Saturday, 25 July 2015

Apakah Kebebasan Bertindak di Indonesia Sudah Dijunjung TinggiSeiringdengan Reformasi?

Writer: Tio Mutia

 Mungkin artikel ini basically untuk “ menceramahi” orang yang sudah “menceramahi” gue (walau agak kaku sebenernya kalo diliat dari judulnya). Well, gue gak harus banyak bacot di twitter, spam, cari sensasi, labrak sana labrak sini, gue masih waras, gue gak melakukan apapun untuk “famous” gue juga ingin memperjelas, ga perlu lapor sana sini, langsung ngomong ke muka gue apa yang ga lo suka, ga usah bacot cari gerombolan orang introvert untuk nyerang gue dan temen-temen gue.

Gue ngerti, lo butuh respect karena gaya fangirling gue ga sesuai dengan kebiasaan di Indonesia yg, katakanlah, ortodok karena gue terlalu banyak gaul di tumblr yang notabene adalah sekumpulan orang-orang maju dengan pemikiran maju dan “terbuka:”. Asalnya gue mau bikin artikel ini dengan gaya bahasa kaku biar sekalian gue ajuin karya tulis ini ke pengamat lingkungan sosial, tapi dari tadi malem yang gue liat, susah kayaknya kalo harus berbicara terlalu jauh. Sekarang kita berbicara aja dasar-dasar dalam menjadi orang yang “open minded”.



Gue memang salah, gue tau karena gue ga bisa menyesuaikan gaya fangirlingan gue yang “kebaratan”dengan gaya fangirlingan kalian yang cenderung kaku. Gue udah mengakui gue salah. Masih banyak hal lagi. Seandainya gue ada di posisi kalian, sebagai orang yang open minded, gue akan mikir apa yang kira-kira ada di dalam pikiran lawan bicara kita. Balik lagi ke awal tapi dengan metode “reverse mind shock”. Apa kalian pernah berpikir ini? “Gue memang salah, gue tau karena gue ga bisa menyesuaikan gaya fangirlingan gue yang kaku dengan gaya fangirlingan Tio, Vidiya dan teman-temannya yang “kebaratan””. Pernah ngga? Ngga kan? Sama aja kayak gini. “Gue gak mau jadi monyet, dia jelek” kita gak tau kan apa yang ada di pikiran si monyet, bisa jadi dia juga berpikir “Gue gak mau jadi manusia, mereka aneh”. Pikiran masing-masing individu itu berbeda, yang harus kita lakukan itu coba menjadi open minded, see things from different perspectives, karena ga selalu yang kita pikirin itu bener di mata orang lain.

Kenapa gue ambil judul tentang kebebasan bertindak di era reformasi? Karena yang gue tangkep dari percakapan semalem kalian sama Vidiya (dia curhat ke gue karena gue terlibat, ga usah ngata-ngatain “tukang ngadu” lah apalah, dan unluckily gue sama kalian gak saling follow jadi satu-satunya akses gue untuk tau landasan pemikiran kalian itu ya Vidiya) di direct message, kalian gak terima cara luar negeri kita terapkan di Indonesia. Oh ya? Di luar negeri sama Indonesia sama aja, dilegalkan kebebasan dalam bertindak karena kita negara demokrasi, unless kalo kita komunis semacam Korea Utara I will consider, apalagi setelah turunnya rezim orde baru dan munculnya reformasi. Kemungkinan kebebasan kita semakin dijunjung tinggi, belum lagi piagam Hak Asasi Manusia yang makin memojokkan kalian yang introvert dan close minded terhadap sesuatu. Jadi, intinya apa kenapa gue ambil judul kebebasan bertindak di era reformasi? Gampang aja. Hak kita dalam melakukan sesuatu itu bebas, dengan dibatasi hak orang lain. Gue bebas mau ngomong sex kek, apa kek, mau nyumpahin orang mati kek, bebas Tapi hak gue juga masih di dalam batas hak kalian, salah satunya kalian gak suka cara gue dalam ber-fangirling ria. Atau contoh lain, gue kentut di depan umum bukan pelanggaran HAM kan? Tapi gue juga harus tau ada orang di sekitar gue yang gak suka tindakan gue. Itu wajar-wajar aja, gue juga ngerti yang kalian maksud. Pada satu sisi gue memang salah.Sekarang kita pake lagi metode “reverse mind shock”.Sorry not sorry aja, bagi orang “open minded” metode reverse mind shock itu gak ada habis-habisnya karena setiap pemikiran orang itu berbeda. Lo mau fangirlingan sekaku hubungan murid sama guru kek, sealay orang pacaran yg diumbar di sosmed kek, itu hak kalian. Yang unfortunately ternyata sama juga dibatasi oleh hak gue dalam mengekspresikan pikiran gue. Tapi pernah gak gue nyerang kalian dengan bilang “kalian kaku banget sih fangirlingannya, najis banget kayak orang udik” ? Pernah gak kalian liat gue bilang gitu? Ngga kan? Enak gak sih di gituin? Enggak ya? Sama dong kaya gue yang gaya fangirlingannya kalian judge.

Sekarang gue mau bahas masalah respect yang sampe tai biawak berubah jadi permata juga ga akan kelar-kelar. Kalian minta gue respect kalian yang basically “jijik” sama gaya fangirlingan gue. Oke, pada dasarnya, respect itu adalah hubungan “reversibel dua arah” yang ngga akan muncul tanpa adanya hubungan timbal balik. Oke gue misalnya respect sama kalian sesuai yang kalian mau dan memungkinkan gaya fangirlingan gue bakal equal sama kalian. Artinya kalian udah ngambil hak gue dalam berekspresi dong? Hehe. Gue respect bukan berarti gue harus ngikutin gaya kalian, gue respect berarti gue menghargai gaya fangirlingan kalian dan gak bakal maksa kalian untuk ngikutin gaya fangirlingan gue. Pake lagi metode “reverse mind shock” biar eneg sekalian. Kalian juga harus berpikir sama seperti gue “Gue respect bukan berarti gue harus ngikutin gaya fangirlingan si Tio dan kawan-kawannya itu, tapi gue respect berarti gue menghargai gaya fangirlingan mereka dan gak bakal maksa mereka untuk ngikutin gaya fangirlingan gue”. Unfortunately, pikiran kalian jauh dari kata “respect”. Kalian cuma melihat sesuatu dari perspective kalian aja tanpa liat perspective orang lain.

Setiap orang punya pemikiran yang berbeda, dan gue sadar betul akan hal itu. Jadi gimana sih cara menghindari judge, bullying dan lain sebagainya biar ga terus-terusan ada di muka bumi ini? Gampang aja. Urus urusan pribadi lo. Mind your own business. Gak usah repot-repot ngurusin hidup orang disaat hidup sendiri aja belom bener. Mau gue dosa kek ngomongin sex, mau lo kata sekolah gue ngajarin sex terus menerus kek (yang pada dasarnya pendidikan sex itu penting, buktinya ada pelajaran reproduksi kok di bab biologi, kok ga di judge sih yang bikin kurikulumnya gara-gara terlalu explicit untuk anak SEKOLAHAN?) itu urusan gue, bukan urusan lo. Gue aja gak ribet ngurusin hidup lo, kok lo ribet ngurusin hidup gue?

Last but not least, ini pelajaran buat kita semua. Jangan terlalu tertutup dalam pergaulan, apalagi di era globalisasi. Malu sama negara maju yang lebih akhir merdekanya daripada Indonesia dan dengan jumlahpenduduk yang jauh di bawah Indonesia macam Singapore. Coba buka cara berpikir kalian. Gue bukan maksud menggurui, apalagi PKn since I’m not a good Indonesian karena gue bahkan sampe sekarang masih mempermasalahkan sila ke-1 dan ke-5 Pancasila yang kalo ditelisik lagi saling bertentangan and I mostly speak in English by the way (lol, actually I’m neither an Inggris Utara person nor “keturunan Inggris”, I only speak English cause I’m born English and my Indonesian is an absolute shit compared to other people)jadi gimana gue mau menggurui PKn disaat gue sendiri bukan warga negara yang baik (I read your DMs honey) tapi ini basically soal pergaulan dan rasa simpati akan hak orang lain secara universal. Gue prihatin sama negara ini, gue mau negara ini maju, salah satunya dengan jadi orang yang “open minded” sehingga kehidupan kita ngga se-pathetic ini.

I hope we’ll get this fixed. Please kindly talk to me or mention me instead of ripping the shit out of me for the sake of peace behind my back (although actually you started the war even though you’re not meant to shout it out and blow it up on our faces, still, peace is meant to be a place for no judges). Gausah ngadu-ngadu ya loves, langsung aja komen, mention lewat twitter atau bales lewat artikel juga seiyanya ada argumen gue yang kurang valid karena gue lebih menghargai orang yang ngomong langsung daripada bergosip ria dulu J
Kisses,

Tio dkk.

No comments:

Post a Comment