Saturday, 13 August 2016

Tunggu Saja #1

Aku Jeslyn, sekarang aku duduk dibangku kelas 1 SMA. SMA yang katanya meng-asyikan dan masa-masa paling indah selama sekolah, bagiku tidak sama sekali. Mereka hanya mementingkan penampilan fisik dan memandang dengan sekejap mata. Pantas saja jika aku selalu dihina oleh mereka karena penampilanku yang jauh dari kata sempurna.

Aku tahu aku memiliki badan yang besar, kulit yang hitam, dan mukaku yang berjerawat. Dan aku juga tahu dominan anak-anak yang bersekolah disini adalah orang kaya, cantik dan tampan, dan berkulit putih, tapi apakah mereka pantas menghinaku? Apakah mereka merasa dirinya-lah paling sempurna?

"Jeslyn, mau kemana?" Seseorang dari belakang mencoba menyamai langkahku.

"Ke loker." aku menengok kepadanya. Dan ternyata dia si laki-laki yang selalu menghina setiap dia melihatku.

"Sendirian?"

"Hm iya sih aku paham kamu selalu sendirian, kan tidak ada yang ingin berteman denganmu bukankah begitu Jeslyn?" ujarnya.

Aku hanya diam dan mencoba tidak menggubris ucapannya. Jika sekarang aku memiliki kekuatan super, mungkin sekarang aku akan menampar wajah tampannya itu tanpa terlihat olehnya. Sayangnya itu hanya cerita fiksi yang tidak pernah terjadi. Aku terus berjalan dan tidak peduli dengan mulut tajamnya yang terus menghinaku. Semakin aku balas, dia akan semakin senang. Bukankah begitu.

"Hei Roy, mengapa kamu berjalan dengan si gendut itu? Apakah kamu......"

"Diam kamu. Mana mungkin aku naksir dengan orang seperti dirinya. Lagian, si gendut ini seperti pembantu rumahku. Hancur reputasi namaku jika kamu bergosip yang tidak tidak." Ujar Roy. Si laki-laki brengsek itu kemudian meninggalkanku dengan seribu langkah.

Sabarlah Jeslyn. Jadikan hinaan mereka menjadi motivasiku untuk menjadi lebih baik.


Sesampainya di loker, aku melihat banyak sekali sticky note menempel di loker. Aku langsung mencabutnya dan aku melihat sekumpulan perempuan tertawa melihatku mencabut sticky note. Pasti itu mereka yang sengaja menempelkannya. Tidak terasa air mata ku terjatuh di pipi, aku langsung mengusapnya agar orang-orang tidak tahu jika aku menangis. 

Brengsek nya kalian semua, tunggu saja balasan apa yang akan kubuat kepada kalian.

No comments:

Post a Comment