Lidah ku kelu dan tak mampu berkata satu katapun. Apa bisa aku mencintai seorang sahabatku? Ini gila. Benar-benar gila! Kenapa Nicky harus mendapatkan istri seperti ku? Padahal, di luar sana banyak yang mengharapkan cintanya. Dan akulah perempuan penghancur masa depannya, akulah penghancur harapannya untuk mendapatkan pendamping yang baik dan yang bisa mencintainya dengan setulus hati.
Rasanya, ingin sekali menampar diriku sendiri. Aku merasa, jika aku adalah perempuan yang tak tahu diri. Nicky sangat baik kepadaku, ia pun rela menikah denganku yang sudah tak suci lagi dan berbadan dua. Tapi, mengapa aku membalas semua perbuatannya seperti ini?
"Jika kau belum bisa mencintaiku, tak apa. Aku hanya ingin kau jujur dari hatimu yang terdalam." Nicky berbisik sembari membenarkan rambut kecilku yang nakal dan langsung mencium keningku.
***
Hari demi hari kita lewati. Sampai pada akhirnya aku dan Nicky sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk anak yang sebentar lagi akan lahir di dunia. Nicky tak membolehkanku bekerja terlalu keras, karena pasti akan berdampak kepada anak yang ada di perutku.
Nicky takut jika hal itu akan terjadi lagi. Iya, ketika masa kehamilanku sangat muda dan sangat rentan. Empat belas minggu masa kehamilanku dan aku masih terus bekerja dengan keras. Aku tak pernah bisa diam, dan sampai pada akhirnya aku mengalami pendarahan yang hebat. Untungnya, Nicky suami yang siaga. Dengan cepat ia membawaku ke Rumah Sakit dan langsung mendapatkan pertolongan. Semuanya begitu cepat, aku dan janinku tak mengalami masalah.
Sejak kejadian itu, Nicky tak mengizinkanku membereskan rumah yang lumayan besar secara sendirian. Ia tak pernah tega melihatku terbaring disofa dan sudah tertidur dengan nyenyak.
Sekarang, aku dan Nicky menghabiskan waktu dengan menonton film DVD kesukaanku. Nicky tak pernah ingin jauh dariku, karena dokter bilang jika bulan ini sudah waktunya janinku keluar ke dunia. Sering kali aku mengalami kontraksi yang hebat, dan Nicky menanganiku dengan sempurna.
Tiba-tiba ku rasakan perut yang sakitnya luar biasa. Melebihi kontraksi yang sudah sering aku alami. Aku berteriak kesakitan sembari meremas lengan baju milik Nicky yang sedang menenangkanku.
"Sakit, Nicky!" teriakku.
Nicky dengan cepat mengambil kunci mobil dan menggendongku perlahan menuju ke dalam mobil. Setelah ia berhasil memasukkan-ku kedalam mobil, ia langsung berlari menuju gas kemudinya dan mengemudikannya dengan cepat.
"Nicky, aku sudah tak tahan lagi!"
Aku berteriak kembali sembari meremas jok mobil yang aku tempati. Aku merasakan seperti ada aliran air yang membasahi kakiku. Benar, ini adalah air ketubanku yang sudah pecah. Nicky berkali-kali melihat keadaanku di belakang, wajahnya sudah sangat panik dan aku tidak bisa menggambarkannya.
Nicky memarkirkan mobil tepat di depan pintu utama Rumah Sakit secara sembarang. Ia membawaku turun sembari berteriak meminta pertolongan. Suster dengan cepat membawa kursi roda dan membawaku ke ruang yang tepat.
Aku sedang diperiksa dokter, dan aku melihat bayangan samar mondar-mandir tak karuan. Pasti itu bayangan Nicky yang sedang khawatir menungguku karena tak diizinkan masuk dari dokter. Sekuat tenaga aku mendorong bayi ini agar bisa keluar dari rahimku dengan selamat. Butuh waktu tiga jam untuk mengeluarkan bayi ini, dan aku mendengar tangisan anakku sendiri untuk pertama kalinya.
Dokter yang menanganiku langsung keluar dengan perlengkapan yang masih utuh. Memberitahu Nicky jika aku dan bayiku baik-baik saja. Aku bisa membayangkan, bagaimana raut wajahnya yang mendapatkan kabar orang tersayangnya terselamatkan.
Ia masuk kedalam ruanganku dan langsung memelukku dengan erat. Raut wajahnya seperti berkata aku bangga padamu, Zi.
"Aku tak sabar melihat anak kita." ucap Nicky sembari mengusap kedua telapak tangannya.
Hatiku seperti ditusuk pisau yang tajam. Aku tak sabar melihat anak kita, ingin rasanya aku menangis didepannya dan aku berkata Nicky, ini bukan anakmu. Aku tak tahu siapa ayah dari anak ini. Aku tahu, Nicky pasti bahagia. Tapi, anak yang baru saja aku keluarkan tak akan pernah ada darah setetespun darah darinya.
Aku tersenyum dengan perasaan bersalah. Aku melihat Nicky terus memandangi pintu keluar masuk ruangan ini dan berharap suster membawa anakku, dan anak bagi Nicky. Ia membalikkan badan menghadapku,
"Kau akan memberikan nama anak ini siapa?" Nicky tersenyum jahil kepadaku.
"Karena anaknya laki-laki, mungkin aku akan memberi nama Utsina Suho. Bagaimana menurutmu?" Aku mengelus pipinya yang lembut.
"Nama yang bagus."
***
Aku tak bisa membayangkan bagaimana ketika Suho tahu jika ayah darinya adalah bukan Nicky. Cepat atau lambat pasti Suho akan mengetahuinya. Entah itu ia tahu dengan sendirinya atau aku yang memberitahunya.
Setiap hari aku memandangi perubahan fisik yang dialami Suho. Semakin besar ia semakin tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung dan mempunyai bola mata berwarna abu-abu. Sepertinya aku pernah melihat wajah yang mirip seperti anakku. Aku berusaha mengingat wajah yang mirip dengan Suho.
Jorge?
Aku langsung mengingat namanya dan terus membayangkan wajahnya dengan detail. Raut wajahnya sangat mirip sekali. Mengapa aku yakin sekali jika Jorge adalah ayah dari Suho?
"Tenang, nak. Aku akan mencari tahu siapa ayahmu." batinku sembari mengelus rambutnya yang sedikit demi sedikit mulai tumbuh.
"Zi, kau disini?" tanya Nicky mengagetkanku dengan kehadirannya.
"Hush.. Jangan ribut, Suho sedang tidur." Aku menenangkan Suho kembali yang sudah mulai terbangun.
Nicky mendekatkanku, "Kau tak pergi?" tanyanya yang langsung mengambil alih posisiku.
"Sebentar lagi." jawabku singkat dan langsung beranjak keluar.
Malam hari? Itu adalah duniaku sedari dulu. Rutinitasku sehari-hari dan itulah pekerjaanku. Seperti biasa, aku bersiap-siap pergi malam hari tanpa pamit terlebih dahulu.
Bukannya aku tak sopan, aku tak ingin Nicky merasa sakit ketika aku meninggalkannya dengan pakaian seperti ini, dan pergi sudah larut malam, sendirian yang sudah berstatus menjadi istri orang.
Terkadang, aku kasihan dengan Nicky yang entah ini hari keberapa ia terlelap di sofa karena menungguku pulang. Tapi Nicky masih bisa tersenyum. Mungkin karena sudah biasa dengan kepulanganku lewat tengah malam dalam keadaan mabuk dan bau cairan cinta dimana-mana.
Ia juga selalu terbangun tengah malam ketika mendengar suara tangisan Subo. Bukan hanya itu, ketika aku sudah bangun di pagi hari, segalanya sudah siap. Makanan sudah siap dan hanya tinggal ku makan, rumah sudah bersih dan aku tak perlu lagi membersihkannya yang semestinya semua itu adalah tugasku.
"Zi, Suho demam. Ia memanggilmu terus." senyum sayu Nicky membuatku terhenyuh.
Namun aku sudah terlalu lelah untuk menanggapi itu dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang.
"Zi, apa kau tak ingin mencoba menengok Suho?"
Aku tak menggubris Nicky dan tetap melanjutkan tidurku. Aku dengar helaan nafas panjangnya dan menyelimuti tubuhku pelan.
"I love you Zi."
Dan kecupan ringan Nicky menutup malamku kali ini.
***
5 tahun kemudian...
"Ma, tolong anter Suho. Teman-temanku ingin tahu mamaku yang mana." Suho menggoyangkan tubuhku yang sedang lunglai.
Maklum, aku sedang mengandung adik dari Suho. Dan aku sering sekali merasa lemas dan capek.
Aku melirik ke arah jam yang dipasang di dinding kamar tidurku. Aku berusaha bangun dari ranjang dan membasuh wajahku. Aku berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Suho di belakang.
Sekitar 10 menit perjalanan menuju sekolah Suho yang tak terlalu jauh dari rumah. Aku mengantarkannya masuk kedalam lalu pulang tanpa berbincang-bincang terlebih dahulu oleh orang tua murid yang ada disana.
Sesampai di rumah, kenapa rumah ini sangat sepi sekali?
"Nicky.. Nicky." teriakku sembari mencarinya ke sudut sisi rumah.
Ah sudahlah, tak penting. Lagipula, pasti ia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku.
Dua jam setelah aku tidur, aku mengevek layar ponselku.
Message from Nicky.
Aku menggesernya dan melihat isi pesannya,
Hai sayang, kau tak perlu menjemput Suho. Aku akan menjemputnya. Ngomong-ngomong, maafkan aku sudah pergi pagi-pagi tanpa sepengetahuanmu. I love you, Zi.
Tak lupa Nicky selalu memberi kalimat i love you di akhir pesannya. Apakah aku perempuan yang beruntung memilikinya? Ya, aku beruntung. Tapi Nicky-lah yang tak beruntung memiliki ku.
"Mama..." tiba-tiba Suho membuka pintu kamar dan memelukku dengan erat. Diikuti Nicky di belakangnya.
Aku melihat Nicky membawa amplop putih dan seperti ada cap di depannya.
"Suho anak pintar, bisakah Suho mengganti bajunya? Sehabis itu papa akan membantu Suho mengerjakan tugas, bagaimana?" Nicky berlutut dan mengelus pipi kecilnya yang lembut. Suho mengangguk dan langsung berlari ke kamarnya.
Nicky ikut duduk di sebelahku dan memberiku amplop yang sudah kulihat sedari tadi. Aku membukanya perlahan dan membaca isi suratnya.
Sebelum itu...
Nicky sudah berjanji dengan temannya. Temannya adalah salah satu dokter ternama di salah satu Rumah Sakit di Amerika. Sengaja Nicky tak memberi tahu Zi agar ia tak mengetahuinya sebelum Nicky memberitahunya. Ia mengetes kesuburannya dan hasilnya.....
Zi kaget setelah membaca hasil lab dari rumah sakit, Nicky mandul? Lalu anak siapa lagi yang ku kandung? Aku merasa bersalah, tetap saja Nicky tersenyum dengaku.
"Aku bangga denganmu." Nicky mengelus perutku. Aku hanya bisa tersenyum.
***
Sehubungan dengan jadwal motogp yang di adakan di negara Amerika, Nicky mengajakku dan Suho untuk datang melihat aksi-aksi para pembalap.
Nicky sangat antusias bertemu kembali dengan para mantan mechanic-nya yang sekarang sudah menyebar dan menjadi para mechanic pembalap yang lain.
Suho menggenggam tanganku seakan tak ingin lepas dariku. Banyak pembalap dan mechanic menyapaku dan masih mengingatku. Dan banyak di antara mereka yang mengatakan jika wajah Suho sangat mirip dengan wajah pembalap terkenal itu, Jorge.
"Hai, Zi." Aku mendengar suara yang tak asing bagiku. Aku membalikkan badan dan Jorge tersenyum padaku.
Kedua bola matanya yang bewarna abu-abu langsung melihat Suho yang sedari tadi menarik perhatian orang-orang di sirkuit.
"Hello, nak. Siapa namamu?" tanya Jorge berlutut dan mengelus kedua pipi lembutnya.
"Suho, om." Suho memeluk kakiku yang seakan ketakutan.
Jorge langsung berdiri dan terus memperhatikan wajah Suho.
"Ketika aku melihat Suho, seperti melihat aku saat kecil."
Jorge bernada seperti berbisik kepadaku. Entah apa yang harus aku lakukan, tapi akupun merasakan seperti itu. Jorge makin mendekatiku,
"Bagaimana jika kita mengadakan test DNA?" Jorge berbisik tepat di telingaku.
Aku sontak terkaget mendengar pernyatannya. Itulah sebenarnya kemauanku, "Tentu saja, aku mau." Aku kembali berbisik.
"Kau bicarakan baik-baik dengan Nicky. Kita mengadakan test DNA setelah latihan bebas, bagaimana?"
Aku mengangguk cepat, "Aku setuju."
Jorge berpamitan denganku dan Suho, tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Nicky menghampiriku dan mengajak Suho berkeliling sirkuit sembari membeli makanan manis kesukaannya, gulali.
Aku mengambil ponselku di saku celana jeans. Aku dengan cepat mengetik pesan kepada Nicky untuk membicarakan hal mengenai test DNA yang diinginkan Jorge. Isi pesanku,
Nick, tadi Jorge menghampiriku dan melihat Suho. Ia mengajakku untuk mengadakan test DNA, bagaimana menurutmu?
Tak butuh waktu lama, Nicky membalas pesanku.
Ya, aku setuju dengan Jorge. Aku akan menemanimu.
Hatiku lega sat Nicky mengizinkanku untuk mengadakan test DNA. Aku, Nicky dan Suho menunggu Jorge selesai latihan bebas hari ini. Diam-diam saat Suho sedang tertidur, aku mengambil beberapa helai rambut tipisnya dan aku masukkan di plastik bening agar tak hilang.
Beberapa jam menunggu, akhirnya Jorge selesai. Ia menghampiri kami dan mengajak kami ke salah satu Rumah Sakit yang cepat melakukan test DNA, tak perlu berhari-hari tetapi hanya sekitar dua jam saja.
Kami berangkat dengan mobil yang berbeda, tentu saja Jorge membawa mobilnya sendiri. Kami parkir kendaraan dan masuk kedalam Rumah Sakit.
"Ma, kita ngapain disini?" ucap Suho terlihat lesu. Aku hanya tersenyum melihat Suho yang seperti itu.
Aku memberi plastik bening yang berisi helaian rambut Suho kepada dokter. Kami menunggu di kantin yang ada di Rumah Sakit tersebut. Kami berbincang banyak mengenai motogp dan lawan-lawannya yang berat. Dan Suho tertidur dengan pulas di pangkuanku.
Tak terasa dua jam berlalu dan Suho sudah bangun dari tidurnya. Kami berjalan menuju lab yang memeriksakan hasil test DNA-nya.
"Pak, ini hasil testnya." Dokter menghampiri kami dan memberikan amplop putih kepada Jorge.
"Saya permisi dulu." Dokter itu meninggalkan kami.
Jorge membuka perlahan amplop yang berisi hasil test DNA Suho dan Jorge. Di bacanya dengan detail dan kedua kelopaknya tampak membesar. Tak banyak bicara, Jorge memberikan hasil test kepada Nicky. Aku ikut membacanya dan terkejut jika Suho memang benar anak dari Jorge.
Aku dan Nicky tak bisa berkata-kata lagi. Kami melihat Suho yang tampak bingung dengan kami bertiga. Jorge berlutut di depan Suho sembari mengelus rambutnya.
"Bagaimana jika Suho aku bawa?" Ucap Jorge.
"Tidak! Walaupun Suho anakmu, tapi aku tak mengizinkan Suho ikut denganmu. Aku hanya memperbolehkanmu bertemu dengannya." Tegas Nicky.
Aku hanya bisa duduk dan melihat mereka. Aku tak bisa membayangkan perasaan Nicky saat ini saat mengetahui Suho adalah anak Jorge. Tapi aku senang, setelah beberapa tahun kemudian aku mengetahui siapa ayah dari Suho.
Jorge merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mendekatkan ponselnya di wajah Suho. Ia mempotret wajah Suho yang menggemaskan.
"Oh ya Suho, apa hobbymu?" Jorge terus mengelus rambutnya.
"Main bola, om." Suho mengigit jari tangannya.
"Jangan panggil aku, om. Tapi panggil aku ayah." Jorge tersenyum kepada Suho.
"Ayah punya beasiswa seumur hidup untuk Suho. Suho bisa pakainya nanti ya, jika Suho sudah kerja seperti ayah, ayah Nicky dan mama Zi." Jorge memberikan Suho beasiswa sekolah bola yang ia dapatkan dari temannya.
Suho mengambilnya dan Jorge memeluknya dengan erat.
The end..
No comments:
Post a Comment