine aja deh" kata Vale.
"Oke, tunggu sebentar ya pak" ucap pelayan tersebut,meninggalkan Vale.
Sekitar 15 menit kemudian...
"Permisi" ucap pelayan restoran tersebut. Sambil menaruh makanan dan minumannya di atas meja Vale.
"Terimakasih" Vale tersenyum kepada pelayan tersebut.
"Terimakasih" Vale tersenyum kepada pelayan tersebut.
Martina Stella?
"Vale?" ucap petugas restoran tersebut.
"Stella?" balas Vale.
"Stella?" balas Vale.
Martina Stella adalah mantan Valentino Rossi.
"Hai" Vale tersenyum. Stella duduk di hadapan Vale.
"Kamu apa kabar?" kata Stella senang bertemu kembali dengan Vale.
"Baik, kamu sendiri gimana?" balas Vale. "Baik kok" ucap Stella.
"Kamu apa kabar?" kata Stella senang bertemu kembali dengan Vale.
"Baik, kamu sendiri gimana?" balas Vale. "Baik kok" ucap Stella.
Semenjak mereka putus ia sama sekali tidak pernah bertemu dan tidak berkomunikasi.
Bos Stella melihat Stella yang sedang mengobrol dengan Vale. Ia menghampiri mereka.
"Permisi" ucapnya tersenyum. Stella kaget, ia langsung berdiri. Vale tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Oh, tidak ada" balas Vale. "Eumm.. Tadi dia nganterin makanan sama minumannya" lanjut Vale yang sudah mengerti apa maksud dan tujuan orang itu menghampirinya.
"Terimakasih ya" Vale berpura-pura dan tersenyum dengan Stella. "Sama-sama permisi dulu pak" balas Stella kembali bekerja.
"Oke kalau begitu. Selamat menikmati makanannya" ucap bos Stella tersenyum dan meninggalkan Vale.
Vale kemudian menyantap makanannya sambil melihat Stella bekerja melayani pengunjung yang datang. Sesekali Stella melirik ke arah Vale dan tersenyum ketika ia sedang bekerja.
Vale menghabiskan makanannya dan terdiam sejenak sebelum membayar makanannya. Sekitar 5 menit Vale membayar makanan yang dipesannya dan menuju ke kasir.
"Selamat datang kembali" ucap petugas restoran tersebut sambil tersenyum. Vale membalas senyumannya.
"Euumm... Bisa tolong panggil Stella?" pinta Vale. "Oke sebentar ya pak" balasnya.
"STELLA?" teriak petugas tersebut.
"STELLA?" teriak petugas tersebut.
Stella menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Stella. "Ada yang mau ketemu sama kamu" balasnya.
Stella menghampiri Vale.
"Kenapa Vale?" ucap Stella. "Kamu pulang kerja jam berapa?" tanya Vale.
"Sebentar lagi, kenapa? Mau nungguin aku?" canda Stella sambil tertawa.
"Hahaha, kamu ngerti aja" ucap Vale dengan muka polos.
"Sebentar lagi, kenapa? Mau nungguin aku?" canda Stella sambil tertawa.
"Hahaha, kamu ngerti aja" ucap Vale dengan muka polos.
"Aku tadi bercanda kok" ucap Stella. "Emang aku mau nungguin kamu kok. Sekalian nganterin kamu pulang" balas Vale.
"Gakusah, makasih ya. Aku enggak mau ngerepotin" kata Stella.
"Gakusah, makasih ya. Aku enggak mau ngerepotin" kata Stella.
"Enggak kok ngerepotin kok. Yaudah aku tungguin kamu di tempat duduk itu ya" kata Vale menunjuk tempat duduk yang berada di luar restoran.
"Tapi..."
"Aku tunggu kamu sampai selesai kerja" Vale memotong pembicaraan Stella.
"Thank you Valentino" ucap Stella.
"You're welcome Martina Stella" balas Vale tersenyum kepadanya lalu meninggalkan restoran tersebut.
"You're welcome Martina Stella" balas Vale tersenyum kepadanya lalu meninggalkan restoran tersebut.
Sekitar 1 jam setengah lamanya akhirnya Stella selesai kerja dan menghampiri Vale, yang sejak tadi menunggunya.
"Lah kok enggak ada? Vale kemana?" tanyanya dalam hati sambil melihat sekelilingnya.
"Udah selesai kerja?" tiba-tiba Vale muncul dari belakang sambil menyantap Es krim yang dibelinya dan membawa satu bungkus es krim lagi.
"Udah selesai kerja?" tiba-tiba Vale muncul dari belakang sambil menyantap Es krim yang dibelinya dan membawa satu bungkus es krim lagi.
"Astaga" sontak Stella kaget melihat Vale tiba-tiba datang dari arah belakangnya.
"Nih buat kamu" lanjutnya sambil memberikan es krimnya dengan muka tidak berdosa.
"Nih buat kamu" lanjutnya sambil memberikan es krimnya dengan muka tidak berdosa.
"Thanks ya" balas Stella. "Tadi kamu kemana? Aku cariin enggak ada. Tiba-tiba dateng dari belakang" tanyanya sambil duduk di kursi yang ada di luar restoran.
"Aku ke supermarket kok. Kamu kira aku hantu apa" balas Vale tertawa.
"Dari dulukan kamu emang kayak gitu. Tiba-tiba menghilang, tiba-tiba dateng enggak tau arahnya dari mana" kata Stella ikut menyanyap es krim yang diberi Vale.
"Dari dulukan kamu emang kayak gitu. Tiba-tiba menghilang, tiba-tiba dateng enggak tau arahnya dari mana" kata Stella ikut menyanyap es krim yang diberi Vale.
"Ehmmm..." Vale berdehem.
"Cie masih inget aja kalau dari dulu aku kayak gitu" lanjut Vale menggoda Stella.
"Ah.. Apasih" balasnya malu.
"Cie masih inget aja kalau dari dulu aku kayak gitu" lanjut Vale menggoda Stella.
"Ah.. Apasih" balasnya malu.
"Oh iya, kamu sama Linda gimana? Baik-baik aja kan?" tanya Stella mengalihkan pembicaraan. Vale hanya diam dan termenung.
"Hey..? Ada apa?" Stella melambai-lambaikan tangannya di depan mata Vale.
"Nothing" balasnya. "Aku udah putus sama dia"
"Nothing" balasnya. "Aku udah putus sama dia"
"Eumm.. Sorry. Aku enggak tahu kalau kejadiannya begini" kata Stella merasa bersalah.
"No problem" balas Vale sambil menyantap es krimnya yang belum habis dengan perlahan.
"No problem" balas Vale sambil menyantap es krimnya yang belum habis dengan perlahan.
"Kamu sendiri gimana?" tanya Vale.
"Gimana apanya?" Stella bingung.
"Gimana apanya?" Stella bingung.
Ah gak ngerti kode apa?
"Sama pacar atau gebetan kamu?" sahut Vale ragu-ragu untuk bertanya.
"Oh.. Aku enggak punya pacar" balasnya tanpa beban. Vale tersenyum senang.
"Oh.. Aku enggak punya pacar" balasnya tanpa beban. Vale tersenyum senang.
Entah kenapa ketika Stella berbicara kalau dia tidak mempunyai pacar hatinya merasa senang. Hatinya seperti berbicara yes aku bebas untuk mendapatkannya kembali.
"Mau kemana habis ini?" tanya Vale yang sudah selesai makan eskrim.
"Maunya sih pulang" balas Stella. "Udah capek banget soalnya" lanjutnya tertawa ringan.
"Maunya sih pulang" balas Stella. "Udah capek banget soalnya" lanjutnya tertawa ringan.
"Yaudah ayo kita ke mobil" ucap Vale berdiri terlebih dahulu lalu menyerahkan tangan untuknya. Stella menerima dan memegang tangan Vale.
Mereka berjalan ke mobil Vale untuk pulang. Vale membukakan pintu untuk Stella lalu menutupnya kembali. Keduanya sudah masuk ke dalam mobilnya. Mereka menggunakan sabuk pengaman dan langsung berjalan ke rumah Stella.
Di perjalanan pulang Stella sibuk mencari lagu yang enak untuk mereka dengar. Ia menemukan lagu Happy yang dinyanyikan oleh Pharell.
Because I'm happy
Clap along if you feel like a room without a roof
Because I'm happy
Clap along if you feel like happiness is the truth
Because I'm happy
Clap along if you know what happiness is to
you
Because I'm happy
Clap along if you feel like that's what you
wanna do.
Clap along if you feel like a room without a roof
Because I'm happy
Clap along if you feel like happiness is the truth
Because I'm happy
Clap along if you know what happiness is to
you
Because I'm happy
Clap along if you feel like that's what you
wanna do.
Dia menari nari sambil tertawa mendengarkan lagu ini. Vale tertawa melihat Stella seperti itu. Tapi disisi lain dia merasa sedih karena lagu ini juga adalah lagu favorite dari Linda.
"Aku suka lagu ini" ucap Stella menari-nari di dalam mobil.
"Ini lagu kesukaan kamu?" tanya Vale gugup. "Yap" jawaban singkat darinya.
"Ini lagu kesukaan kamu?" tanya Vale gugup. "Yap" jawaban singkat darinya.
Seketika ia melihat Stella seperti melihat Linda, percis seperti Linda. Dulu Linda ketika mendengarkan lagu ini juga suka menari-nari, terutama ketika ia berjalan dengan Vale.
Sudahlah, dia sudah bahagia dengan orang lain -- batin Vale.
Vale tidak konsen menyetir mobil setelah melihat Stella bertingkah laku seperti Linda. Pikirannya mengingat kejadian tadi antara dirinya dengan Marc dan Linda.
TIN.......... Suara klakson dari mobil lain
"Astaga" Vale kaget dan membelokkan setirnya dengan cepat.
"Vale kamu kenapa? Kamu ngantuk?" tanya Stella khawatir.
"Vale kamu kenapa? Kamu ngantuk?" tanya Stella khawatir.
"Gaktau, tiba-tiba aja jadi enggak konsen nyetirnya" balas Vale.
"Pelan-pelan aja, yang penting kita selamat. Gausah mikirin yang lain" Vale hanya mengangguk dan tersenyum.
"Pelan-pelan aja, yang penting kita selamat. Gausah mikirin yang lain" Vale hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah 20 menit perjalanan mereka sampai dirumah Stella.
"Masuk dulu yuk kerumah" ajak Stella. "Gakusah deh, aku langsung mau balik aja"
"Yaudah deh, makasih ya udah anterin sampai rumah" ucap Stella.
"Yaudah deh, makasih ya udah anterin sampai rumah" ucap Stella.
"Sama-sama" balasnya. "Bye" Stella mencium pipi Vale dan menutup pintu mobilnya.
Kemudian ia langsung menuju kerumahnya.
Ah apasih, baru putus masa udah suka lagi sama mantan. Enggak mungkin -- batin Vale membantah.
Setelah mengantarkan Stella kerumahnya, ia juga langsung pulang ke rumahnya. Dengan keadaan yang tak karuan, begitu juga dengan perasaannya.
Setelah sampai di rumah, Vale langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia memandangi foto-foto yang terpasang di dalam kamarnya. Foto dia dengan Linda menarik perhatiannya. Dia langsung mengambil foto tersebut dan memandanginya dengan sedih.
Sekarang kamu bukan sama aku lagi, kamu sudah bersama orang yang tepat dan enggak bakal nyakitin kamu. -- batin Vale sambil mengelus fotonya.
Vale mengumpulkan foto-foto bersama Linda dan menaruhnya di kardus bersama barang-barang yang tak terpakainya lagi. Dengan begini semoga ia cepat melupakannya.
***
"Mau kemana lagi sekarang?" tanya Marc. "Pulang" jawaban singkat dari Linda.
"Yakin mau pulang? Enggak nyesel?" Linda hanya mengangguk.
"Yakin mau pulang? Enggak nyesel?" Linda hanya mengangguk.
"Yaudah ayo kita pulang"
Linda dari tadi hanya melamun setelah kejadian itu. Butuh waktu untuk melupakan Vale. Pikir Marc.
Mereka menuju ke mobil dan langsung pulang, di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Tak ada obrolan sama sekali. Marc mengerti bagaimana perasaan Linda sekarang.
"Lin?" sahut Marc. Tak ada balasan darinya.
Marc melihat Linda, ternyata ia tertidur setelah menangis dengan waktu yang cukup lama.
Marc melihat Linda, ternyata ia tertidur setelah menangis dengan waktu yang cukup lama.
Aku janji akan bikin kamu bahagia, melindungi kamu dan tidak ada seorangpun yang bisa nyakiti kamu -- batin Marc.
Setelah sekitar 1 jam perjalanan tiba-tiba mesin mobil Marc mati dan dalam keadaan hujan deras.
"Shit!" keluh Marc sambil memukul stir mobilnya. "Marc? Kenapa?" Linda terbangun dari tidurnya.
"Udah kamu tidur lagi aja ya" balasnya sambil mengelus rambutnya dan mengecup dahinya.
"Kok kita enggak jalan-jalan?" tanyanya dengan muka polos.
"Kok kita enggak jalan-jalan?" tanyanya dengan muka polos.
"Mobilnya mati" ucap Marc.
"Aku keluar mau ngecek mesinnya. Kamu jangan keluar ya" lanjutnya dan keluar dari mobil.
Marc keluar dari mobil untuk mengecek mesinnya, melihat Marc keluar dari mobil dan bajunya basah karena hujan. Linda mengambil jaket yang dibawanya lalu keluar dari mobil dan menutup kepala Marc supaya tidak terkena Hujan.
"Kamu ngapain keluar? Kan udah aku bilang jangan keluar. Masuk sana!"
"Ini hujan Marc, nanti kamu sakit" balas Linda.
"Ini hujan Marc, nanti kamu sakit" balas Linda.
"Aku sakit enggak masalah, aku enggak mau kamu sakit. Masuk ke mobil Linda!" Marc membentaknya.
Linda tetap berada disana. Marc kemudian membagi jaketnya sehingga bisa menutupi kepala mereka berdua dan tak terkena air hujan. Mereka saling bertatapan dan tertawa, lalu Marc membenarkan mesinnya ditemani oleh Linda yang ada disampingnya. Marc menutup kap mesinnya dan mencoba menyalakan mobilnya.
"Gimana? Bisa enggak?" teriak Linda yang masih ada di luar mobil.
"Bisa, masuk Lin!" balas Marc.
"Bisa, masuk Lin!" balas Marc.
Mereka berdua kembali masuk ke mobil dengan keadaan basah.
"Maaf ya Lin, gara-gara mobilnya mati kamu jadi basah kuyup ginikan" ucap Marc merasa bersalah.
"Gakpapa kok Marc" balasnya.
"Gakpapa kok Marc" balasnya.
Beberapa menit setelah itu Linda merasa badannya sangat dingin, ia menggigil.
"Lin? Kamu kenapa?" tanya Marc khawatir melihat Linda dengan muka yang sudah pucat.
"Di...Dingin M..Marc" balasnya sambil mencoba untuk menghangatkan tubuhnya.
"Di...Dingin M..Marc" balasnya sambil mencoba untuk menghangatkan tubuhnya.
Marc memasang lampu hati-hati dimobilnya. Ia berhenti dijalan, ia mencoba untuk menghangatkan Linda. Marc membawa Linda ke tempat duduk yang ada di belakang. Marc memeluknya dengan erat, ia menggosok-gosokan kulit Linda dengan tangannya supaya tetap hangat.
"Dingin Marc.." ucap Linda menangis. "Iya Lin, tenang ya" balas Marc mencium pipinya.
Marc kembali ke depan untuk menyetir sedangkan Linda tetap berada di belakang. Ia mencari warung yang terdekat. Marc menemukannya dan mobilnya parkir tepat di warung kecil itu.
"Ayo turun" ucap Marc membantu Linda untuk keluar. Mereka masuk kewarung kecil itu.
"Bu, pesan teh hangat ya" ucap Marc memeluk Linda. "Sebentar ya" ucap ibu itu. "Nih mas tehnya" kata ibu itu mengantarkan tehnya. Marc tersenyum dan mengambil tehnya.
"Bu, pesan teh hangat ya" ucap Marc memeluk Linda. "Sebentar ya" ucap ibu itu. "Nih mas tehnya" kata ibu itu mengantarkan tehnya. Marc tersenyum dan mengambil tehnya.
"Minum dulu Lin" ucap Marc meminumkan tehnya kepada Linda. Linda meminummya.
"Gimana? Udah agak baikkan enggak?" tanya Marc. Linda hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Marc mengecup bibir Linda, ia membalasnya.
"Makasih ya" ucap Linda. "Sama sama Lin" balas Marc.
"Berapa bu tehnya?" ucap Marc. "5.000" jawabnya. Marc membayar tehnya dan mereka melanjutkan perjalanannya.
"Berapa bu tehnya?" ucap Marc. "5.000" jawabnya. Marc membayar tehnya dan mereka melanjutkan perjalanannya.
1 Jam kemudian akhirnya mereka sampai di depan rumah Linda.
"Makasih ya udah di anterin. Makasih juga udah tolongin aku" kata Linda sebelum turun dari mobilnya.
"Sama-sama sayang. Jangan lupa ganti baju langsung tidur ya" balas Marc.
"Sama-sama sayang. Jangan lupa ganti baju langsung tidur ya" balas Marc.
"Tenang aja. Yaudah aku masuk kerumah ya Marc. Bye" ucap Linda. Marc melambaikan tangannya dan tersenyum.
Besoknya...
Marc berkunjung ke rumah Linda, sejak tadi Marc mencoba menghubungi Linda dan ternyata ponselnya tidak aktif.
toktoktok.... Marc mengetuk rumah Linda.
"Iya sebentar" teriak mama Linda.
"Eh nak Marc, masuk dulu ayo" lanjutnya. "Terimakasih" Marc tersenyum.
Marc masuk ke rumah Linda.
"Ada Lindanya bu?" tanya Marc. "Oh Linda, ada di kamar dia lagi sakit" balasnya.
"Sakit? Sakit apa bu?" Marc kaget mendengar Linda sakit.
"Badannya panas dari semalem terus katanya pusing juga. Masuk aja ke kamarnya" ucap mama Linda.
"Yaudah aku ke kamarnya dulu ya" balasnya lalu tersenyum.
Mama Linda tersenyum. Marc mengetuk kamar Linda.
toktoktok...
"Ini aku Marc" ucap Marc dari luar kamarnya. "Masuk aja" balas Linda.
Marc masuk kekamar Linda.
"Kamu kok kesini?" tanya Linda. "Daritadi aku hubungin kamu, enggak ada satupun yang kamu jawab" balasnya.
"Sorry ponsel aku low, belum aku charger" ucap Linda. Lalu Marc duduk di ranjangnya.
"Badan kamu panas?" Marc menyentuh dahi Linda. Linda hanya mengangguk.
"Badan kamu panas?" Marc menyentuh dahi Linda. Linda hanya mengangguk.
"Kan udah aku bilang, kamu jangan keluar dari mobil. Kamu sih bandel" Marc memarahinya sambil tertawa.
"Maaf, aku enggak mau kamu hujan-hujanan" Linda tertawa kecil.
"Udah minum obat belum?" tanya Marc.
"Udah kok" balasnya. "Bagus" ucap Marc. Linda tersenyum.
"Udah kok" balasnya. "Bagus" ucap Marc. Linda tersenyum.
"Aku sayang kamu Lin" ucap Marc sambil mengelus rambut Linda. Linda diam.
"Aku serius sama kamu Lin.." lanjutnya.
"Aku tahu Marc. Tapi kemarin aku baru putus sama Vale" Linda bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Marc. "Butuh waktu.." lanjutnya.
Marc hanya diam dan termenung.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Linda melihat Marc sedang termenung. "Gapapa kok" balasnya. "Makasih ya yang kemarin" ucap Linda. Marc tersenyum.
"Eumm.. Aku pulang dulu ya" ucap Marc lalu berdiri.
"Kok cepet banget? Kamu marah?" balas Linda.
"Enggak kok. Aku juga mau ada urusan yang lain, terus aku enggakmau ganggu kamu. Biar kamu istirahat dulu" ucapnya.
"Eumm... Oke" balas Linda singkat.
"Kok cepet banget? Kamu marah?" balas Linda.
"Enggak kok. Aku juga mau ada urusan yang lain, terus aku enggakmau ganggu kamu. Biar kamu istirahat dulu" ucapnya.
"Eumm... Oke" balas Linda singkat.
Marc keluar dari kamar Linda, di antar oleh Linda.
"Bu pulang dulu ya" ucap Marc. "Kok cepet banget Marc?" balasnya.
"Iya bu, masih ada urusan yang lain. Terus biar Lindanya istirahat dulu biar cepet sembuh" ucap Marc.
"Iya bu, masih ada urusan yang lain. Terus biar Lindanya istirahat dulu biar cepet sembuh" ucap Marc.
"Oh gitu.. Yaudah kamu hati-hati ya dijalan" balas mama Linda.
"Iya bu, makasih ya" ucap Marc tersenyum.
"Iya bu, makasih ya" ucap Marc tersenyum.
"Lin, aku pulang ya. Kamu jangan capek-capek , jangan lupa minum obat. Terus jangan lupa ponselnya di charger biar bisa aku hubungin"
"Iya bos Marc. Kamu juga hati-hati dijalan" balas Linda sambil tertawa.
"Yaudah aku pulang dulu ya, bye" Marc mencium kening Linda dan bergegas untuk pulang
"Yaudah aku pulang dulu ya, bye" Marc mencium kening Linda dan bergegas untuk pulang
***
2 hari setelah itu Vale menghampiri rumah Stella. Ia ingin mengajak jalan-jalan Stella ke taman, tempat yang biasa mereka kunjungi dulu.
Toktoktok....
"Iya sebentar" teriak Stella dari dalam rumahnya. "Hai, ada apa?" lanjutnya tersenyum. "Jalan yuk.." ucap Vale menyengir.
"Jalan..? Jalan kemana?" balasnya. "Ya kemana ajalah. Kamu mau enggak?" ucap Vale.
Tiba-tiba mama Stella datang dan menghampiri Vale dan Stella yang sedang mengobrol.
"Eh Vale, Ada apa?" ucap mama Stella. "Suruh masuk Stel" lanjutnya.
"Astaga aku lupa. Masuk dulu yuk" ucap Stella tertawa.
"Astaga aku lupa. Masuk dulu yuk" ucap Stella tertawa.
Vale masuk kerumahnya, sudah lama sekali ia tidak pernah kesini.
"Udah lama banget ya kamu enggak kesini" ucap mama Stella sambil menyuruh Vale duduk di sofanya.
"Iya bu, udah lama banget gakpernah kesini" balasnya canggung.
"Ibu bikinin minum dulu ya" ucap mama Stella lalu pergi ke dapur.
"Iya bu, udah lama banget gakpernah kesini" balasnya canggung.
"Ibu bikinin minum dulu ya" ucap mama Stella lalu pergi ke dapur.
Stella duduk di samping Vale.
"Mau kemana?" tanya Stella. "Ke... Taman" balasnya ragu.
"Yaudah kamu tunggu ya aku mau ganti baju dulu" Stella tersenyum dan pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya.
"Yaudah kamu tunggu ya aku mau ganti baju dulu" Stella tersenyum dan pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya.
Selang berapa menit kemudian...
"Minum dulu ayo.." mama Stella datang dengan membawakan minuman untuk Vale. "Ya ampun, maaf ya bu ngerepotin" balasnya.
"Enggak kok, enggak ngerepotin"
"Enggak kok, enggak ngerepotin"
Vale tersenyum dan meminum minuman yang disediakan oleh mama Stella.
"Eumm.... Pas kamu putus sama Stella kamu masih contact contactan sama dia?" tanya mama Stella. Vale menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecut.
Stella keluar dari kamarnya dan menghampiri mamanya dan Vale yang sedang mengobrol.
"Ibu setuju Stella pacaran sama kamu, pas Stella bilang kalau kalian putus mama malah sedih" ucap mama Stella.
"Terus Stella dapet pacar lagi sampai kemarin dia putus itu mama enggak srek sama dia. Untung mereka udah putus" lanjutnya tertawa.
"Apasih bu" kata Stella. "Maaf ya, ibu aku emang suka begini. Ya kamu taulah" lanjutnya sambil tersenyum kecut kepada Vale.
"Kamu mau kemana?" tanya mamanya melihat anaknya yang sudah berpakaian rapih.
"Mau jalan-jalan" balas Stella. "Sama siapa?" ucap mama Stella.
"Sama aku bu. Gakpapa kan?" kata Vale.
"Oh sama kamu? Boleh kok boleh, dengan senang hati. Yaudah gih kalian pergi aja, yang lama ya jalan-jalannya" kata mama Stella tertawa.
"Sama aku bu. Gakpapa kan?" kata Vale.
"Oh sama kamu? Boleh kok boleh, dengan senang hati. Yaudah gih kalian pergi aja, yang lama ya jalan-jalannya" kata mama Stella tertawa.
Vale dan Stella saling menatap heran.
"Eumm.. Yaudah aku sama Stella pergi dulu ya bu" ucap Vale pamitan kepada mamanya. Mereka berdua berpamitan.
"Hati-hati ya" balasnya. Vale hanya tersenyum dan mereka menuju ke mobil Vale.
"Hati-hati ya" balasnya. Vale hanya tersenyum dan mereka menuju ke mobil Vale.
Vale membukakan pintu untuk Stella.
"Kamu tuh, kebiasaan ya. Tapi makasih loh" ucap Stella tersenyum.
"Sama-sama bos" Vale tertawa dan menutup pintu mobilnya kembali.
"Kamu tuh, kebiasaan ya. Tapi makasih loh" ucap Stella tersenyum.
"Sama-sama bos" Vale tertawa dan menutup pintu mobilnya kembali.
Vale masuk ke mobilnya dan mereka pergi menuju ke taman.
"Mau ke taman manasih?" tanya Stella polos.
Ah kamu enggak peka -- batin Vale.
"Liat aja nanti" balas Vale menatap mata Stella dan tertawa. Stella hanya diam dan menunjukkan muka seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Jangan gitu, senyum dong. Nanti cantiknya hilang kalau cemberut" goda Vale dan tertawa.
"Emang aku cantik kali" balasnya tertawa.
"Ya makanya kamu itu udah cantik terus baik. Itu yang bikin aku sayang sama kamu" ucap Vale. Stella melihat Vale dengan tatapan heran.
"Emang aku cantik kali" balasnya tertawa.
"Ya makanya kamu itu udah cantik terus baik. Itu yang bikin aku sayang sama kamu" ucap Vale. Stella melihat Vale dengan tatapan heran.
"Iya aku sayang sama kamu. Du-lu" lanjutnya. Entah kenapa perasaan Vale tidak karuan ketika ia berkata seperti itu. Spontan saja kalimat tadi keluar dari mulutnya.
"Hahaha. Mukanya santai aja Vale, gakusah grogi gitu" Stella tertawa melihat muka Vale yang tegang.
"Nih sampai keringetan gini. Untung aku bawa tisu" lanjutnya sambil mengambil tisu dari tasnya dan langsung mengelap keringat Vale yang sedang menyetir.
"Thanks ya" ucap Vale sedikit grogi. Stella tersenyum yang masih mengelap keringatnya.
Sekitar 10 menit akhirnya mereka sampai di taman yang biasa dulu mereka kunjungi. Vale berhenti dan mematikan mobilnya. Stella terdiam.
"Stella? Ayo kita keluar" ucap Vale sambil melepaskan sit bell nya.
"Stella..? Hey? Ada apa?" lanjutnya melihat Stella yang terdiam.
"Stella..? Hey? Ada apa?" lanjutnya melihat Stella yang terdiam.
"Eumm.. Gakpapa kok. Yaudah ayo kita keluar" balasnya sambil melepaskan sit bellnya dan keluar dari mobil.
Mereka berjalan dan masuk ke taman.
"Kok kita kesini?" tanya Stella.
"Emangnya kenapa? Disinikan bagus pemandangannya" balasnya.
"Emangnya kenapa? Disinikan bagus pemandangannya" balasnya.
Stella melihat ke sekeliling taman. Taman itu tak banyak mengalami perubahan. Dia teringat dulu dia sering jalan-jalan kesini dengan Vale, membelikan es krim lalu makan bersama, memberikan bunga untuknya dan banyak sekali kenangan indah antara dia dengan Vale disini.
Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang.
Lalu mereka mencari tempat duduk. Tempat duduk itupun dulu sering mereka duduki ketika mereka kesini. Vale kesini ingin mengingat-ingat kembali masa-masa ketika mereka berpacaran. Dan juga ingin Stella mengingatnya kembali. Tepat di depan mereka banyak orang-orang yang mengantri membeli burger dan hotdog.
"Sebentar ya" ucap Vale. Dia melangkah ketempat orang berjualan burger dan hotdog. Ia membeli burger untuk dirinya dan Stella.
"Pak pesen 2 burger ya" ucap Vale. "Tunggu sebentar ya pak" balasnya yang sedang sibuk melayani pembeli-pembeli yang lain.
"Pak pesen 2 burger ya" ucap Vale. "Tunggu sebentar ya pak" balasnya yang sedang sibuk melayani pembeli-pembeli yang lain.
Sekitar 10 menit burger itu jadi, Vale membayarnya dan menghampiri Stella
"Buat kamu" ucap Vale memberikan burgernya dan duduk di samping Stella.
"Thanks ya" balasnya tersenyum dan memakan burgernya.
Vale tertawa ketika melihat Stella makan, layaknya seperti anak kecil. Dengan saus yang menempel di sekitar mulutnya.
"Hahaha, kamu makan kayak anak kecil amatsih" ucap Vale tertawa dan membersihkan sausnya menggunakan tangannya yang ada di sekitar mulutnya. Stella ikut tertawa dan cepat-cepat mengelapnya menggunakan tisu.
Mereka menyantap kembali burgernya, setelah mereka selesai makan lagi-lagi Vale tertawa melihat Stella seperti tadi. Cepat-cepat Vale membersihkannya lagi sambil tertawa. Kini matanya saling bertemu, Vale memajukan kepala Stella dan mengecup bibirnya dengan lembut. Vale menghentikannya.
"Eum.. Sorry" ucap Vale dengan muka bersalah. "Gapapa kok" balasnya tersenyum malu.
Kring...Kring...
Tiba-tiba ponsel Vale berbunyi, ia merogoh saku kantong celananya untuk mengambil ponselnya.
Marc? Mau ngapain lagi ini orang. Gak cukup yang kemarin-kemarin? -- batin Vale.
"Tunggu sebentar ya" ucap Vale. Stella mengangguk dan tersenyum.
"Apa apa?" ucap Vale menangkat telepon dari Marc dengan nada sinis.
"Sekarang kamu harus kerumah sakit" balas Marc dengan nada panik.
"Apa apa?" ucap Vale menangkat telepon dari Marc dengan nada sinis.
"Sekarang kamu harus kerumah sakit" balas Marc dengan nada panik.
To be Continued....
Maaf ceritanya gaje, dan maaf juga kalau typo. Karena saya hanya manusia biasa. Terimakasih sudah membaca ☺

as you know gue lebih prefer Vale sama Stella wkwk. ahelah si marc jahannam itu harus disayat sayat mukanya. etapi gara2 dia si Vale jadi sama Stella uhuy gue Rosella shipper ���� gue tunggu lanjutannya hari minggu BHAY
ReplyDelete