Friday, 12 September 2014

Because I'm Jealous #2





Betapa kagetnya Marc ketika melihat Rossi sedang mabok dengan membawa beer dan bermesraan dengan perempuan lain.
Marc menghampiri Rossi.


PLAK!
Marc menampar Rossi, Seketika Marc menangis melihat Rossi seperti ini. Marc tahu ini semua bukan kemauan Rossi.

"KAMU SIAPA HAH?! PERGI SANA DASAR WANITA MURAHAN!!" teriak Marc sangat emosi.


Perempuan itu lari meninggalkan tempat.


"Rossi, sadarlah" ucap Marc menggoyangkan badan Rossi.
"Kamu kenapa sayang..?" balas Rossi masih dalam keadaan mabok.
"Ayo ikut aku" ucap Marc merangkul Rossi.

Marc membawa Rossi ke dalam mobil dan menuju kerumah Rossi.



"Come on Rossi!! SADAR SADAR!" ucap Marc sambil menghapus air matanya.

Tintin.....
Suara klakson mobil Marc yang berhenti tepat di depan rumah Rossi.

"LUCA..LUCA!!" teriak Marc dari luar rumahnya.
"Ada apa kak..?" balas Luca berlari menghampiri Marc.
"Kakakmu, ayo dibawah ke dalam" ucap Marc.

Luca dan Marc membawa Rossi ke dalam rumahnya, Rossi di tidurkan di sofa.

"Astagfirullah, Rossi kenapa kok kayak gini Marc?" tanya Stefania seketika langsung menangis.

"Tadi aku kesini sama Linda, tadi Luca yang ngembukain pintunya kata Luca Rossi ada di taman kota, aku sama Linda langsung kesana. Tiba-tiba asma Linda kambuh langsung pingsan aku bawa dia kerumah sakit. Aku langsung ke taman aku liat dia lagi mabok habis minum beer sama perempuan lain" balas Marc menjelaskan kejadiannya.

"Astaga Rossi.." ucap Stefania kaget.
"Makasih ya Marc udah bawa Rossi kesini, kalau bukan kamu tadi gak tahu deh nasib Rossi gimana" lanjutnya.
"Iya bu sama-sama, yaudah deh aku pulang dulu ya, Permisi..." kata Marc meninggalkan rumah Rossi.

***

Marc kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Linda.

"Lin, gimana keadaannya?" tanya Marc. "Udah baikan kok, gimana Rossi tadi kamu kesana kan?" balas Linda.

Enggak mungkin aku ngasih tahu Rossi sedang mabok bersama perempuan lain. -- batin Marc.

"Marc kok diam? Gimana Rossi?" tanya Linda.
"Rossi? Dia baik kok , tadi katanya kepengen sendiri aja" balas Marc terpaksa membohong Linda.

"Kamu bohongkan! Pasti bukan itu yang sebenarnya" ucap Linda menebak.
"Astaga Linda.. Ngapain aku bohongin kamu? Aku tanya ada enggak manfaat aku bohongin kamu?" balas Marc.

Linda menggelengkan kepalanya.

"Enggak kan? Yaudah kamu jangan khawatir ya.." ucap Marc membelai rambut Linda.

Perawat datang....

"Permisi tuan, jam jenguk sudah habis" kata perawat.
"Yaudah Lin, aku pulang dulu ya. Cepet sembuh.." ucap Marc meninggalkan kamar Linda.

***

Mama Linda memberi tahu Harry tentang keadaan Linda, sontak Harry kaget dan langsung menuju ke rumah sakit tempat Linda di rawat.

Harry langsung menuju ke kamar tempat Linda di rawat. Ia melihat orang tua dari Linda sedang duduk di luar, Harry menghampirinya.

"Mom, Linda gimana..?" tanya Harry panik. "Masuk ke dalam aja" balas mama Linda.

Kriiikkkkk..... Harry membuka pintu.

"Linda.." ucap Harry. "Harry..? Kamu tahu dari mana aku di sini?" tanya Linda.
"Mama kamu nelpon aku, aku khawatir sama keadaan kamu. Kamu enggak apa-apa kan?" ucap Harry

"Udah agak baikan kok, jangan khawatir. Ngomong-ngomong makasih ya udah dateng ke sini" balas Linda.
"Sama-sama Lin, oh iya Rossi udah dateng kesini..?" tanya Harry.

"Hmm.....Belum" balas Linda sedikit ragu.
"Kok belum? Kata nya pacar kamu, masa pacar sendiri belum dateng kesini. Apa jangan-jangan dia enggak tahu kamu di rawat disini?" ucap Harry menghasut.

"Harry! Please jangan menghasut. Kamu enggak lihat aku lagi begini? Kata kamu tadi kamu khawatir sama aku, kok malah nambahin beban?" balas Linda geram.

***

Hallo, kamu datang kesini cepat. Anak mu mabok.

Stefania menelpon Graziano Rossi bapak dari Valentino Rossi sambil menangis.
Mendengar Stefania menangis pasti ada sesuatu dengan Rossi, ia panik dan langsung menuju ke rumah Rossi.

BRAK!!
Pintu rumah Rossi terbuka lebar tanpa mengetuk terlebih dahulu, Graziano datang melihat anaknya.

"Stef, ini kenapa Rossi jadi kayak gini?" ucap Graziano terkejut melihat Rossi terkapar di sofa.
Stefania menjelaskan kejadian Rossi kepada mantan suaminya itu.

PLAK!PLAK!
Graziano memukul pipi Rossi berulang kali dengan harapan Rossi segera sadar dari maboknya.

"Ini kenapa enggak bangun-bangun" ucap Graziano.

Graziano menuju ke kamar mandi untuk mengambil air.

"Kamu mau ngapain Rossi?!" ucap Stefania. "Mau nyiram dia biar sadar" balas Graziano.
"Are you crazy?!!" ucap Stefania.
"Stef percaya sama aku, aku enggak bakal nyakitin anak ku sendiri. Semoga dengan seperti ini dia langsung bangun" balas Graziano.

Mama Rossi atau Stefania mengangguk setuju.

PYURR!!
Graziano menyiram air ke badan dan muka Rossi.

"ROSSI BANGUN!!!" ucap Graziano sambil berulang kali memukul pipi Rossi.
"P..Pa...Papah..?" kata Rossi masih dalam keadaan setengah sadar.
"Rossi kamu sadar nak?" ucap Stefania menangis.

"Kok basah? Aku kenapa?" balas Rossi setengah sadar.
"Kamu istirahat dulu! Besok juga kamu tahu kenapa kamu begini" ucap Graziano.
"Tapi pah.." balas Rossi.

"ROSSI!! Ke kamar sana!" seru Graziano memotong pembicaraan Rossi.
"Ayo kak ke kamar.." ucap Luca.
Rossi menuju ke kamarnya di bantu oleh Luca.

Aku ini kenapa? Kok jadi begini? -- batin Rossi.

***

Besoknya..

Toktoktok... Luca mengetuk kamar Rossi.

"Iya apa..?" ucap Rossi sudah membaik. "Ikut aku yuk ke rumah sakit" balas Luca.
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Rossi.

"Aduh kak.. Udah ganti baju dulu, kita siap-siap kerumah sakit. Di perjalanan aku ceritain kejadian yang semalam dan siapa yang sakit" balas Luca.
"Wait me!" kata Rossi.

Rossi terburu-buru mengganti bajunya dan langsung pergi bersama Luca.

"Siapa yang bawa mobilnya..?" tanya Rossi.

"Aku aja" balas Luca. "Ye.. Kamu belum lancar nanti kelamaan bawa mobilnya, terus nanti kalau kamu nabrak orang siapa yang dimarahin? Siapa yang di tilang? Udah kakak aja" ucap Rossi.
"Hello.... Kakak masih belum sadar sepenuhnya gara-gara kemarin. Udah aku aja" balas Luca.
"Oh iya, yasudah.." kata Rossi.

Di sepanjang perjalanan Luca menjelaskan apa yang terjadi dengannya dan memberi tahu jika Linda masuk rumah sakit.

Rossi tercengang mendengar kabar itu, dia merasa bersalah.

Rossi meraih ponselnya dan menghubungi mama Linda untuk mengetahui dimanakah mereka berada.

***

Kring....Kring.....

Suara ponsel milik mama Linda berbunyi, segera ia mengangkat telponnya tersebut.

Hallo ada apa Ros? -- Mama Linda.
Hallo mom, Linda di ruang berapa? -- Rossi.
Kenanga nomor 7 -- Mama Linda.
Aku langsung kesana-- Rossi langsung mematikan ponselnya.

***

Cit...
Denyitan ban mobil Rossi berhenti di parkiran rumah sakit.
Luca dan Rossi masuk ke rumah sakit.

"Kenanga 7? Dimana kak?" tanya Luca.
"Pak, kamar kenanga 7 ada dimana ya?" tanya Rossi kepada salah satu petugas dirumah sakit tersebut.

"Ada di lantai 2, nanti langsung belok kanan lurus terus sampai ujung belok kiri disitu pak" balas petugas tersebut.
"Terima kasih" ucap Rossi.

Rossi dan Luca mengikuti petunjuk yang diberi tahu oleh salah satu petugas rumah sakit.
Dari kejauhan Rossi melihat ada mama Linda sedang berdiri di depan kamarnya yang sedang menunggu Rossi.

Mereka menghampirinya.

"Mom...Linda ada dimana?" ucap Rossi. "Akhirnya kalian datang juga, langsung masuk aja" balas mama Linda.

"Ayo.." ucap Rossi mengajak Luca menjenguk Linda.
"Kakak aja deh aku di luar aja" balas Luca.
"Yasudah" ucap Rossi.

Rossi masuk ke kamar tempat Linda di rawat.

"Linda...?" ucap Rossi sambil membuka pintu kamarnya.

Semenjak kemarin Harry selalu menemani Linda di rumah sakit. Tadi pagi dia datang kembali untuk menjenguk Linda.

Rossi melihat Harry berada di sana.

Ada apa lagi dia kesini -- batin Rossi menahan amarahnya.

"Kamu enggak kenapa-kenapa kan?" lanjutnya. "Enggak apa-apa kok" balas Linda tersenyum akhirnya pacarnya datang.

"Pacar apaan kayak begini? Pacarnya udah lama di rumah sakit anda baru datang. Anda tidak pantas menjadi pacar Linda" ucap Harry.

"Anda tidak tahu apa - apa tentang saya, jadi saya mohon jangan menjadi orang yang sok tahu dan jangan menjadi perusak hubungan kami! Anda tidak akan berhasil merusak hubungan kami" balas Rossi marah.

"STOP!! Kalian enggak lihat aku keadaan seperti ini? Kalau kalian pengen berantem bukan disini tempatnya dan bukan sekarang waktu yang tepat" ucap Linda menangis.

"Anda lihat setelah anda datang dia malah nangis? Mohon sekarang anda keluar" ucap Harry.

"Kamu itu kenapa sih? Di sini bukan kamu yang berhak mengusir, tapi aku Harry! Aku enggak mau Rossi keluar. Silahkan kamu yang keluar dari sini!" kata Linda.

"Dengarkan apa kata Linda? Mohon maaf pak Harry tapi anda harus keluar!!" seru Rossi tertawa sinis.
"Hush! Diam anda!" balas Harry. "Aku mencintaimu Linda" lanjutnya dan langsung meninggalkan mereka.

Seketika Rossi dan Linda terdiam..

Rossi duduk disamping Linda.

"Maafin aku Lin, gara-gara aku kamu begini" ucap Rossi mencium kening Linda.
"Kamu enggak salah, tapi aku yang salah. Kita saling intropeksi diri aja" balas Linda.

Marc datang membawa buah-buahan untuk Linda.

"Rossi.. Kamu udah sadar..?" ucap Marc.
"Sadar? Maksudnya apa Marc?" tanya Linda.

Aduh, gimana ini? Aku enggak mau cuma gara-gara aku kelepasan ngomong Linda malah tambah sakit dan antara mereka jadi berantem lagi. -- batin Marc.

"Ah kamu salah denger kali Lin" kata Rossi. "Aku denger sendiri, aku enggak tuli Ros! Ada yang di sembunyiin sama kalian dari aku? Iyakan?!" balas Linda.

"Aku udah curiga waktu Marc pergi ke taman kota buat liat Rossi" lanjutnya.

"Linda.." ucap Marc. "Apa?!" balas Linda.
"Enggak ada yang kita sembunyiin, tenang aja. Aku sama Marc enggak bohong kok" kata Rossi.
"Ingat kemarin aku ngomong apa? Ada manfaat nya memang kita ngebohongin kamu? Kalau ada coba sebutin" ucap Marc.

"Emang enggak ada manfaatnya, tapi aku punya firasat kalau kalian menyembunyikan sesuatu dari aku" balas Linda.
"Linda.... Udah cukup, jaga emosi kamu, jangan negatif thinking sama kita. Kamu ini lagi sakit jangan mikir yang macem-macem dulu. Please!" ucap Rossi.

***

Tiba-tiba Luca masuk

"Kak.. Pulang yuk" ucap Luca bete. "Astaga Luca... Kita baru datang" balas Rossi.
"Kamu dirumah juga mau ngapain?" lanjutnya.
"Main PS" balas Luca. Rossi menggelengkan kepalanya.

"Yaudah pulang aja Ros, Lucanya juga udah begitu" ucap Linda. "Tapikan aku baru datang Lin" balas Rossi.

"KAKAK AYO PULANG" ucap Luca.
"Gakpapa kok, udah pulang aja" ucap Linda.
"Yaudah deh, aku pulang ya Lin" balas Rossi. "Bye.." lanjutnya.

"Lin aku juga pulang deh, cepet sembuh Lin" ucap Marc. "Terima kasih ya Marc.." balas Linda.

Marc tersenyum.

***

Besoknya Linda di perbolehkan untuk pulang, ia sangat senang bisa kembali ke rumahnya.
Evelyn bersama Harry datang ke kamar Linda.

"Lin, udah boleh pulang?" tanya Evelyn cepika cepiki dengan Linda.
"Iya, allhamdulilah" balas Linda.
"Sini aku bantuin angkat barang-barangnya" ucap Harry cari perhatian kepada Linda.

"Kamu sama Harry......" ucap Evelyn. "Aku enggak ada hubungan apa-apa lagi sama Harry" balas Linda memotong pembicaraan Evelyn.
"Kamu suka sama Harry Lyn?" tanya Linda.

"Hahaha...Apasih enggak kok, eh iya ayo kita ke mobil" balas Evelyn mengalihkan pembicaraan.
"Buru-buru amat sebentar lagi..." kata Linda.
"Harry..?" panggil Linda. "Iya Lin kenapa?" balas Harry.

"Aku kepengen ngomong sama kamu" ucap Linda. "Kamu mau ngomong kalau kamu masih sayang? Iya Lin?" balas Harry terlalu pede.

"Harry, Please!" seru Linda.
"Iya iya, kenapa Lin?" ucap Harry.
"Evelyn kamu tunggu dulu disitu dulu ya" ucap Linda.

Linda mengajak Harry keluar dari kamarnya. Ada sesuatu yang ingin di bicarakan.

"Kamu ini serius enggak sama sahabat aku?" tanya Linda. "Evelyn..?" balas Harry.
"Iya memangnya siapa lagi" ucap Linda. "Emm... aku lagi mencoba tapi dari awal aku kenal dia emang aku udah tertarik, tapi pasti aja aku ke inget kamu Lin" balas Harry.

"Kamu jangan begitu. Evelyn suka sama kamu Harry! Please hilangin deh perasaan kamu buat aku karena kita sekarang enggak ada hubungan apa-apa selain teman" ucap Linda.
"Tapi Lin.." balas Harry.

"Harry kamu tahu kan aku udah punya pacar, kamu jangan jadi perusak hubungan aku sama Rossi" ucap Linda.
"Iya Lin aku tahu, aku juga suka sama Evelyn tapi perasaan aku tetap masih sayang sama kamu" balas Harry.

"Kamu pikir-pikir lagi deh ya, jangan sampai menyesal" ucap Linda pergi meninggalkan Harry dan menghampiri Evelyn.
"Linda tunggu!" teriak Harry menyusul Linda.
"Evelyn.. Ayo kita pulang" ucap Linda.

***

Aku ke rumah sakit ah. Ingin tahu keadaannya Linda sekarang-- batin Marc.

"Pah, aku pergi ya.." ucap Marc.
"Mau kemana?" balas papa Julia. "Ke rumah sakit" ucap Marc.

"Siapa yang sakit?" balas papa Julia. "Ampun deh pah, aku kepengen pergi ditanyain kayak apaan aja. Temen aku sakit udah deh ini urusan anak muda, hahaha.." ucap Marc keluar dari rumah.
Papa Julia langsung berkaca.

Urusan anak muda? Apakah aku setua itu? -- batin papa Julia.

Marc langsung menuju ke rumah sakit dan berjalan ke tempat kamar Linda.

***

Kosong? Kemana Linda sama yang lain? -- batin Marc.

Perawat lewat di hadapannya.

"Sus sus.." ucap Marc. "Iya ada yang bisa saya bantu?" balas perawat tersebut.
"Orang-orang yang disini kemana ya kok kosong?" tanya Marc menunjuk kamar yang di tempati Linda.

"Atas nama Linda Morselli ya? Barusan pulang pak" ucap perawat.
"Pulang? Yaudah deh makasih ya" balas Marc.

Mendengar Linda sudah pulang ke rumah ada perasaan senang di hati Marc. Marc menghubungi Linda.

Kring......
Ponsel Linda berbunyi.

Marc nelpon? -- batin Linda.
Hallo Marc, ada apa? -- Linda.
Kamu udah pulang? -- Marc.
Allhamdulilah, kamu tahu dari mana aku udah pulang? -- Linda.
Aku sekarang lagi di rumah sakit. Oh iya Rossi udah tahu kamu pulang? -- Marc.
Kayaknya belum deh.. -- Linda.
Oh gitu, yaudeh deh bye Lin.. -- Marc.

Marc menutup pembicaraan dengan Linda.
Marc bingung dengan Rossi akhir - akhir ini kenapa dia selalu tidak mengetahui keadaan Linda sebelum ada yang memberi tahu kepadanya? Ada apa sebenarnya dengan Rossi?

***

Marc mengunjungi rumah Rossi.

toktoktok...

"Eh ada Marc, ayo masuk dulu" ucap Stefania membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih.." balas Marc.

"Bu, ada Rossi nya enggak?" tanya Marc. "Ada, tapi dia masih tidur" balas Stefania.
"Masuk aja ke kamarnya" lanjutnya.
"Boleh bu?" balas Marc. "Boleh dong" ucap Stefania.

"Aku ke kamar Rossi dulu ya.." kata Marc meninggalkan Stefania.

toktoktok...

Marc membuka pintu kamar Rossi, kebetulan tidak di kunci.
Marc melihat sekeliling kamar Rossi, dominan berwarna coklat muda, ada lampu tidur di kanan dan kirinya dan terdapat sofa di depan tempat tidurnya.





Tiba-tiba ponsel Rossi berbunyi, Marc melihat ponselnya ternyata Linda menghubungi Rossi sejak tadi.

"Ros..?" ucap Marc mencolek Rossi.
"Rossi...." lanjutnya.
"Hah? Marc kok kamu disini?" kata Rossi terbangun dari tidurnya.

"Pengen tahu keadaan kamu, gimana?" tanya Marc duduk di sofa kamarnya.
"Baik kok..." balas Rossi ikut duduk di sofa.

"Aku ngerasa aneh tiba-tiba aku pengen ketaman kota terus ada perempuan datengin aku sambil bawa beer. Aku stres Marc gara-gara Harry" lanjutnya.
"Kenapa kamu sampai kayak gitu? Dulu-dulu kamu enggak kayak ginikan?" tanya Marc.

"Because i'm jealous Marc! Aku bener-bener sayang sama dia. Tiba-tiba mantannya dateng lagi gimana coba kalo kamu jadi aku..?" balas Rossi.

"Iya sih aku paham Ros, tapi kamu enggak semestinya seperti ini sampai mabok segala. Kamu mau cuma gara-gara cinta jadi meninggal kayak di berita-berita itu ?" ucap Marc.

Rossi menggelengkan kepalanya.

"Nah, kamu jangan negatif thinking dulu sama mereka!" lanjutnya.
"Negatif thinking kata kamu? Aku denger  Harry bilang kalau dia masih cinta sama Linda. Aku belum tuli!" balas Rossi.

"Sadar Ros! Kamu juga sering begitu kan sama perempuan lain? Walau hanya bercanda menurut mu. Mungkin Linda enggak ngomong langsung sama kamu kalau dia cemburu. Paham lah Ros, perempuan sama laki-laki beda kalau urusan hati dan Mungkin Harry masih cinta sama Linda, tapi Linda enggak kan.." ucap Marc.

***

"Lin mau bantuin aku enggak..?" ucap Harry.

Harry datang ke rumah Linda untuk meminta bantuan kepadanya. Harry memutuskan dia akan melupakan Linda dan membuka hatinya untuk Evelyn.

"Bantu apa? Selagi aku bisa aku bantu kok.." balas Linda.
"Bantuin supaya aku deket sama Evelyn" ucap Harry.
"Beneran?" balas Linda tersenyum. "Iyalah..." ucap Harry.

"Yaudah nanti kita jalan-jalan aja terus kita kerumah dia tapi jangan bilang dulu" balas Linda.
"Yaudah kamu keluar dulu aku mau siap-siap!" lanjutnya.

Linda bersiap-siap untuk jalan-jalan bersama Harry dan Evelyn.
Linda keluar dari kamarnya. 

"Ayo jalan.." kata Linda.

***

Mereka berdua masuk mobil dan menuju rumah Evelyn.
Sampai....

"Aku aja yang ngajak, soalnya mama nya suka enggak ngebolehin dia kalau jalan sama cowok" ucap Linda.

Toktoktok... Evelyn....

"Iya ada apa Lin?" kata Evelyn.
"Ayo ganti baju!!" balas Linda.
"Ngapain?" tanya Evelyn.

"Ih banyak nanya... Udah ganti baju nya sekarang Evelyn!" kata Linda.
"Oke oke, wait me!" balas Evelyn terburu-buru ke kamarnya.

Dari kejauhan Linda mengacungkan jempolnya kepada Harry bertanda jika sukses.

Mama Evelyn datang..

"Linda..? Ada apa kesini?" tanya mama Evelyn. "Mau ngajak Evelyn main" balas Linda.
"Sama siapa? Dimana?  Pulangnya jam berapa?" tanya mama Evelyn.

Astaga ini mau nanya atau ngewawancarain? -- batin Linda tertawa.

"Sama saya, di mall, enggak tau jam berapa..." balas Linda.

Evelyn siap untuk berangkat!

"Ma pergi dulu ya.." ucap Evelyn. "Jangan lama-lama ya" balas mama Evelyn.
"Aku udah besar ma bukan anak kecil lagi. Mama jangan khawatir" kata Evelyn.

"Linda, mama percaya Evelyn sama kamu! Jaga Evelyn ya" kata mama Evelyn.
"Siap bos" balas Linda bergaya seperti polisi sedang hormat.

***

"Ros dari pada kamu stres gara-gara mikirin Linda sama Harry kita refreshing yuk... Jalan jalan gitu" ucap Marc.
"Boleh-boleh, mau kemana?" balas Rossi.

"Mall..? Biar kayak anak-anak jaman sekarang mainnya ke mall" ucap Marc.
"Yaudah, ayo cuss..!" balas Rossi.

***

"Eh kita main game yu.." ucap Linda. "Kalian duluan aja deh, aku kepengen ke toilet sebentar" balas Evelyn.
"Yaudah deh aku tunggu disana ya.." ucap Linda.

Linda dan Harry menuju ke tempat bermain, semacam timezone. Ketika mereka ingin menuju kesana tiba-tiba Rossi melihat seperti sosok Linda tampak dari belakang.

Itu bukannya Linda? Tapi sama siapa dia kesini? -- batin Rossi.

To be continued

Sorry Jelek :(

Kritik,comment dan saran bisa di:
Twitter: @vidiyaannisa46
Facebook: http://www.facebook.com/vidiyapartIII
Atau bisa di kolom comment blog ☺


2 comments:

  1. tahiq walau udah panjang teuteup aja ending nya bikin gue mati penasaran �������� overall keren mpiddd sesuai ekspektasi gue �������� tapi ada yang gue kagak setuju. mana ada cerita Vale bagun cuma gegara di towel dikit. menurut cerita tour guide nya vale pas di indo, dia ngebangunin vale pake cara ngegelitik kaki, narik narik kaki itu kagak mempan. mempan mempan tuh pas dia niup kuping vale. pas bangun dia juga kek orang linglung yg gabisa buka knop pintu kamar mandi. dan katanya di kamar mandinya juga lama bener, katanya kemungkinan lanjutin tidur di bath tub. jadi kagak ada cerita sekali towel langsung bangun wqwqwq������ cuma itu doang sih, cepet lanjutin okay bhay

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue bingung kak itu juga gue agak gak setuju tapi bingung mau gue apain. mulanya gw pengen minta saran lu kak di line eh enggak muaat :'( seharusnya gue lebih kejam lagi kali ya sama vale....
      btw thanks kakakkkk udahh bacaaaaaaa:D

      Delete