Linda sangat berterima kasih kepada Alex. Andai tak ada dirinya, Linda tak tahu bagaimana nasibnya seorang diri. Keadaannya sangat tak memungkinkan lagi untuk pulang. Lemah dan bodoh, itulah kata yang menggambarkan Linda sekarang.
Sedari tadi, ia tak beranjak dari ranjangnya. Sembari memeluk guling dan memegang ponselnya. Ia iseng membuka habis isi galerinya, banyak sekali foto dirinya bersama Vale. Sampai pada akhirnya, ia menemukan fotonya bersama Marc. Matanya berbinar, senyumannya sangat tulus. Kenapa Marc begitu bodoh? Ia adalah laki-laki yang tampan. Secara kasat mata saja wanita yang melihatnya langsung terkesima kepadanya. Apalagi, jika mengetahui sifat asli seorang Marc Marquez, mungkin makin jatuh cinta kepadanya.
Banyak wanita disekelilingnya yang dekat dengannya. Yang lebih baik, lebih cantik, lebih segalanya dari Linda. Lalu, mengapa ia tetap bertahan dengan satu orang wanita?
"LINDA, ADA MARC. KEMARILAH." teriak mama kesayangannya.
Sontak membuat Linda meloncat bangun. Ia bercermin didepan kaca rias yang banyak terdapat parfum, peralatan makeup ataupun sesuatu barang yang asal ditaruhnya. Linda menyisir rambutnya yang kusut dan memakai lipgloos senada dengan warna bibirnya. Ia melangkah dengan ragu. Marc menunggunya diruang tamu sembari membaca buku otomotif yang tersedia di meja. Linda membuka pintu kamarnya dan menghampiri Marc.
"Hai," sapa Linda. "Ada apa malam-malam kesini?" lanjutnya.
Marc menutup majalahnya, "Emm.. Tidak. Alex bilang kau bertemu dengannya dimall dan Alex mengantar kau pulang. Ada apa denganmu?" tanya Marc. Terselip nada khawatir
"Oh, ya. Alex mengantarkanku pulang, aku ingin berterima kasih kepadanya. I'm fine, hanya tidak enak badan saja." dalih Linda.
Marc memegang kening Linda, "Fine? Badanmu hangat. Apa yang bisa dibilang fine?"
"Kenapa kau terlalu berlebihan? Aku baik, Marc. Lebih baik daripada tadi pagi." ucapnya.
"Tenanglah, kau tak perlu khawatir." lanjutnya memegang punggung tangan Marc. Sontak membuat Marc membentuk seulas senyum dibibirnya.
"Ya, aku percaya padamu."
Marc melirik arlojinya yang melingkar ditangan kirinya, pukul 9.15 menit. "Lin, aku pulang ya." Marc bangkit dan mencium kening wanita kesayangannya.
"Hati-hati ya." Ia menyentuh tangan Marc.
"Istirahatlah. Habis ini, kau langsung tidur. Dan jangan lupa minum obat." Perhatian Marc kali ini membuat Linda tersenyum lebar.
"Aku akan lakukan semua yang kau ucapkan."
***
Jam menunjukkan pukul 5.25 pagi. Linda sudah bangun dari tidurnya, dan langsung bergegas menuju kamar mandi yang terdapat dikamar tidurnya. Ia mencuci muka dan menggosok giginya. Rutinitas sehari-hari setelah bangun tidur.
Ponselnya berbunyi dengan keras dan menghasilkan getar yang cukup terdengar ditelinganya. Ia melirik kearah jam yang terpasang didinding kamar tidurnya. Linda mengerutkan keningnya, siapa yang ingin menghubungiku pagi-pagi seperti ini? Pikirnya. Ia meraih ponselnya dan membaca layar ponselnya, Message from Marc Marquez. Dibuka isi pesan dari Marc. Bunyinya:
Good morning, cantik. Bagaimana keadaanmu pagi ini?
Ia memasang senyum terbaik yang dimilikinya. Apakah ia melakukan hal seperti ini ke semua wanita yang dekat dengannya? Pertanyaan yang ada dibenak Linda. Mungkin, itu adalah pertanyaan bodoh yang pernah didengar seumur hidup. Tak mungkin Marc melakukan ke semua wanita yang dekat dengannya. Justru, Marc-lah yang mendapatkan kalimat-kalimat seperti itu. Marc adalah laki-laki yang setia dengan satu wanita. Lalu, apa yang diragukan lagi?
Ia duduk diranjangnya dan membalas pesan dari Marc,
"Morning too, Marc. Have a nice day. Ya, aku beruntung karena hari ini aku lebih segar."
Tak perlu waktu lama, ia membalas, "Syukurlah, aku senang mendengarnya. Bagaimana jika hari ini kita jalan? Ya, hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena aku tak menemanimu kemarin."
"Dengarlah, ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan diri seperti itu. Aku tak mau pergi jika mau masih meyalahkan dirimu."
"Oke. Aku tidak akan menyalahkan diriku. Kita berjalan semata-mata untuk kesenangan kita. Bagaimana? Kau mau?"
"Ya, tentu aku mau. Tapi kita akan pergi kemana?"
"Terserah kau ingin pergi kemana. Pikirkan tempat yang ingin kau kunjungi. Sejauh apapun tempat itu, aku akan menyanggupinya. Aku akan menjemputmu jam 10 pagi. Bersiaplah."
Ada satu tempat yang memang ingin ia kunjungi untuk kedua kalinya, tempat itu bernama Peschiera Del Garda. Letaknya lumayan jauh dari Tavullia, kurang lebih tiga jam perjalanan menggunakan kereta bawah tanah. Tempat itu sungguhlah indah, membuat para pengunjung ingin kembali kesini lagi.
"Apakah kau ingat, kapan pertama kali kita bertemu?"
"Tentu saja aku mengingatnya. Kau menghampiriku di backstage saat aku sudah selesai tampil di pementasan drama."
"Senang mendengar kau masih mengingatnya. Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana, apakah kau mau menjadi kekasihku? Aku tulus mencintaimu, Linda. Lebih tulus daripada mantanmu."
"Tentu, aku mau. Aku juga tulus mencintaimu."
Pukul 8.30 pagi, Linda mempersiapkan pakaian yang akan dipakainya nanti. Dari gerak-geriknya, ia terlihat bersemangat. Ia melangkah menuju kamar mandi, membersihkan badannya yang kotor. Butuh waktu satu jam untuk berada dikamar mandi. Linda lebih memilih pakaian yang santai, baju putih polos dengan celana jeans pendek. Ia juga tak perlu waktu lama untuk berlama-lama didepan cermin. Hanya menyisir rambutnya, memakai bedak yang tipis dan mewarnai bibirnya menggunakan lipstick merah agar tak terlihat pucat. Simple, tapi tidak membuat aura kecantikannya luntur.
Marc sudah berada didepan rumah Linda, dengan menggunakan mobil BMW hitam milik adiknya. Sebelumnya, ia kembali memeriksa barang yang disimpan di saku celananya, dan memindahkan tas kamera di jok belakang mobil. Ia mengetuk rumah wanita yang akan menemaninya berjalan. Tepat, wanita itulah yang membukanya. Sepertinya ia sudah siap.
"Gimana? Sudah siap?" Marc tersenyum.
"Tentu. Aku sangat siap." jawab Linda.
Marc memegang punggung tangan Linda. Ia membukakan pintu, menyuruhnya masuk kedalam mobil, lalu menutupnya kembali. Marc memperlakukan Linda benar-benar seperti ratu. Marc ikut menyusul masuk kedalam mobil.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Marc.
Linda menoleh kearah Marc, "Ke stasiun."
"Stasiun? Sebenarnya kita akan pergi kemana?"
"Sudahlah, kau tak perlu tau sekarang. Kita hanya butuh kereta bawah tanah saat ini."
Marc mengendarai mobilnya menuju stasiun kereta yang terdekat. Tak sampai 10 menit, karena jalanan tak terlalu ramai. Ia memarkirkan mobilnya, dan turun bersama. Tak lupa, tas kamera dibawanya. Linda memesan dua tiket kereta kelas business, sedangkan Marc menunggunya di depan loket. Mereka masuk kedalam gerbong yang membawa mereka ketempat tujuan. Menunggu kereta datang dan mereka menempati bangku yang tersedia.
Mereka bercengkerama tentang berbagai hal, tapi tidak tentang mantannya. Sampai pada akhirnya, Linda tertidur karena mengantuk dan ingin membunuh rasa jenuhnya menunggu tiga jam perjalanan. Kejailan Marc beraksi, ia mengeluarkan kamera dari tasnya dan mempotret wajah Linda. Marc melihat kembali hasil potretannya, ia tertawa terbahak-bahak. Wajahnya sangat lugu, dan natural. Setelah puas mempotret banyak pose dari seorang Linda, ia menaruh kembali kamera di tasnya. Ia menyenderkan kepalanya dijendela kereta dan tertidur pulas.
Tak terasa mereka tidur sudah lama, sebentar lagi mereka akan sampai ditempat tujuan.
"Mohon perhatian, 5 menit lagi kita akan sampai di Peschiera Del Garda, Italy. Periksa kembali barang bawaan anda."
Marc terbangun, ia mengucek kedua mata menggunakan jarinya. Pengelihatannya masih terlihat samar, ia melihat Linda masih terjaga dalam mimpinya. "Hei, bangun. Sebentar lagi kita sampai." Marc mencubit kedua pipinya. Membuat Linda kaget dan sontak terbangun. Ia menguap dan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
"Kau masih mengantuk?" tawa Marc.
Linda hanya mengangguk sembari mengucek matanya.
"Kau tidur lebih dulu dariku, dan bangun lebih lama dariku. Kau ini." canda Marc.
Para penumpang lain sudah bersiap-siap menenteng barang bawaannya. Bahkan sudah ada yang berdiri ataupun berdiri di pintu kereta. Linda masih menetralkan tubuhnya dan matanya. Kereta itu berjalan lebih lamban dari normalnya dan akhirnya kereta terhenti. Penumpang berhamburan keluar dari kereta, begitupun dengan Marc dan Linda. Marc meraih punggung tangan Linda, ia menggandengnya sampai mereka keluar dari stasiun. Mereka berjalan mengelilingi tempat itu, Linda tersenyum lebar melihat tempat yang sudah lama tak dikunjunginya. Begitupun dengan Marc, pertama kalinya ia datang ke tempat ini. Tak henti-hentinya ia memandangi sungai dan bunga-bunga yang membuat tempat itu indah. Marc mengambil kameranya dan mempotret berbagai macam pemandangan, dirinya bersama Linda, dirinya seniru dan Linda sendiri.
Banyak pengunjung yang datang hanya sekedar duduk-duduk, berfoto-foto ataupun travelling. Marc mendapati toko kecil yang menarik perhatiannya, pembelinya berbaris berjejer ke belakang. 'Ice cream' hanya ice cream? Lalu kenapa bisa ramai seperti itu?
"Kau mau ice cream?" tawar Marc.
"Jika kau mau, aku mau. Jika kau tidak mau, akupun tidak mau."
"Tunggu disini. Jangan kemana-mana"
Marc melangkah cepat ikut berbaris berjejer kebelakang. Satu persatu, mereka mendapatkan bagiannya. Perlahan tapi pasti, kini Marc berada di depan. Ia melihat menu ice cream yang memang sengaja di taruh disana. Gelatoo solo mio dan Regusa, menu favorite dari toko ini.
"Selamat siang, ingin pesan apa?" tanya penjual toko tersebut.
"Emm.. Satu Gelatoo solo mio dan satu Regusa."
Tak perlu waktu lama, pemilik ice cream itu memberikan dua ice cream pesanan Marc. Untuk dua buah ice cream, harganya lumayan menguras dompet. Tapi, Marc tak mempermasalahkannya.
Dari jauh Linda melihat Marc membawa dua ice cream yang berbeda, "Kau mau yang mana?" Marc menyodorkan kedua ice cream itu.
"Yang ini aja, deh." Linda menunjuk ice cream regusa.
Mereka kembali memutari tempat itu sembari menikmati masing-masing ice cream. Udaranya sangat sejuk sekali, disana selalu mendapatkan angin segar. Walaupun pada siang hari, tapi tak pernah terasa panas. Banyak pepohonan besar sengaja dibiarkan tumbuh besar. Mereka mencari tempat duduk yang belum ditempati. Dari ujung ke ujung berjejer tempat duduk yang jarak tak lumayan jauh dengan tempat duduk yang lain. Mereka mendapatkan tempat duduk yang kosong. Ice cream sudah habis, jalan-jalan memutari tempat itu sudah. Sekarang waktunya meregangkan otot-otot kaki seraya diberikan pemandangan sungai yang luas dan panjang, bunga-bunga yang berwarna dan bermekaran serta kapal-kapal yang membuat semakin indah untuk dipandang.
Marc menoleh kearah Linda, begitupun sebaliknya, Linda menoleh kearah Marc. Sepertinya mereka kelelahan, tetapi mereka masih bisa tertawa. Tertawa puas dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang. Marc merogoh saku celananya, memastikan barang yang sudah dipersiapkan sedari awal tetap ada.
"Lin?" ucap Marc.
Linda menengok kearah Marc.
Marc mengeluarkan barang dari saku celananya, "Kau masih ingat cincin ini?"
Linda lumayan terkejut, ternyata ia masih mengingatnya. "Ya, aku masih ingat." jawabnya.
"Saat itu kau belum bisa menjawabnya. Aku tak ingin seperti ini terus, Lin. Aku butuh jawabanmu, sekarang." dipertegas kata sekarang.
"Aku tulus mencintaimu, Linda. Lebih tulus daripada mantanmu, Vale."
Mendengar kalimat itu, sontak membuat Linda meneteskan air matanya. Bagaimana tidak, ia kesini ingin bernostalgia jaman ketika ia dengan Vale. Di sinilah tempatnya ketika Vale mengungkapkan perasaannya, dan kalimat itu sama dengan Marc. Ia masih ingat betul bagaimana Vale mengungkapkannya.
Vale, aku rindu padamu.
Ah tidak, kau tak boleh rindu padanya. Disampingku sudah ada laki-laki yang setia kepadaku. Kenapa kau harus rindu dengan laki-laki seperti itu?
Jika ia bisa bersama Stella. Lalu, kenapa aku tidak bisa dengan Marc? Kau harus menerimanya, bodoh!
"Kau mengapa menangis?" sontak membuat Marc menjadi khawatir.
"Ah, tidak. Aku hanya bahagia saja."
"Bahagia? Bahagia untuk apa?"
"Bahagia karena aku bisa berada disampingmu." dalih Linda.
"Jadi, bagaimana? Apakah kau mau menjadi kekasihku?" Marc mengatakannya lagi.
"Ya, tentu aku mau."
Marc langsung memeluk Linda dan mencium bibir manis kekasihnya. Tak lupa ia memasangkan cincin dijari manis tangan kekasihnya. "Terima kasih." bisik Marc ditelinga Linda.
***
Hari ini waktunya Marc untuk melihat pameran kendaraan antik di Italia. Marc termasuk orang yang menyukai barang antik, apalagi dengan kendaraan antik. Ia mempunyai satu mobil antik dan termasuk limited edition, Jaguar E-Type. Dengan menggunakan baju bergambar mobil bewarna hitam dan jeans, ia pergi ke acara pameran kendaraan antik.
Ia memutari seluruh ruangan dan melihat-lihat kendaraan yang dipamerkan disana. Tak lupa ia meminta brosur-brosurnya, sepertinya ia ingin menambah koleksinya lagi. Dilihatnya dari jauh dan samar, sepertinya ia mengenal laki-laki itu. Ia mendekati laki-laki itu.
"Hai, Vale." sapa Marc.
To be continued...

Astaga sesuai jud gilak jealous gue maakkkk!!! Terusin nulis vid udh mulai rapi feel lo udh dapet juga. Huwaaaa gue juga pengen ada laki-laki yg mencintai gue dengan cara yg kyak gt
ReplyDeleteEaaak, lo baca cepet amat kak. Udahdoa aja si jojo sama ian nanti kayak simarc gitu. Btw, thanks for reading eaaakkk:D
ReplyDeleteMAMPUS LO KATAKATA MARC SAMA VALE NYARIS SAMA PERSIS. BEGO LO LIN CARI AJA COWO LAIN UJUNG UJUNGNYA JUGA SI VALE JODOH SAMA MARC LO MELONGO SENDIRI. GET OVER IT. BYE
ReplyDeleteYailah nanti ujung2nya juga ada yang mati salah satu wkwk
DeleteAahh kereen, feel nya dapet bgtt. Lanjutt yaa..
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
Delete